Cinta Pertama Mafia 1

Cinta Pertama Mafia 1
Semoga Kalian Dipertemukan Kembali


__ADS_3

Brigitha kini berada di ruang operasi di mana ada pecahan kaca yang menancap ke dalam tubuh Brigitha belum lagi luka lain. Sedangkan Briana di bawa ke ruang ugd untuk di obati dengan di temani Bruno.


Satu jam kemudian datang Daddy Alvaro, Mommy Felicia dan juga ke dua sahabatnya bersama pasangannya masing-masing.


Mommy Felicia memeluk Brigitha dari arah samping kanan. Mereka semua berharap operasinya berjalan lancar dan Brigitha segera sembuh dan berkumpul kembali bersama keluarga.


ceklek


Pintu terbuka tampak dokter keluar dari ruang operasi. Mommy Felicia, Daddy Alvaro, dokter Fransiska bersama suaminya Roberto, Feodora bersama suaminya dokter Jimmy berjalan ke arah dokter tersebut. Sedangkan ke empat anak kembar nya hanya menatap dokter sambil berharap saudara kembar nya baik-baik saja.


"Bagaimana keadaan putri Kami, Dok?" tanya Daddy Alvaro dengan wajah kuatir begitu pula dengan yang lainnya.


"Operasi berjalan lancar tapi..." ucap dokter tersebut dengan menggantungkan kalimatnya.


"Tapi kenapa, Dok?" tanya Daddy Alvaro dan Momny Felicia bersamaan dengan waja masih kuatir.


"Nona Brigitha koma, jadi Saya minta sering - seringlah bicara dengannya agar Nona Brigitha segera sadar." ucap dokter tersebut.


Mereka sangat sedih mendengarnya, Mommy Felicia menangis sedih seandainya saja dirinya bisa menggantikan posisinya.


"Seandainya Kak Brigitha tidak menolongku, Kak Brigitha pasti sekarang bersama kita, seharusnya aku yang terkena ." ucap Briana dengan wajah sendu.


"Tidak Briana, jangan bicara seperti itu lagi. Sungguh Mommy tidak sanggup melihat orang - orang yang mommy cintai terluka." ucap mommy Felicia dengan wajah sendu.


"Mommy, Feodora, Fransiska, Bruno, Brian, Benediktus dan Briana." Panggil Daddy Alvaro.


"Ya." Jawab mereka bersamaan.


"Kalian pulanglah biar Daddy, paman Roberto dan Paman Jimmy yang menjaga Brigitha." ucap Daddy Alvaro.


"Tapi sayang..." ucapan Mommy Felicia terpotong oleh Daddy Alvaro.


"Kalian cape pulanglah, nanti sore kalian bisa ke sini." pinta Daddy Alvaro.


"Baik." Jawab mereka serempak tanpa berani membantah.

__ADS_1


Mereka pulang ke mansion milik Daddy Alvaro sedangkan Daddy Alvaro, Roberto dan Jimmy menunggu Brigitha.


Setelah beberapa saat menunggu Roberto meminta ijin untuk membeli makanan dan minuman di kantin rumah sakit untuk mereka.


xxxx


Di negara berbeda lebih tepatnya di perusahaan milik Alvonso, Alvonso melanjutkan pekerjaannya tapi hati dan pikirannya selalu mengarah ke Brigitha membuatnya tidak berkonsentrasi.


Hal itu membuat Alvonso langsung pulang ke apartemen untuk beristirahat. Sampai di apartemen Alvonso membersihkan diri dan langsung tertidur karena badannya sangat letih.


"Kak Alvonso." panggil Brigitha sambil duduk di sisi ranjang.


Alvonso yang namanya di panggil langsung membuka matanya dan melihat gadis yang sangat dirindukan.


Alvonso langsung terbangun dari tidurnya dan memeluk Brigitha kemudian seluruh wajah Brigitha diciuminya.


"Sayang aku kangen." ucap Alvonso sambil tersenyum bahagia.


" Aku juga kangen sama Kak Alvonso, Kok Kak Alvonso kurusan makan yang banyak ya? Biar tambah ganteng." ucap Brigitha sambil membalas pelukan Alvonso.


"Maafkan aku ya Kak." ucap Brigitha sambil tersenyum.


"Tidak apa - apa yang penting kamu kabarin, kemanapun kamu mau pergi." ucap Alvonso.


Setelah beberapa saat Alvonso melepaskan pelukannya begitu pula dengan Brigitha dan menatap wajah cantik Brigitha, gadis yang sangat dirindukannya. Alvonso mendekatkan wajahnya ke wajah Brigitha membuat Brigitha memejamkan matanya.


cup


Alvonso mengecupnya kemudian meluma*nya semakin lama semakin dalam kemudian turun ke bawah leher. Entah bagaimana kini tubuh mereka sudah polos tanpa sehelai benangpun.


"Sayang, Kakak sudah tidak tahan bolehkah?" tanya Alvonso dengan suara berat.


Brigitha hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum sedangkan Alvonso yang mendapatkan lampu hijau memasukkan wortel importnya ke goa paling terdalam milik Brigitha.


ting tong tong tong

__ADS_1


Alvonso membuka matanya dan terkejut mendengar suara bel apartemennya dan lebih terkejut lagi karena posisi Alvonso berada di atas sedangkan di bawahnya ternyata guling sambil dicium.


"Si*l ternyata cuman mimpi, tapi kenapa seperti nyata? Adik kecil ku juga kenapa ikutan bangun?" tanya Alvonso dengan nada kesal.


"Siapa sih sore - sore gini memencet bel." omel Alvonso sambil berusaha menidurkan wortel import kebanggaannya.


ting tong tong tong


Suara bel berbunyi lagi membuat Alvonso merapihkan pakaiannya dan turun ke bawah untuk membuka pintu apartemennya.


ceklek


Alvonso membuka pintu tampak asisten sekaligus sepupunya berdiri di hadapan Alvonso. Alvonso memintanya masuk dan duduk di ruang keluarga.


"Ada apa?" tanya Alvonso tanpa basa basi.


"Kak, ini ada berkas yang belum ditanda tangani tadi aku ke ruangan kakak tidak ada makanya Aku ke apartemen milik Kakak." ucap Michael menjelang.


"Iya aku tadi langsung pulang, kepalaku pusing." ucap Alvonso.


"Pusing mikirin gadis itu?" tanya Michael yang bisa menebak kenapa kepala Alvonso pusing.


"Iya, sudah empat tahun tapi sampai sekarang belum bertemu. Aku tidak tahu bagaimana kabarnya sekarang." ucap Alvonso dengan nada frustrasi sambil mengusap wajahnya yang kasar.


"Mungkin sudah punya pacar kali." celetuk Michael.


Alvonso hanya menatap tajam ke arah Michael dan Michael hanya tersenyum devil.


"Sudahlah Kak, lupakan gadis itu. Masih banyak gadis yang antri secarakan kakak ganteng dan kaya raya." ucap Michael.


"Tidak bisa bro, hanya ada Brigitha dihatiku." ucap Alvonso.


" Berdoa sajalah semoga kalian dipertemukan kembali, aku balik dulu ya, bye." pamit Michael sambil berdiri dan keluar dari apartemen milik Alvonso.


"Ok. bye, hati - hati." ucap Alvonso.

__ADS_1


__ADS_2