Cinta Pertama Tanpa Restu

Cinta Pertama Tanpa Restu
Lingkungan Baru


__ADS_3

Sejak masuk SMA, aku gak banyak mendapatkan teman. keseharianku disekolah tidak banyak bicara, di sela jam istirahat pun lebih banyak ku habiskan ngadem di perpustakaan sekolah, ataupun tidur di ruang UKS. banyak teman sekolah ku memanggil ku nona rebahan atau si mager. terkadang aku menemani Milla bermain basket sepulang sekolah atau hari libur. beda hal nya dengan teman sekolah ku yang lain. aku cukup cerewet dan banyak bahan obrolan kalo sama Milla.


berbeda dengan Milla, si ketua basket populer dan siswi tercerdas di kelas kami. Aku adalah siswi biasa yang hanya mengikuti hal hal wajib disekolah, selebihnya jarang ku ikuti, seperti ekstrakurikuler dan baksos yang di adakan beberapa bulan sekali. terkadang Milla membujukku untuk sering sering ikut kegiatan. Dulu, waktu SMP aku rutin ikut PMR, tapi pas aku daftar ekstrakurikuler PMR di SMA lambat laun membuatku makin jarang datang karena sebagian besar anggotanya suka membuat masalah, apalagi para senior. pernah mencoba ikut basket tapi karena aku gak semahir Milla jadi mereka bilang aku menyusahkan. dan beberapa ekstrakurikuler lain sampai akhirnya saat naik ke kelas XI aku memutuskan tidak mengambil ekstrakurikuler apapun.


Disekolahku ada satu geng beranggotakan tiga cewe julid yang sukanya cari masalah sama aku. Bahkan karena mereka, selama di SMA aku lebih sering masuk ruang BK. Selama ini aku memiliki kekurangan, yaitu gak bisa mengontrol emosi dengan baik. sangat mudah bagiku terbawa perasaan dan marah, apalagi geng julid itu hobi banget ngomporin aku. dimata mereka aku itu parasit untuk Milla, beberapa kali mereka ajak Milla berteman dengan geng mereka tapi Milla selalu menolaknya. "buat apasih, gak penting gitu lah nyinyir mulu" kata Milla kalo sudah membahas geng julid.

__ADS_1


Suatu hari, Milla menang dalam pertandingan basket dan berjanji mentraktirku bakso di kantin sekolah. Tapi, ketika kami berdua berjalan menuju kantin, di koridor sekolah ada geng julid yang menghadang kami. "hey parasit" kata mereka serempak sambil melambaikan tangan sangat dekat dengan wajahku. "heran deh kenapa sih Milla mau temenan sama kamu" cibir salah satu dari mereka. "apa sih istimewanya, cupu gini" sambung yang lain. aku mulai panas dan terbawa emosi karena mereka mencibirku terus menerus secara bergantian hari itu. "mau kalian apasih, kenapa selalu ikut campur, gak terima kalo Milla gak mau temenan sama kalian ?" kataku emosi. "Uuuu takuttt ... " kata salah satunya dan diikuti tawa mereka serempak.


Setelah puas mengejekku, mereka menantangku taruhan. "taruhan apa ?" tanyaku penasaran. "dalam waktu satu bulan kamu harus punya pacar untuk mengakui kalo kamu itu gak cupu" tantang mereka. "gila ya kalian, gak usah Fei" celetuk Milla. "hahaha, lozer tetap aja lozer" sahut yang lainnya. Seakan tersulut emosi aku menerima tantangan mereka, padahal aku sadar betul selama ini bahkan gak ada cowo yang pedekate sama aku. "okk" kata ku menerima tantangannya. "eits tunggu tunggu, cowo yang harus kamu pacarin adalah Amri !!" kata mereka memilihkan target taruhan kami. Milla melotot kaget mendengar nama itu, aku bahkan gak mengenalnya. "gausah Fei gausah" kata Milla sibuk mencegahku. " Siapa Amri ?" tanyaku bingung. mereka menertawaiku sebelum memberitahu siapa itu Amri.


Amri adalah cowo populer karena ganteng dan keren, selain itu dia adalah ketua tim basket. Tapi hal yang mempersulit taruhan ini adalah Amri itu cuek dan angkuh, tidak pernah terdengar siapa pacarnya. bahkan banyak cewe yang nembak tapi ditolak mentah mentah olehnya. jarang bicara, sekali bicara nadanya ketus dan hanya akrab dengan beberapa teman dekatnya yang semuanya laki laki. yang lebih parah lagi, dia gak satu sekolah denganku. Sangking populernya banyak siswa siswi sekolah lain yang mengenalnya. Begitu aku tau siapa sosok Amri melalui cerita Milla di kantin, aku langsung tepok jidat. seakan buah simalakama, pada akhirnya aku juga tau pasti kalah taruhan tapi aku terlalu gengsi untuk mengakuinya bahkan sebelum aku mencobanya.

__ADS_1


Mami menemaniku kemanapun, kami bersepeda bersama, ke pasar tradisional, mall, bioskop, dan mencoba segala jenis resep meskipun masih sering gagal. Mami adalah segalanya, dia mendengarkan setiap keluh kesah ku dan kemudian memberikanku solusi disetiap aku gak menemukan jalan keluar. Kami sering bercanda bahkan gak jarang aku mengusili Mami, apalagi kalo kak Soni ada dirumah kami pasti sekongkol untuk mengusili ka Malik, Mami ataupun Papi. tidak seperti ka Malik yang terkesan lembut, ka Soni sangat suka usil. Akupun tak luput dari keusilannya. Sejak dia kuliah diluar kota aku gak bisa leluasa usil karena sejak dulu dialah otak dari setiap keusilan kami.


Setiap pulang sekolah aku akan bersantai setelah menyiapkan makan malam. Menceritakan setiap kejadian dalam hari itu, sambil menunggu Papi pulang dan makan malam bersama. Meskipun Papi sering pulang malam, tapi sesekali dia menyempatkan bertanya hal hal yang terjadi padaku. "Feiza hari ini ngapain aja" tanya Papi, atau "Oh ya kata Mami Feiza masuk ruang BK lagi, ko doyan sih" keluhnya. Tapi tidak sekalipun mereka marah padaku. Dan diwaktu weekend kami akan ke rumah Nenek dan menghabiskan waktu disana. Mendengarkan setiap cerita Nenek dan juga berbagi cerita tentangku selama tidak tinggal bersamanya.


Di lingkungan rumah Nenek banyak teman SD dan SMP ku. Kami kadang membuat janji bertemu atau membuat acara di rumah Nenek. Dari dulu rumah Nenek adalah basecamp ku bersama teman temanku. Milla pasti ikut jika aku memberitahunya akan mengadakan acara berkumpul bersama teman SD ataupun SMP kami. dan disana kami pasti berbagi cerita masa masa SMA kami yang berbeda sekolah. sebagian dari mereka bersekolah di SMA yang sama.

__ADS_1


Jika sudah lama berteman denganku pasti tidak akan mengatakan aku cuek ataupun pendiam. Mereka akan lebih menilaiku sebagai cewe cerewet dan manja yang selalu memiliki banyak topik pembicaraan. Di mata mereka aku tetaplah Feiza yang memiliki kehidupan bahagia yang nyaris sempurna.


__ADS_2