
"Aku hanya ingin tahu, apakah karena obat racun itu atau sebab lain dan di rumah sakit mana." Ucap Brigitha menjelaskan.
Alvonso pun memberitahukan waktu meninggalnya Papanya Alvonso dan nama rumah sakit dimana papanya di rawat.
Brigitha pun meretas cctv yang berada di rumah sakit sambil memberikan suara jika ada pembicaraan.
xxxx Rekaman CCTV ON xxxx
Ruang ICU tampak sepi hanya Papanya Alvonso yang tidur di ranjang dengan tubuh penuh selang dan alat bantu pernafasan.
ceklek
Tampak dua orang datang menggunakan pakaian seragam dokter dan perawat. Mereka berdua memakai masker kemudian mendekati ranjang Papanya Alvonso.
Tampak Papanya Alvonso tersadar dari komanya dan menatap ke arah mereka berdua.
"Haus.." ucap Papanya Alvonso sambil melepaskan alat bantu pernafasan di mulutnya.
"Apa kabar suamiku?" Tanya perawat tersebut sambil membuka maskernya tanpa menjawab ucapan Papanya Alvonso.
"Kau ..." ucap Papanya Alvonso dengan wajah terkejut.
"Apa kabar suamiku? Aku adalah istri kesayanganmu Valen dan ini perkenalkan calon suamiku yang terbaru." ucap mama Valen sambil memperkenalkan kekasihnya siapa lagi kalau bukan Moko.
"Halllo tuan Besar." Sapa Moko yang memakai pakaian dokter sambil membuka maskernya.
"Kalian berdua kurang ajar! Aku sudah berbuat baik dengan kalian tapi dengan teganya menyakiti perasaanku. Apa salahku sama kalian?" tanya Papanya Alvonso dengan wajah penuh kecewa.
"Calon istriku sudah bosan melayanimu pak tua apalagi tidak mendapat warisan sedikitpun sedangkan Aku? Aku merasa bosan menjadi asistenmu, Aku ingin menjadi CEO menggantikan dirimu dengan membunuh anak kesayanganmu itu yaitu A L V O N S O." ucap Moko dengan mengeja huruf Alvonso sambil tersenyum devil.
"Kalian jangan menyakiti anakku Alvonso, kalian boleh menyakitiku sepuas kalian tapi tidak dengan anak kesayanganku Alvonso." pinta Papanya Alvonso dengan mata berkaca-kaca sambil ke dua tangannya disatukan.
Awalnya Papanya Alvonso sangat marah karena Istri dan orang kepercayaannya mengkhianati dirinya namun ketika mengetahui putra kesayangannya akan di bunuh membuat kemarahan Papanya Alvonso berubah menjadi sebuah permohonan.
"Maaf Pak tua, Kami berdua sudah sepakat ingin membunuh kalian berdua. Agar kami bisa menikmati harta kalian." ucap Mama Valen dengan nada kejam sambil tersenyum licik.
__ADS_1
"Kalian benar - benar iblis." ucap Papanya Alvonso sambil nafasnya tersengal - sengal dan memegang dadanya dengan ke dua tangannya.
Mereka berdua hanya tersenyum menyeringai tanpa menjawabnya. Kemudian mama Valen menarik bantal yang berada di kepala suaminya lalu menutupi wajah Papanya Alvonso dengan menggunakan bantal. Papanya Alvonso memberontak tapi ke dua tangannya di tahan oleh ke dua tangan milik Moko.
Papanya Alvonso yang tidak bisa bernafas membuat Papanya Alvonso kejang - kejang dan tidak beberapa lama kemudian tidak ada perlawanan sama sekali bersamaan bunyi ....
tutttttttttttt
Mama Valen mengangkat bantalnya setelah terdengar suara detak jantung suaminya di mesinnya berbunyi dengan nyaring dan menatap suaminya yang sudah mati dengan senyum kebahagiaan.
"Akhirnya kamu mati juga pak tua." ucap Mama Valen tersenyum bahagia tanpa merasa bersalah sedikitpun.
Mama Valen menaruh bantalnya kembali di kepala papanya Alvonso kemudian memasangkan alat bantu pernapasan di mulut suaminya.
Menutup mata suaminya yang melotot agar tidak ketahuan. Setelah selesai mereka berdua memasang masker dan keluar dari ruangan icu tersebut.
xxxx Rekaman CCTV OFF xxxx
Brigitha menghentikan rekaman cctv dan menatap Alvonso yang nafasnya mulai memburu menahan amarah dan rasa sesak dihatinya secara bersamaan.
"Menangislah dan jangan di tahan agar rasa sesak di hati Kak Alvonso berkurang." ucap Brigitha dengan lembut.
"Hiks... hiks... Aku tidak menyangka di akhir sisa hidup Papa. Papa berpesan kepada mereka untuk tidak menyakitiku." ucap Alvonso sambil terisak.
Brigitha hanya diam sambil mengusap punggung Alvonso, setelah mulai agak tenang Brigitha pun melepaskan pelukannya dan menatap wajah tampan Alvonso kemudian menghapus air mata Alvonso dengan ke dua ibu jarinya.
Alvonso merasa tersentuh atas perlakuan Brigitha dan mengecup kening Brigitha dengan lembut.
"Terima kasih, karenamu kini Aku sudah tahu siapa pembunuh papaku." ucap Alvonso sambil menyandarkan kepalanya di bahu Brigitha.
"Sesama manusia harus saling tolong menolong seperti yang diucapkan Mommyku." ucap Brigitha.
"Mommymu sangat baik ya." puji Alvonso.
"Ya sangat baik, jika Daddy dan anak - anaknya sedih maka Mommy selalu menghibur dan memberi solusi." ucap Brigitha tersenyum mengingat betapa perhatiannya Mommy Felicia.
__ADS_1
"Sungguh beruntung kamu mempunyai Mommy yang sangat perduli." ucap Alvonso sambil tersenyum namun terlihat jelas kesedihan di matanya.
"Bukannya semua Mommy seperti itu?" tanya Brigitha dengan wajah bingung.
Brigitha tidak tahu sifat Ibunya Alvonso karena saat itu dirinya pergi ke toilet.
"Tidak, Mama kandungku sangat sibuk dengan teman - teman sosialitanya dan tidak ada waktu untuk keluarga. Kalau di rumah kerjaannya hanya mengomel dan menuntut agar Aku selalu juara pertama di sekolah tanpa memperdulikan bagaimana sekolahku. " ucap Alvonso sambil tersenyum hambar.
"Mama Kak Alvonso sudah meninggal biarkan Beliau tenang di alam sana. Lebih baik Kita doakan dan melupakan masa lalu." ucap Brigitha dengan kata bijaknya.
"Sekali lagi terima kasih." ucap Alvonso sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Brigitha.
'Aku ingin menciummu tidak lebih, bolehkah?' tanya Alvonso berbisik kemudian menatap wajah cantik Brigitha.
Brigitha yang tidak tega melihat kesedihan Alvonso membuat Brigitha menganggukkan kepalanya dan kemudian memejamkan matanya. Alvonso yang mendapatkan lampu hijau tidak menyia - nyiakan kesempatan itu.
cup
Alvonso mengecupnya kemudian ********** dan tanpa sadar tangan kanan Alvonso memegang satu buah gunung kembar milik Brigitha.
Brigitha terkejut langsung memegang tangan Alvonso dan menjauhkan tangan Alvonso dari gunung kembarnya dan tangan satunya mendorong tubuh Alvonso.
"Kak Alvonso, Aku mohon jangan lakukan ini padaku." pinta Brigitha sambil air matanya jatuh.
Grep
"Maafkan aku, sungguh Aku sangat mencintaimu. Memang ini terlalu cepat tapi sungguh Aku sangat mencintaimu dan berjanjilah padaku untuk tidak meninggalkan diriku." pinta Alvonso dengan tatapan sendu.
"Baiklah tapi Aku mohon jangan lakukan itu lagi karena kita masih muda dan jangka kita masih panjang." ucap Brigitha.
"Ya, aku tahu. Sekali lagi maafkan aku. Aku janji tidak akan melakukannya" ucap Alvonso dengan wajah sendu.
Sungguh dihatinya sangat takut jika Brigitha pergi meninggalkan dirinya. Brigitha yang melihat ketulusan di mata Alvonso membuatnya luluh.
"Baik Aku maafkan, untuk sementara kita berteman kalau jodoh tidak akan ke mana." ucap Brigitha sambil menghapus air mata Alvonso dengan ke dua ibu jarinya.
__ADS_1
"Terima kasih, Kamu memang gadis yang sangat baik." ucap Alvonso.