
Mommy Felicia kini berada di ruang ugd menunggu ke dua anak kesayangannya Brian dan Brigitha. Tidak berapa lama muncullah Daddy Alvaro, ke enam anak kembarnya di susul Feodora dan dokter Jimmy dilanjutkan Dokter Fransiska dan Roberto.
"Buat kalian semua terima kasih atas bantuannya." ucap Mommy Felicia dengan nada tulus.
"Fel, walau kita berbeda orang tua tapi kita ini adalah satu keluarga. Jadi hidup susah dan senang kita jalani bersama." ucap Feodora.
"Betul kata Feodora, kita ini satu keluarga jadi jika salah satu dari kita mengalami kesulitan kita saling membantu dan kita harap kelak anak - anak kita sudah besar nanti melakukan apa yang kita lakukan." Sambung dokter Fransiska.
Mommy Felicia berdiri dan memeluk ke dua sahabat baiknya yang selalu membantunya. Mommy Felicia sangat bersyukur mempunyai sahabat baik seperti mereka. Feodora dan dokter Fransiska membalas pelukan Mommy Felicia.
"Oh iya Fel, maaf kami pulang ya." Pamit dokter Fransiska.
"Oke, hati-hati dijalan dan kapan - kapan aku main ke rumahmu." ucap Mommy Felicia sambil tersenyum.
"Makasih ya Fel, aku tunggu kedatanganmu dan keluarga besar mu. Semuanya kami pamit pulang." Pamit dokter Fransiska sambil tersenyum.
"Hati - hati." jawab mereka serempak.
"Fel, kami juga pulang ya. " Pamit Feodora
"Oke, tapi kamu tidak apa - apakan Feo? Tadikan kamu ikut berantem? Kandunganmu bagaimana?" tanya Felicia dengan wajah kuatir.
"Kandunganku baik - baik saja, kuat seperti Maminya." Jawab Feodora sambil tersenyum.
"Tapi kalian cek dulu deh kalau tidak apa - apa baru pulang mumpung masih di rumah sakit." pinta Mommy Felicia.
__ADS_1
"Oke deh, kami ke dokter kandungan dulu nanti kami ke sini lagi." ucap Feodora.
Feodora dan dokter Jimmy pamit dan berjalan menuju ke dokter kandungan tanpa mendaftar karena rumah sakit ini milik sahabatnya yang bernama Daddy Alvaro.
Ceklek
Pintu ruangan ugd terbuka tampak dua brangkar di dorong masing-masing oleh dua perawat menuju ke ruang rawat inap vvip milik Daddy Alvaro.
Kini Daddy Alvaro, Mommy Felicia dan ke enam anak kembarnya berada di ruang perawatan di mana Brian dan Brigitha berbaring di ranjang.
"Bagaimana Sayang? Apakah masih ada yang sakit?" tanya Mommy Felicia ke Brian dan Brigitha.
"Sudah mendingan Mom." jawab mereka berdua dengan serempak.
"Biar Daddy gendong." Jawab Daddy Alvaro.
Daddy Alvaro menggendong Brigitha ke toilet sedangkan Brigitha membawa kantong infus. Alvaro mendudukkan di closet kemudian ditutup pintu kamar mandi oleh Daddy Alvaro.
"Sayang kalau sudah selesai panggil Daddy ya?" ucap daddy Alvaro dari balik pintu toilet.
"Baik Dad." jawab Brigitha.
Selesai buang air kecil, badan Brigitha merasa gerah, kemudian membuka tiga kancing kemejanya bagian atasnya untuk dibasuh dengan air hangat di wastafel.
'Ini kok ada dua tanda merah di dua gunung kembarku, apa aku digigit nyamuk ya? Tapi kok gigitannya besar? Atau aku alergi makanan tapi sejak kapan? Mungkin kalau di kasih air hilang." ucap Brigitha dalam hati.
__ADS_1
Brigitha mencoba membersihkan dengan air tapi tidak hilang kemudian mencoba membersihkan dengan sabun cuci tangan tetapi tidak hilang juga.
tok tok tok tok
"Brigitha sayang kamu baik - baik sajakan?" tanya Daddy Alvaro dengan nada kuatir.
"Baik Dad." Jawab Brigitha.
"Tapi kenapa lama?" tanya Daddy Alvaro dengan nada bingung.
"Brigitha membasuh wajah Dad, biar segar." jawab Brigitha.
" Ok." jawab Daddy Alvaro singkat tanpa curiga sedikitpun.
Brigitha akhirnya mengancingkan kemejanya dan bersandar di wastafel karena di tunggu oleh Daddy Alvaro.
"Daddy sudah." Ucap Brigitha sambil masih berpikir dengan dua tanda merah pada dua gunung kembarnya.
ceklek
Daddy Alvaro membuka pintu toilet dan menggendong Brigitha ke arah ranjang. Sampai di ranjang Daddy Alvaro membaringkan Brigitha di ranjang dengan perlahan.
"Mumpung kalian semua ada di sini maka Daddy ingin mengatakan sesuatu ke Kalian." Ucap Daddy Alvaro dengan wajah serius.
"Apa itu Dad?" Tanya mereka bersamaan.
__ADS_1