Cinta Pertama Mafia 1

Cinta Pertama Mafia 1
Menangis


__ADS_3

"Tergantung." Jawab Daddy Alvaro.


"Terus kenapa tadi Om meminta keluargaku datang untuk melamar putri Om?" Tanya Alvonso dengan wajah bingung.


"Maksud Om, tergantung jawaban Brigitha apakah menerima lamaran Alvonso." Jawab Daddy Alvaro.


"Brigitha, apakah Kamu menyukai Alvonso?" Tanya Mommy Felicia sambil menatap ke arah Brigitha begitu pula dengan Daddy Alvaro dan Alvonso.


"Walau Brigitha tidak ingat dengan masa lalu tapi Brigitha merasa nyaman bersama Kak Alvonso. Kalau Kak Alvonso memang tulus mencintai Brigitha dan mau menerima apa adanya Brigitha maka Brigitha bersedia menikah dengan Kak Alvonso." Jawab Brigitha.


Alvonso yang awalnya sangat takut jika Brigitha menolaknya kini tersenyum bahagia karena Brigitha mau menerima cintanya.


"Tentu saja Kakak sangat tulus mencintaimu dan menerima apa adanya dirimu bukan karena ada apanya." Jawab Alvonso sambil masih tersenyum bahagia.


"Sebelum Kalian menikah di larang ciuman karena ujung - ujungnya akan kemana - mana? ingat kami akan tahu apa yang akan dilakukan anak - anak tante dan om." ucap Daddy Alvaro memperingati Alvonso sambil menatap tajam.


"Baik om dan tante. Alvonso janji tidak akan melakukan itu." ucap Alvonso.


Walau berat tidak apa asalkan dirinya diijinkan menikah dengan gadis yang sangat dicintainya.


"Bagus kalau begitu. " ucap Daddy Alvaro.


"Kalau begitu Om, tante dan Brigitha saya pamit pulang." Pamit Alvonso.


"Tunggu sebentar." ucap Mommy Felicia sambil berdiri dan berjalan ke arah ruangan makan.


Mommy Felicia membawa rantang dan diberikan ke Alvonso. Awalnya Alvonso menolaknya tapi di paksa oleh Mommy Felicia. Alvonso pun membawa rantang dan berpamitan dengan orangtua Brigitha dan juga Brigitha.


Mommy Felicia dan Daddy Alvaro berjalan menuju kamar tidurnya. Sedangkan Brigitha mengantar Alvonso menuju ke garasi mobil.


"Brigitha jangan cerita ya kalau kita berciuman." pinta Alvonso.


"Iya aku tidak cerita asalkan Kak Alvonso jangan menciumku lagi." pinta Brigitha.

__ADS_1


"Iya Kakak janji tidak akan menciummu tapi kalau Kakak tidak tahan jangan marah ya." pinta Alvonso dengan suara menggoda.


"Dasar mesum." ucap Brigitha sambil memukul bahu Alvonso.


"Hehehe... sama kamu doank kok mesumnya... janji ya jangan cerita?" pinta Alvonso lagi sambil masuk ke dalam mobilnya.


"Iya, hati - hati di jalan." ucap Brigitha.


"Ok, Bye." Pamit Alvonso sambil melambaikan tangannya dan di balas lambaian tangan Brigitha sambil tersenyum.


Brigitha masuk ke dalam mansion menuju kamarnya untuk beristirahat. Sedangkan Alvonso mengendarai mobil dengan hati riang karena keluarga Brigitha tidak melarang hubungan mereka di tambah dirinya sebentar lagi akan menikah dengan pujaan hatinya.


Alvonso melajukan mobilnya ke apartemen saudaranya yang bernama Michael. Sampai di apartemen Alvonso memarkirkan mobilnya dan masuk ke dalam apartemen milik Michael dengan menekan pin apartemen.


Alvonso membuka pintu apartemen yang tampak sepi. Alvonso yang membawa rantang kemudian meletakkan di atas meja makan milik Michael.


Alvonso menaiki anak tangga dan menuju kamar Michael. Tampak pintu Michael terbuka dan Alvonso langsung masuk ke dalam dengan mendorong pintu dengan sangat pelan.


Michael sedang tertidur dengan pulas sedangkan Alvonso yang mempunyai hobby iseng melihat gelas yang berisi air di ambilnya kemudian dicipratkan ke wajah Michael. Michael yang tertidur pulas merasa terganggu dan langsung membuka matanya.


Alvonso yang diteriaki Michael hanya cengir kuda.


"Sudah sore, kamu tidak lapar?" tanya Alvonso mengalihkan pembicaraan.


"Kenapa? kak Alvonso mau minta makan?" tanya Michael dengan nada masih kesal karena ulah Alvonso tidurnya menjadi terganggu.


"Aish percaya diri, nggalah aku dibawain masakan sama calon ibu mertua." Jawab Alvonso tersenyum bahagia.


"Apa? mana mungkin?" tanya Michael tidak percaya.


Alvonso pun menceritakan semuanya dari pertemuan di rumah sakit sampai di rumah orangtua Brigitha.


"Ibunya Brigitha untung baik dan menerima kak Alvonso?" ucap Michael.

__ADS_1


"Iya benar, Kakak sangat bersyukur bisa mengenalnya dan jujur Kakak sungguh sangat menyesal dulu sempat jahat dengan mencelakai mereka." ucap Alvonso dengan wajah terlihat sangat menyesal.


"Kuharap mereka tidak tahu kalau kejadian itu adalah ulah kak Alvonso." ucap Michael penuh harap.


" Ya mudah - mudahan saja. Kita makan yuk?" ajak Alvonso.


"Ayo aku juga ingin merasakan masakan ibunya Brigitha." ucap Michael.


"Iya, kita hampir senasib, ibumu meninggal waktu melahirkanmu dan ibuku sibuk dengan dunianya. Terkadang Kakak sangat iri melihat Bruno, Brian dan Benediktus yang mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya." ucap Alvonso dengan wajah sendu.


"Sudahlah jangan dipikirkan kalau memang kak Brigitha jodohmu orangtuanya Brigitha akan menjadi orangtua Kak Alvonso juga." ucap Michael berusaha menghibur Alvonso.


"Oh ya Aku hampir lupa mengatakan kalau Aku akan membawa keluarga besarku dari Ibuku dan juga Kamu untuk datang melamar Brigitha." Ucap Alvonso sambil tersenyum bahagia.


"Benarkah?" tanya Michael dengan wajah terkejut.


"Benar sekali, lusa Kita pergi bersama keluarga besar Kita untuk melamar Brigitha." Ucap Alvonso.


"Secepat itu?" Tanya Michael dengan wajah terkejut.


"Lebih cepat lebih baik." Jawab Alvonso.


"Ayo kita makan." ajak Alvonso.


"Ayo tapi aku mandi dulu ya." ucap Michael.


"Baiklah aku tunggu di bawah." ucap Alvonso.


Alvonso turun ke bawah dan ketika sampai di bawah Alvonso membuka rantang yang diberikan oleh Mommy Felicia. Aroma wangi yang sangat sedap membuat Alvonso tanpa sadar mengeluarkan airmatanya.


Alvonso merasa bahagia ketika Mommy Felicia memperhatikan dirinya, melindungi dari kemarahan Daddy Alvaro dan ke tiga kakak kembarnya Brigitha. Keluarga yang hangat dan penuh kasih sayang.


Michael kini sudah duduk di hadapan Alvonso tapi Alvonso masih belum sadar dari lamunannya.

__ADS_1


"Kak Alvonso menangis?" tanya Michael dengan wajah terkejut.


__ADS_2