Cinta Pertama Tanpa Restu

Cinta Pertama Tanpa Restu
Belum diceritakan


__ADS_3

"Fei ... satu hal yang belum ku ceritakan tentang Amri. Sebenarnya ini gak penting jadi aku fikir aku gak usah cerita ini ke kamu"


"Tapi karena kamu sekarang ada disini, aku gak mau aja kamu malah salah paham kalo ngeliatnya"


"ngeliat apa ?" lagi lagi aku menyela omongannya.


"Fei ..."


"iya iya maaf Rey"


"Selama ini ada satu cewe yang dekat sama Amri" ingin sekali aku menyauti tapi aku mengendalikan emosiku dan mencoba mendengarkan cerita Reyhan sampai habis.


"Kamu tenang aja karena Amri gak terlalu meresponnya. Mereka teman sekelas dan memang sering dijadikan satu kelompok, itu sebabnya ada komunikasi antara mereka Fei" Reyhan terus menceritakannya dengan begitu rinci. Sedangkan aku terus berusaha menahan amarahku yang mulai memanas.


"Aku pernah tanyakan ini ke Amri, karena kalian kan sahabatku. Aku gak mau kalian malah jadi kayak Milla dan David" Harusnya Reyhan menutupinya tapi sulit baginya gak bercerita yang akhirnya keceplosan tentang sahabatku yang sedang diluar negeri itu.


"Kenapa mereka ? Putus ?" aku menduga duga tapi Reyhan mengangguk pelan membuatku makin melototkan mataku dihadapannya.


"Amri ?" aku melanjutkan rasa penasaranku ke pacar bucinku, bukannya gak peduli dengan sahabat tapi itu adalah urusan pribadinya mereka.


"Amri tetap Amri yang kamu kenal Fei, aku harap kalian bisa mempertahankan hubungan kalian" Saran Reyhan membuatku mengangguk mengerti maksudnya.


"Temenin aku ketemu Amri yok Rey" Dengan raut wajah yang begitu senang aku mengajak sahabatku itu untuk mencari Amri, pacarku. Dan dia mengangguk pelan menerima ajakanku.


"Dimana ? Sendiri aja ?" Reyhan menelpon Amri untuk mengetahui dimana keberadaannya. dan langsung mengakhiri begitu mendapatkan informasi yang ku minta.


"Dikantin dia sama David dan teman teman yang lain" Kata Reyhan memberitahuku yang berada disampingnya, menengadahkan kepala menunggu jawabannya daritadi.


Kami langsung menuju kantin yang di maksudnya. Amri yang terlalu sibuk bercengkrama dengan teman temannya membuat dia gak sadar akan kehadiranku bahkan ketika aku berjarak makin dekat dengannya.


"Ri ..." Reyhan menepuk pundak Amri dan menarik kursi kosong dan menempatkannya tepat disamping Amri.


"Apaan sih lu, disana kan masih bisa duduk" seorang wanita yang terlihat gak suka dengan apa yang Reyhan lakukan mengajukan protesnya.


"bukan buatku, buat pacarnya Amri !" dengan tegas suara Reyhan membuat Amri beranjak kaget dari tempat duduknya dan menghadap ke arahku yang masih sedikit berjarak di belakang Reyhan sehingga saat Reyhan menepuknya tadi dia belum melihatku.


"Sayaaaaang" Aku melihat raut wajah bahagianya ketika melihatku dihadapannya. Dia langsung menjauhkan kursinya dan dengan cepat menarikku kedalam pelukannya, bahkan membuat teman temannya bersorak.


"baru ini kulihat Amri begini"

__ADS_1


"bucin juga ternyata kirain homo"


"wah ada pacar rupanya Amri"


"Kirain gak normal lu Ri"


begitu banyak komentar yang kutangkap dengan pendengaranku yang cukup peka. Membuatku makin bahagia karena gak sia sia mendatanginya.


Amri melepas pelukannya dan bertanya "Ngapain kesini ? kangen yaaaa .." dia bertanya dengan nada menggoda.


Belum aku menjawab, dia memperkenalkanku dengan teman temannya yang duduk bersama saat itu.


"Feiza ..." David bersorak melihatku saat dia baru saja kembali dari wc.


"Kapan datang ? sehat ajakan ? kangen banget nih" Begitu banyak ocehan David sehingga Amri menahan dadanya yang ingin memelukku. Membuat teman temannya menertawai mereka.


"Apaan sih bucin lu Ri" gerutu David yang berjalan ke arah tempat duduknya.


"Vid sini aja duduk di kursi ku tukeran. Disini gak muat kalo duduk berdua" Amri menawari David bertukar posisi.


"Gak ah, Feiza biar duduk di sampingku aja. Ya kan Fei?" Kalimat David membuatku menyunggingkan senyum ingin sekali terbahak melihat tingkah konyol mereka. Namun pada akhirnya mereka tetap bertukar posisi duduk hingga gak sengaja terlihat raut kesal diwajah wanita yang tadi diduduk disamping Amri.


"Habis ini aku masih ada kelas, nanti kamu sama Reyhan aja dulu dia udah selesai" Amri menginfokan sesuatu sembari mengobrol dengan teman temannya yang kini hubungan kami menjadi topik pembicaraan mereka.


Begitu antusias bahkan mereka menanyai gimana kami bisa LDR selama hampir dua tahun ini. "Saling percaya aja" kataku.


"kamu percaya sama Amri ? kenapa nyusul ? takut dia macem macem ya disini" tiba tiba wanita yang sedari tadi diam mengeluarkan komentarnya.


"Apaan sih lu, kompor deh" saut salah seorang teman Amri.


"Aku cuma nanya" wanita itu berdalih.


Dengan senyum semanis mungkin aku menjawab "weekend ini Amri bilang gak bisa balik, tapi ada sesuatu yang mau aku bicarakan dan gak bisa via Hp doang" Jawabku sambil terus menatap wanita yang semakin kesal mendengar jawabanku.


"lagi pula gak ada salahnya ko kalo sekali kali Feiza yang nyamperin aku, malah aku senang" Amri menatapku sembari mengacak pelan rambutku, lalu kembali merapikannya.


"Duh gak kuat aku diginiin" salah seorang teman Amri memprotes kebucinan temannya. membuat yang lain tertawa.


"Guys, bentar lagi kelas dimulai nih, Go ..." Seorang teman menginfokan setelah melihat jam tangannya.

__ADS_1


"Sayang ..." Amri ingin beranjak dari sampingku.


"Iya sana sud masuk kelas" jawabku mendorong pelan badannya.


Amri mencium keningku sebelum meninggalkan ku berdua dengan Reyhan di kantin tersebut. "Kalo kelas udah selesai aku telpon ya" katanya sembari berjalan meninggalkan kami.


"yang itu cewek yang kamu maksud Rey" aku sedikit berbisik dan mendekatkan dudukku ke Reyhan membuatnya menjawab pelan "iya"


Benar dugaanku, bahkan ketika melihatnya sangat jelas Amri gak begitu menghiraukannya. "Sejak kapan mereka dekat ?" aku masih saja penasaran.


"Entahlah, sepertinya dari awal perkuliahan sih" jawab Reyhan membuatku mengangguk paham


"Trus kelanjutan hubungan Amri dan Soraya gimana Fei ?" Reyhan rupanya juga penasaran karena selama ini aku gak ada ceritakan apapun kedia.


Pertanyaan yang dilontarkannya membuatku tertunduk pasrah, seakan putus asa dengan masalah ini. "Itu tujuanku datang kesini Rey" dengan nada pelan aku akhirnya menjawab pertanyaan Reyhan.


Tersirat ekspresi penasaran diwajah sahabatku itu. Membuatku menceritakan kepadanya terlebih dahulu sebelum aku menceritakan ke Amri.


"Cewek gila !!" Reyhan langsung saja mengumpat Soraya yang menurutnya terlalu percaya diri dan berharap Amri akan tetap menikahinya.


"tapi aku sering aja mikir kenapa dia gak pilih kampus yang sama dengan Amri, malah sekampus denganku" kataku ke Reyhan.


"Iya ya ... toh fakultas yang dipilihnya juga disini gak kalah bagusnya dengan kampusmu" Jawab Reyhan dan membuat kita makin penasaran berjamaah.


"Lalu, menurutmu apa yang akan Amri lakukan setelah dia tau ini ?" seketika aku kehilangan kata kata bahkan aku gatau tujuanku menceritakan ini ke Amri. Aku hanya menggelengkan kepalaku dan menatap sendu ke Reyhan.


"Gapapa Fei ... Ceritakan saja kan kalian memang harus saling tau satu sama lain. Apalagi ini menyangkut Soraya" Reyhan berusaha menenangkanku yang mulai terlihat sedih.


"Soraya ... kenapa lagi dia" kami terlalu banyak bercerita bahkan sampai gak terasa Amri sudah menyelesaikan kelasnya hari itu.


"Hah ... anu ... gapapa ..." Kami menjawab terbata bersamaan.


Amri kembali duduk disampingku "pulang hari atau nginap ?" tanyanya yang gak melanjutkan pembahasan Soraya.


"Nginap, di penginapan depan kampus mu" jawabku menunjuk ke arah dimana penginapanku berada.


"Lah, kita juga ngekost disana" celetuk David dan dibenarkan pangsung dengan Reyhan.


"Yaudah kita pulang dulu ya istirahat, nanti malam aku jemput kita jalan jalan" Pinta Amri yang langsung membuat kedua sahabat kami bersorak kegirangan.

__ADS_1


"Aku berdua Feiza doang ngapain ngajak kalian, cari pacar sana" ledekan Amri membuat kedua sahabat kami itu menggerutu entah apa yang di ucapkan mereka bersamaan.


__ADS_2