
"Mommy." panggil Brigitha dengan nada lirih.
"Kamu sudah bangun sayang?" tanya Mommy Felicia.
" Iya mom, Brigitha terbangun mendengar orang mengobrol, siapa pria itu mom?" tanya Brigitha sambil menatap ke arah Alvonso yang sedang menatap dirinya.
"Aku Alvonso, apakah kamu tidak kenal aku?" tanya Alvonso.
Alvonso yang menjawab pertanyaan Brigitha sambil masih menatap wajah cantik Brigitha.
"Maaf Kak Alvonso aku tidak ingat, maaf aku panggil Kakak ya? soalnya tidak sopan kalau panggil nama." ucap Brigitha.
"Tidak apa - apa Kakak mengerti kok. Dulu kamu juga memanggilku Kakak juga." ucap Alvonso sambil tersenyum.
Kebahagiaan dan Kesedihan Alvonso, bahagia karena bisa bertemu dengan orang yang dicintainya sekaligus sedih secara bersamaan karena Brigitha tidak ingat dirinya.
"Kak Alvonso kapan datang?" tanya Brigitha.
"Baru saja." Jawab Alvonso.
"Nak Alvonso, Tante mau ke kantin, nak Alvonso mau nitip apa?" tanya Mommy Felicia.
"Tidak usah repot - repot tante." ucap Alvonso ramah.
" Tante tidak merasa repot kok." ucap Mommy Felicia.
ceklek
__ADS_1
Pintu terbuka semua orang menengok ke arah pintu yang di buka tampak seorang pria paruh baya datang namun terlihat masih tampan.
"Daddy." panggil Mommy Felicia dan Brigitha bersamaan.
"Hallo sayang. Siapa kamu?" tanya daddy Alvaro menatap tajam ke arah Alvonso.
Alvonso yang di tatap tajam membuat Alvonso menelan salivanya dengan kasar. Sungguh Alvonso sangat gugup menghadapi Daddy Alvaro padahal dirinya tidak pernah takut dengan siapapun.
"Saya Alvonso Om." ucap Alvonso dengan wajah takut dan gugup.
"Oh kamu Alvonso yang membuat putriku sampai pingsan dan membuat putriku masuk ke dalam ke rumah sakit." ucap Daddy Alvaro sambil berjalan menuju ke arah Alvonso.
Glek
Alvonso kembali menelan saliva nya dengan kasar membuat Alvonso keluar keringat dingin.
Daddy Alvaro hanya menatap tajam ke arah Alvonso membuat Alvonso yang di tatap tajam hanya menunduk takut.
"Nak Alvonso, kami mau ke kantin sebentar, bisa nitip anak kami Brigitha?" tanya mommy Felicia agar mereka bisa mengobrol bebas.
"Bisa tante." Jawab Alvonso.
"Tapi mom.." ucapan Daddy Alvaro terpotong oleh istrinya.
"Daddy, Mommy sangat lapar memang Daddy tega melihat Mommy kelaparan dan pingsan?" tanya Mommy Felicia.
"Aish.. ya sudahlah." Ucap Daddy Alvaro pasrah.
__ADS_1
''Ingat ya jangan macem - macem dengan putri kami. Kalau sampai macem - macem saya akan cari kamu sampai ke ujung dunia dan Aku akan ..." ucap Daddy Alvaro menggantungkan kalimatnya sambil mengangkat jari telunjuk dan diarahkan ke arah lehernya yang artinya akan dipotong lehernya pakai pisau.
"Baik om dan tante, Alvonso janji tidak akan macam - macam dengan Brigitha." ucap Alvonso gugup dan takut.
"Ayo Dad." panggil Mommy Felicia sambil menarik tangan Daddy Alvaro.
Jujur Mommy Felicia sebenarnya ingin banget menjewer telinga Daddy Alvaro tapi karena ada Alvonso membuat dirinya menahan untuk tidak melakukannya.
Daddy Alvaro di tarik tangannya oleh Mommy Felicia untuk keluar dari ruangan kamar inap vvip. Sampai di kantin rumah sakit barulah Mommy Felicia melepaskan tangan Daddy Alvaro dan duduk berhadapan dengan Daddy Alvaro.
"Sayang kenapa tanganku di tarik?" tanya Daddy Alvaro dengan nada protes.
"Sebenarnya Mommy tidak ingin menarik tangan suamiku yang tampan ini." ucap Mommy Felicia.
"Lalu?" tanya Daddy Alvaro curiga sambil menaikkan satu alis matanya.
"Inginnya menjewer telinga suamiku ini." Jawab Mommy Felicia.
"Lho kenapa?" tanya Daddy Alvaro dengan wajah bingung.
"Habis sayangku yang tampan ini bikin takut anak orang." Jawab Mommy Felicia.
"Daddy tidak setuju dengan pria itu." Ucap Daddy Alvaro dengan nada protes.
"Apa yang membuat Daddy tidak setuju?" tanya Mommy Felicia.
"Mereka masih kecil tidak boleh pacaran apalagi anak itukan yang pernah berantem dengan ke tiga anak kita, pasti Dia anak nakal." Jawab Daddy Alvaro menjelaskan.
__ADS_1
"Jangan begitu sayang, manusia kan bisa berubah, kitakan tidak tahu siapa tahu Alvonso jodoh anak kita, seperti kita dipertemukan tidak terduga." ucap Mommy Felicia dengan kata bijaknya.