
Selesai melakukan kegiatan panas merekapun tidur bersama saling berpelukan. Papanya Alvonso bahagia mendapatkan calon istri baru, masih muda, seksi dan tidak cerewet terlebih sayang dengan anaknya. Jarak umur mereka terpaut sangat jauh yaitu dua puluh tahun Papanya Alvonso berumur empat puluh lima tahun dan kekasihnya dua puluh lima tahun.
Alvonso yang bosan di kamar keluar dari mansion untuk menyegarkan mata. Mengendarai motor sport dengan kecepatan sedang. Mata Alvonso tertuju tempat khusus belajar karate, Alvonsopun menghentikan motor sportnya dan masuk ke dalam untuk bertanya - tanya.
Selesai memakirkan motor sportnya Alvonso masuk ke dalam, Alvonso sangat tertarik melihat mereka bisa bela diri, pikiran Alvonso tertuju pada Alvonso untuk bisa mengalahkannya karena tadi pagi dia kalah telak sampai wajahnya lebam - lebam.
Alvonso tanpa berpikir panjang mendaftar karate. Alvonso mengambil kursus setiap hari tidak perduli dengan harganya yang penting cepat lulus agar bisa ngelawan Bruno.
Alvonso mulai awal masuk kursus besok siang, Alvonso membayar mahal kursusnya karena seharusnya seminggu 3 kali tapi Alvonso mengambilnya setiap hari dan membeli lima stell pakaian karate. Selesai urusan Alvonso pulang ke mansion.
Sampai di mansion tampak bendera kuning di halaman mansion banyak orang datang memakai pakaian hitam - hitam.
Alvonso memarkirkan motornya di halamannya dan masuk ke dalam mansion tampak di ruang tamu banyak orang duduk bersila dan seseorang terbaring sambil ditutupi dengan selimut.
Alvonso mendekati dan duduk dihadapan orang yang terbaring di lantai. Dibukanya penutup kepalanya terlihat mamanya terbaring kaku.
Di sisi hatinya sedih kehilangan sosok ibunya yang selalu membela dirinya dari orang yang menyakitinya tapi di sisi lain Alvonso sangat membencinya karena mamanya jarang ada waktu bersamanya sibuk dengan dunianya sendiri.
Alvonso menangis meminta maaf karena menyetujui keinginan papanya menikah lagi.
'Tante, jika nanti tante ternyata membohongi papa dan aku, maka siap - siap saja Alvonso akan menyiksa tante dan membunuh tante tanpa ampun karena aku sudah merelakan mamaku mati. " ucap Alvonso dalam hati.
Setelah selesai menangis Alvonso masuk ke dalam kamarnya, sedangkan papanya Alvonso yang berada di situ mengerti karena anaknya Alvonso sedih mamanya mati akibat ulah dirinya dan berharap nanti mama barunya lebih baik dari istri yang di bunuhnya.
Selesai pemakaman Alvonso dan Papanya Alvonso makan bersama dalam diam ada rasa sepi walau mamanya jarang berada di rumahnya, mamanya selalu ngomel yang bikin telinga sakit tapi ternyata ada kerinduan dengan omelan mamanya.
xxxx
Siang hari Alvonso terbangun dan mandi untuk berangkat kursus karate. Alvonso sengaja tidak memberitahukan kalau Alvonso latihan karate kepada papanya.
Selesai mandi Alvonso turun ke lantai satu untuk makan sarapan yang terlambat. Selesai makan Alvonso langsung berangkat ke tempat kursus karate.
Alvonso dengan semangat latihan karate walau awalnya badannya pada pegal - pegal tidak mengurangi semangatnya.
Tidak terasa 3 jam latihan Alvonso langsung pulang ke mansion. Sampai di mansion di ruang keluarga tampak Papanya Alvonso dan tante yang waktu itu sedang bermesraan.
__ADS_1
Mereka melepaskan pelukan dan ciu**an dan tersenyum kikuk, ada rasa kesal di hati Alvonso baru juga kemarin mamanya mati malah mereka asyik bermesraan.
"Alvonso sayang, ayo duduk papa dan tante mau bicara." pinta Papanya Alvonso.
Alvonso menuruti permintaan papanya kemudian Alvonso duduk dihadapan mereka.
"Alvonso, besok papa dan tante Valen akan menikah, kamu setujukan sayang?" tanya Papanya Alvonso.
"Terserah papa saja, Alvonso nurut." jawab Alvonso.
Tidak berapa lama datang kepala pelayan menghampiri mereka bertiga.
"Maaf tuan besar, nona muda dan tuan muda ada pengacara datang." ucap kepala pelayan.
"Pengacara? suruh masuk." pinta Papanya Alvonso.
"Baik tuan." ucap kepala pelayan.
Kepala pelayan itupun pergi meninggalkan mereka setelah agak lama kepala pelayan itupun datang bersama seorang pengacara.
Mereka bertiga berdiri dan bersalaman setelah itu mempersilahkan duduk. Kepala pelayan itupun pergi meninggalkan mereka.
"Ada yang bisa kami bantu pak?" tanya Papanya Alvonso.
"Pertama - tama sebelumnya saya mengucapkan turut berduka cita atas kematian mendiang istri tuan. Yang ke dua saya memberitahukan bahwa semua aset perusahan, properti berupa mansion, apartemen, restoran, hotel dan semua perhiasan milik nyonya Kelly jatuh pada tuan muda Alvonso, apakah tuan merasa keberatan?" tanya pengacara tersebut.
"Aku sama sekali tidak keberatan karena memang putraku Alvonso berhak mendapatkan semuanya." Jawab Papanya Alvonso.
"Baik, kalau begitu semua aset perusahan, properti berupa mansion, apartemen, restoran, hotel dan semua perhiasan milik nyonya Kelly akan bisa digunakan oleh tuan muda Alvonso pada saat tuan muda Alvonso berumur 17 tahun, jadi untuk sementara tuan besar yang akan di beri kuasa untuk mengurus semuanya sampai tuan muda berumur 17 tahun." ucap pengacara tersebut.
"Baik, saya mengerti." ucap Papanya Alvonso.
"Kalau begitu silahkan tanda tangani semua dokumen ini dan juga untuk tuan muda silahkan menandatanganinya." ucap pengacara.
Papanya Alvonso dan Alvonso menandatangani semua berkas dokumen tersebut. Setelah selesai semua berkas dokumen diserahkan oleh pengacara.
__ADS_1
Selesai urusan pengacara mengundurkan diri dan pergi dari mansion.
"Alvonso, setelah kamu berumur 17 tahun semuanya akan menjadi milikmu jadi bisakah besok kamu pulang sekolah langsung ke kantor untuk belajar bisnis sama papa?" tanya Papanya Alvonso.
"Bisa pa, tapi apakah besok Alvonso kuliah? kan Alvonso dikenakan sangsi 3 hari tidak boleh kuliah." ucap Alvonso.
" Kamu sudah papa masukkan kampus baru di Kampus PELITA KASIH BUNDA. Papa harap kamu lebih serius dalam belajar agar kamu jadi orang sukses." pinta Papanya.
"Baik pa, Alvonso akan menuruti permintaan papa dan sekarang Alvonso mau istirahat dulu." ucap Alvonso.
"Baik sayang, istirahatlah." jawab Papanya Alvonso.
Alvonso pun pergi meninggalkan mereka berdua, Alvonso menaiki anak tangga namun baru saja pertengahan anak tangga Alvonso ingin meminum juice alpukat. Alvonso pun membalikkan badannya dan menuruni anak tangga lagi.
Baru saja sampai di anak tangga terakhir, Alvonso tanpa sengaja mendengar percakapan mereka dan Alvonsopun iseng mendengarkan percakapan mereka.
"Sayang, kok kamu setuju semua aset atas nama Alvonso?" Tanya tante Valen dengan nada protes.
"Kan semua aset milik mamanya Alvonso jadi yang berhak ya anak kandungnya yaitu Alvonso." Jawab Papanya Alvonso.
"Terus kita tinggal dimana sayang?" tanya tante Valen sambil menahan amarahnya.
"Kita tinggal di sini saja karena tidak mungkin jika Alvonso mengusir kita. Apalagi aku sangat sayang dengan putraku Alvonso." jawab Papanya Alvonso.
" Kalau misalnya aku hamil dan anak kita sudah besar masa tidak dapat apa - apa sih?" protes tante Valen lagi.
"Alvonso anak baik dan pasti akan memberikan anak perusahaan buat adik tirinya." ucap Papanya Alvonso berusaha untuk bersabar.
Tante Valen diam saja hatinya sangat kecewa tidak sesuai apa yang direncanakannya.
"Kamu sebenarnya mencintaiku dan menyayangi putraku Alvonso atau mencintai harta anakku?" tanya Papanya Alvonso dengan nada curiga.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Sambil menunggu Up silahkan mampir ke karya temanku dengan judul :
__ADS_1