
"Kak Alvonso." Panggil Brigitha dengan nada lirih.
Bruk
Grep
Brigitha merasakan tubuhnya seperti tidak bertulang membuat tubuh Brigitha ambruk. Hal itu dikarenakan kepalanya masih terasa pusing.
Beruntung sebelum terjatuh Alvonso menahan tubuh Brigitha dengan posisi mereka saling berpelukan.
deg
deg
deg
Alvonso dan Brigitha saling memandang bersamaan jantung mereka berdetak dengan kencang. Alvonso memandang bibir Brigitha membuatnya memajukan wajahnya ke wajah Brigitha.
Brigitha yang tahu kalau Alvonso akan menciumnya berusaha mendorong tubuh Alvonso tapi Alvonso memeluknya dengan erat menggunakan tangan kirinya dan tangan kanannya menahan tengkuk leher Brigitha kemudian mengecup bibir Brigitha sambil Alvonso memejamkan matanya untuk menikmati bibir Brigitha yang terasa manis.
Alvonso melu***t bibir Brigitha semakin lama Alvonso merasakan bibirnya mulai terasa asin. Alvonso membuka matanya tampak Brigitha mengeluarkan airmata sambil menatap Alvonso dengan tatapan sendu. Alvonso pun melepaskan ciumannya dan mendudukkan Brigitha di ranjang.
"Kenapa kamu menangis?" tanya Alvonso dengan wajah bingung.
__ADS_1
"Aku sangat kecewa padamu, Kak. Kenapa Kak Alvonso menciumku? Itu ciuman pertama yang telah Kak Alvonso ambil. Selama ini aku tidak pernah menyakiti hati Kak Alvonso tapi kenapa sekarang Kak Alvonso menyakiti perasaanku?" tanya Brigitha dengan wajah penuh kecewa dan air matanya tidak berhenti menangis.
"Maafkan aku, aku terbawa suasana." ucap Alvonso sambil menggenggam tangan Brigitha sambil mengecupnya.
Brigitha berusaha melepaskan genggaman tangan Alvonso tapi tenaga Alvonso lebih kuat darinya.
"Kita bukan pasangan kekasih, kenapa Kak Alvonso menciumku? Maaf lebih aku pergi." ucap Brigitha.
Selesai mengatakan hal itu Brigitha berdiri dan berjalan dengan langkah perlahan. Alvonso yang melihat Brigitha ingin pergi membuat Alvonso ikut berdiri.
greb
Alvonso memeluk Brigitha dari arah belakang, Brigitha berusaha melepaskan pelukan Alvonso tapi tenaga Alvonso sangat kuat dan mengunci tubuh Brigitha agar tidak bergerak dan melawannya karena Alvonso tahu Brigitha bisa ilmu bela diri.
"Maafkan aku, untuk pertama kali melihatmu aku sudah jatuh cinta padamu dan jujur baru kali ini aku merasakan getaran jika aku berdekatan denganmu." ucap Alvonso dengan nada tulus.
"Aku masih kuliah dan umurku juga masih muda, apa kata orangtuaku nanti jika Kita menikah." ucap Brigitha menjelaskan.
"Aku tahu begitu pula denganku yang juga masih kuliah tapi maukah kamu berjanji padaku untuk menjaga hatimu untukku." pinta Alvonso.
"Aku belum tahu karena saat ini yang Aku pikirkan lulus kuliah dan bekerja karena Aku ingin menggapai cita-citaku. Selain itu saat ini aku belum ada pikiran untuk pacaran." ucap Brigitha dengan jujur.
"Baiklah tapi yang pasti aku akan selalu menunggumu hingga kamu siap." ucap Alvonso.
__ADS_1
"Untuk sekarang ini maukah kita berteman." pinta Alvonso sambil melepaskan pelukannya.
"Aku mau saja tapi dengan syarat tidak ada ciuman." pinta Brigitha.
"Kenapa?" tanya Alvonso yang sudah kecanduan dengan bibir Brigitha.
"Namanya teman itu tidak ada namanya ciuman kalau tidak mau ya sudah." jawab Brigitha dengan nada tegas.
"Ok, baiklah aku akan berusaha untuk menahannya dan sekarang kita adalah teman." ucap Alvonso sambil mengulurkan tangannya.
"Baik teman." balas Brigitha sambil membalas uluran tangan Alvonso.
"Kalau boleh tahu kenapa dua kali kamu menolongku? Pertama dari siraman air panas dan ke dua ketika aku ingin di tembak tapi tubuhmu dijadikan tamengku. Kenapa kamu mau menjadi tamengku?" tanya Alvonso penasaran.
"Aku tidak bisa melihat orang lain terluka." Jawab Brigitha jujur.
"Kirain dirimu juga mencintaiku makanya bersedia menjadi tameng." gerutu Alvonso.
"Ppfffff... Sstttttt..." Brigitha tertawa namun tiba-tiba meringis.
"Mana yang sakit?" Tanya Alvonso dengan wajah kuatir.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
__ADS_1
Sambil menunggu Up silahkan mampir ke karya temanku dengan judul :