
Namaku Feiza Nur Azizah, anak bungsu dari tiga bersaudara. kedua kakak ku adalah laki laki dengan umur yang berjarak cukup jauh dariku. Ka Malik adalah kakak sulungku yang umurnya sepuluh tahun diatasku. Dia sudah menikah tahun lalu dengan Ka Marwah, wanita yang baru saja tiga bulan dipacarinya, Tapi Alhamdulillah selama setahun ini mereka hidup bahagia meskipun belum dikaruniai anak. Dan kakak keduaku namanya Ka Soni, umur kami terpaut enam tahun. Sekarang Ka Soni kuliah semester 7 diluar kota, dan mulai sibuk menyelesaikan skripsinya. keistimewaanku sebagai anak bungsu dengan dua kakak laki laki membuatku sangat dimanja dan dimanjakan, meski begitu aku tumbuh menjadi gadis mandiri. Menjadi satu satunya anak perempuan membuatku dekat dan banyak menghabiskan waktu bersama Mami, seperti masak dan belanja bersama. Mami adalah lulusan sekolah memasak dan pernah bekerja didapur hotel berbintang sebelum ketemu Papi, sehingga dia sangat senang berkutat didapur dengan segala jenis resep resep dan eksperimennya yang tidak jarang gagal. Sebagai ibu rumah tangga, mami memiliki banyak waktu untuk mencoba resep resep baru yang sering didapatkan entah dari facebook atau media sosial lainnya. Bahkan hanya dengan memakan makanan dari satu tempat Mami bisa menirunya. Yang jadi favorite ku adalah cinnamon roll buatan Mami dengan aroma kayu manis yang wangi membuatku kadang lupa sudah berapa banyak aku memakannya.
Sejak Orang tuaku menikah sampai aku berusia lima belas tahun, kami masih tinggal dirumah Nenek. Dan ketika Papi mendapat kenaikan jabatan dan harus pindah dari kantor cabang ke kantor pusat, kami sekeluarga pindah ke perumahan tengah kota yang lebih dekat dengan kantor Papi karena sekarang Papi lebih sering lembur dan pulang malam. Sedangkan Nenek gak ikut sama kami, dia bilang sudah nyaman dirumah lamanya. Sama seperti Nenek, akupun sudah nyaman dengan rumah yang dari kecil ku tempati, tapi orang tuaku membujukku untuk tetap ikut dengan mereka. Bahkan Papi sudah menunggu beberapa bulan untuk pindah. Katanya biar lebih gampang pindahnya ketika aku masuk SMA. Ketika Papi menerima jabatan barunya aku belum ujian jadi Papi masih harus pulang pergi kerja dengan jarak agak jauh selama menungguku lulus SMP. Meskipun begitu, kami masih sering menjenguk Nenek dirumahnya. Bahkan kami jalan jalan ke mall, taman ataupun kebun binatang bersama Nenek.
__ADS_1
Dirumah baru, aku hanya tinggal dengan kedua orang tuaku. Kadang aku merasa kesepian karena sama sekali tidak mengenal siapapun disini. Tidak ada tetangga yang saling berkumpul, bahkan tidak saling menegur satu dengan yang lainnya. Jarang sekali aku melihat tetanggaku ada didepan rumahnya, rumah rumah mereka bagai rumah kosong yang di urus, bagus, mewah, tapi sepi. Pernah sekali Mami dan aku pulang pasar dan papasan dengan tetangga di seberang rumahku, Mami menegurnya tapi tidak ada respon darinya padahal aku tau dia melihat kami dan pasti mendengar kami.
Tidak ada teman SMP ku yang bersekolah di SMA yang sama denganku sekarang, kecuali Milla. Dia adalah sahabat terdekatku, ketika aku bercerita akan pindah rumah dan menyebut nama SMA yang sudah dipilihkan Papi untukku, dia meminta Orang tuanya untuk menyekolahkannya di SMA yang sama denganku agar kami tetap bisa bersama.
__ADS_1
Kalau aku jalan atau liburan keluarga, Milla sering ku ajak karena bagiku dia seperti saudara. Mungkin karena aku gak punya saudara perempuan. Sesekali dia membujukku untuk main basket, dan sesekali aku membujuknya mencoba sheet masker yang baru ku beli. Mami bahkan memberi perhatian lebih ke Milla. Tadinya aku cemburu dan bahkan membuatku tidak menegur Milla berhari hari, tapi setelah Mami menjelaskan alasannya barulah aku kembali berdamai dengan Milla.
Dari kecil aku merasa seperti princess yang selalu mendapatkan apapun yang aku inginkan dan hidup bahagia dengan keluarga yang begitu menyayangi dan memanjakanku. Tapi, semua berubah menjadi berbanding terbalik semenjak orang tuaku memutuskan untuk pindah rumah ke perumahan kota yang sepi dan sekolah yang banyak makhkuk makhluk menyebalkan.
__ADS_1