
Tidak terasa waktu berlalu dengan cepatnya dan sebentar lagi Bruno, Brian, Benediktus, Brigitha dan Briana menunggu untuk wisuda.
"Tidak terasa sebentar lagi Kita lulus kuliah." Ucap Brigitha.
"Iya Kak, tidak menyangka sebentar lagi Kita akan di wisuda." Ucap Briana.
"Bagaimana kalau Kita berlima merayakan kelulusan Kita di cafe?" Tanya Brigitha memberikan usulan.
"Ide yang bagus Kak, bagaimana dengan Kak Bruno, Kak Brian dan Kak Benediktus?" tanya Briana.
"Ok." Jawab Bruno, Brian dan Benediktus singkat dan bersamà an.
Mereka berlima pergi ke cafe dengan menggunakan satu mobil hingga dua puluh menit kemudian mereka sudah sampai di cafe.
Mereka duduk paling pojok kemudian memesan cemilan dan minuman. Sambil menunggu mereka mengobrol hingga terdengar suara di mana seorang pria meminta salah satu pengunjung untuk menyumbang lagu di panggung.
"Aku ingin menyumbang beberapa lagu." Ucap Brigitha.
"Aku juga." Sambung Briana.
"Silahkan saja dan Kakak akan menunggu kalian berdua di sini." Ucap Bruno.
"Aku juga." sambung Brian dan Benediktus bersamaan.
"Ok." Jawab Brigitha dan Briana bersamaan.
Mereka berdua berjalan ke arah panggung kemudian berbicara dengan MC kalau mereka berdua ingin menyumbang beberapa lagu untuk para pengunjung cafe.
__ADS_1
Brigitha dan Briana mulai bernyanyi, kadang sendiri dan terkadang berdua. Entah kenapa ketika di lagu ke empat sekaligus lagu terakhir Brigitha merasa hatinya tidak tenang dan ingin rasanya menengok ke atas.
Karena penasaran Brigitha mendongakkan kepalanya dan ternyata memang benar lampu yang sangat besar berayun - ayun seperti mau putus.
Bruk
"Akhhhhhhhhhhh!" teriak Briana kesakitan ketika tubuhnya jatuh tengkurap.
Brigitha langsung mendorong tubuh Briana dengan sangat keras hal itu membuat Briana yang belum siap otomatis terjatuh agak jauh.
Briana ingin mengomeli Kakak kesayangannya begitu pula dengan ke tiga Kakak kembarnya tapi matanya langsung membulat seketika.
Brukh
"Akhhhhhhhhhhh!" teriak Brigitha kesakitan ketika tubuhnya jatuh tengkurap.
Lampu yang sangat besar jatuh dan tepat mengenai tubuh Brigitha membuat tubuh Brigitha langsung mengeluarkan darah segar. Brigitha langsung tidak sadarkan diri seketika.
Bruno, Brian, Benediktus, Brigitha dan Briana
Bruno menggendong Brigitha berjalan ke arah parkiran mobil sedangkan Brian, Benediktus dan Briana mengikuti langkah Bruno.
Hingga mereka sampai di dalam mobil Brian masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi pengemudi sedangkan Benekditus membuka pintu belakang pengemudi dengan lebar agar Bruno masuk ke dalam mobil di mana Briana duduk di kursi belakang pengemudi.
Bruno meletakkan perlahan tubuh Brigitha dengan kepalanya bersandar di kedua paha Briana. Setelah selesai Bruno duduk di belakang kursi pengemudi dan menjadikan ke dua pahanya dijadikan sandaran ke dua kaki Brigitha.
Benediktus menutup pintu dengan rapat kemudian memutari mobilnya dan masuk ke dalam mobil untuk duduk di kursi samping pengemudi.
__ADS_1
"Benediktus hubungi pemilik rumah sakit agar menyiapkan semua peralatan yang diperlukan untuk Brigitha!" perintah Brian sambil mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.
"Baik Kak." Jawab Benediktus sambil mengeluarkan ponselnya.
"Kakak akan hubungi Daddy." Ucap Bruno sambil mengeluarkan ponselnya.
Brian hanya menganggukan kepalanya hingga dua belas menit kemudian mereka sudah sampai di rumah sakit di mana sudah menunggu perawat dan dokter karena kebetulan rumah sakit tersebut milik dokter Jimmy.
xxxxxxxxxx
Di tempat yang berbeda lebih tepatnya di perusahaan milik Alvonso di mana Alvonso sedang berada di perusahan miliknya. Alvonso sedang meeting bersama para karyawannya.
prang
Tiba-tiba Alvonso tanpa sengaja menyenggol cangkir yang berisi kopi miliknya. Semua para pegawainya otomatis menengok ke arah bosnya kemudian menundukkan kepalanya karena tidak berani menatap wajah bosnya.
Alvonso terkenal dengan bos arogant dan kejam, siapa saja yang menyinggung perasaannya maka akan berakhir dengan kematian.
Alvonso langsung menghentikan acara meating tersebut dan langsung keluar dari ruangan meeting tersebut.
Hal itu tentu saja membuat orang - orang yang berada itu menatap Alvonso dengan tatapan bingung. Michael orang kepercayaan Alvonso mengambil alih kendali meeting yang ditinggalkan oleh bosnya sekaligus saudara sepupunya.
Jantung Alvonso berdebar sangat kencang dan terasa sangat nyeri terlebih perasaannya tidak enak membuat Alvonso bingung.
Alvonso masuk ke dalam ruangan pribadinya dan terkejut melihat foto Brigitha yang berada di meja terjatuh. Alvonso segera mengambil foto Brigitha dan membuang kaca yang retak yang menempel di foto Alvina di tempat sampah.
Alvonso duduk di kursi kebesararannya sambil menatap foto Brigitha yang sudah tidak ada framenya.
__ADS_1
"Ada apa denganmu sayang? Kenapa fotomu jatuh? Aku harap kamu baik - baik saja mungkin hanya perasaanku saja yang tidak enak. Sudah empat tahun aku menantikanmu dan tidak ada yang bisa menggantikan posisimu di hatiku." ucap Alvonso dan tanpa sadar air matanya keluar.
Alvonso sangat merindukan Brigitha gadis cantik yang sudah menempati hatinya, gadis yang baik hati yang sudah dua kali menolong dirinya.