
Dokter dan perawat melarang mereka masuk tapi Daddy Alvaro dan ke empat anak kembarnya tetap memaksanya dan masuk ke dalam dimana Brigitha sedang di rawat.
Tampak Brigitha sudah membuka matanya dan menatap sekelilingnya sambil membuka penutup mulut yang merupakan alat bantu pernapasan.
"Brigitha." panggil Daddy Alvaro dan ke empat saudara kembar nya bersamaan.
Wajah mereka sangat bahagia karena Brigitha sudah sadar dan perasaan mereka yang tadi ketakutan kini menjadi lega.
"Daddy, Kak Bruno, Kak Brian, Kak Benediktus dan Briana. Aku di mana?" tanya Brigitha dengan wajah bingung.
"Kamu / Kak Brigitha berada di rumah sakit." Jawab mereka serempak.
"Kenapa Aku berada di rumah sakit? Memangnya Aku sakit apa?" Tanya Brigitha dengan wajah bingung sambil memegangi kepalanya yang tiba-tiba pusing.
"Bukankah waktu itu kepala mu tertimpa lampu gantung?" Tanya Daddy Alvaro dengan wajah bingung begitu pulang dengan yang lainnya.
Ketika Brigitha ingin bicara tiba-tiba dokter dan perawat meminta mereka keluar dari ruangan icu. Daddy Alvaro dan ke empat anak kembarnya akhirnya keluar dan menunggu di luar.
Daddy Alvaro menghubungi istrinya yang bernama Mommy Felicia yang bersama ke tiga anak kembar mereka di mana Mommy Felicia dan ke tiga anak kembarnya berada di mansion.
Daddy Alvaro memberitahukan kalau Brigitha sudah sadar dari koma nya. Hingga satu jam kemudian mereka sudah datang, hatinya bahagia karena Brigitha sudah sadar.
__ADS_1
Ceklek
Pintu terbuka tampak dokter keluar, Daddy Alvaro dan ke empat anak kembar nya berdiri mendekati dokter yang merawat Brigitha.
"Bagaimana keadaan putri kami dok?" tanya Daddy Alvaro
"Putri tuan sudah sadar dan akan kami pindahkan ke ruangan vvip." Jawab dokter tersebut.
"Kami berencana nanti malam Brigitha akan kami pindahkan ke mansion milik keluarga besar Kami di mana semua yang dibutuhkan putri Kami sudah siap. Apakah bisa?" tanya Daddy Alvaro.
"Oh ya bisa, silahkan." Jawab dokter tersebut.
Briana tahu kalau Daddy Alvaro tidak akan mengucapkan kata terima kasih karena itulah dirinya berinisiatif untuk mengatakannya.
"Sama - sama Nona dan sudah menjadi tanggung jawab Kami." jawab dokter tersebut.
"Kalau begitu saya pamit ingin mengecek pasien lainnya." Pamit dokter tersebut.
Mereka hanya menganggukan kepalanya dan tidak berapa lama ruangan icu terbuka dengan lebar dan dua perawat mendorong brangkar di mana Brigitha berbaring.
"Kalian temani Brigitha karena Daddy ingin menunggu Mommy kalian." Ucap Daddy Alvaro.
__ADS_1
"Baik Dad." Jawab ke empat anak kembarnya bersamaan.
Selesai mengatakan hal itu ke empat anak kembar nya berjalan ke arah ruang perawatan vvip sedangkan Daddy Alvaro menunggu istri dan ke tiga anak kembarnya.
"Hallo tampan." Panggil seorang wanita cantik dan seksi sambil berjalan ke arah Daddy Alvaro dengan melenggak lenggok pinggulnya yang bak gitar spanyol.
Daddy Alvaro hanya diam dan tidak menjawab ucapan wanita cantik tersebut hingga akhirnya wanita cantik tersebut duduk di sebelahnya.
"Perkenalkan namaku Valen, nama Tuan siapa?" Tanya Valen sambil mengulurkan tangannya ke arah Daddy Alvaro.
"Apakah tanganmu mau Aku potong?" Tanya Daddy Alvaro dengan nada dingin dan berwajah datar.
"Tanganku di potong? Apakah Tuan bercanda?" Tanya Valen.
"Tidak, sekali lagi bicara maka bersiap - siap saja kalau pulangnya tangannya sudah tidak ada." Jawab Daddy Alvaro dengan nada masih dingin dan berwajah datar.
Deg
Jantung Valen langsung berdetak kencang hingga wajahnya pucat pasi ketika mendengar ucapan Daddy Alvaro.
'Lebih baik Aku pergi dari sini karena Aku masih sayang dengan nyawaku.' Ucap Valen dalam hati sambil berdiri dan berjalan meninggalkan Daddy Alvaro sendirian.
__ADS_1