Cinta Pertama Tanpa Restu

Cinta Pertama Tanpa Restu
Dia Bicara


__ADS_3

"hey" sapa nya setelah beberapa jam kami saling curi pandang di kedai kopi favorite ku. Ya, kedai itu sekarang sering ku kunjungi untuk melepas penat ketika gak ada tempat yang ku tuju. Biasanya aku pesan hot chocolatte disana, tapi hari ini pesananku diganti dengan hazelnut coffee karena ulah Amri. Ini sudah kedua kalinya dia mengubah pesananku. "ya" jawabku singkat, saat itu dia berdiri tepat di hadapanku. aku menengadah melihat nya berdiri sedangkan aku duduk di kursi. "sepertinya kedai kami akan tutup sebentar lagi" kata Amri yang tiba tiba membuatku kaget. Aku fikir dia bakal tau maksud dan tujuanku tetap tinggal berjam jam lamanya di kedai kopi itu. "maaf, aku akan pulang" jawabku sambil memasukan buku dan Hp yang ku letakan di atas meja. Baru saja aku beranjak dari tempat duduk ku, Amri meraih tanganku dan bilang "tunggu". Jantungku berdebar entah karena apa. Aku membalikan badanku ke arahnya dan melihatnya melempar senyum manis padaku. "kenapa? aku udah bayar ko" kata ku dengan nada sedikit kesal dan lagi lagi dia tersenyum dengan sedikit tawa. "duduklah, aku tau kamu menungguku untuk menanyakan kenapa aku mengganti menu mu" kata Amri dan seketika aku melotot gak percaya dia ternyata paham maksudku. "lalu ?" tanyaku. "duduk aja dulu" pintanya, lalu aku duduk kembali bersamanya.


Amri bercerita kalo kopi itu sama dengan coklat, sifatnya menenangkan. Bedanya, racikannya harus pas. "Kamu pintar meracik kopi, belajar dimana" tanyaku penasaran. "Ayah" jawab Amri yang kemudian tertunduk sedih sambil memainkan nomer meja. Aku gak tau kenapa dia bersikap seperti itu, aku juga terlalu takut untuk bertanya hal yang menurutku privasi nya, tapi "Sejak kecil aku hidup bersama Ayah, beliau jualan kopi dan meraciknya sendiri, aku sering membantunya dan dengan mencium aromanya akan membuatku terlepas dari kepenatan" kata Amri menjelaskan setelah cukup lama terdiam dan menunduk. Aku gak tau harus meresponnya seperti apa, dalam situasi ini aku hanya takut salah berucap. "Aku pengen orang orang merasakannya juga" lanjutnya. Amri menjelaskan bahwa aku yang terbiasa minum hot chocolatte disaat penat bisa jadi bakal bosan dan butuh hal baru untuk melepas penat lebih ampuh. "Sama hal nya seperti shampoo atau sabun, kamu harus menggantinya sesekali dengan merek lain" katanya menerangkan dengan detail alasannya memberiku kopi.


Disana kami banyak berbagi cerita. Tidak seperti yang ku ketahui dari Milla dan orang lain. Amri berbeda, dia sama sekali gak cuek bahkan jauh dari kata angkuh. Dia begitu hamble, bahkan perhatian, dia terus menebarkan senyum manisnya didepanku. Oh Tuhan, apa dia seorang buaya darat yang sedang mendekati aku sebagai mangsanya. Tapi orang orang pada berkata bahwa banyak cewe cewe yang mengejar Amri tapi ditolak mentah mentah, lalu gimana bisa dia menjadikanku mangsa.

__ADS_1


"Maaf" kata ku yang lalu terdiam karena takut melanjutkan pertanyaan yang akan ku tujukan untuknya. "Aku ... aku mau ..." lanjutku terbata bata. "kenapa ? bilang aja. aku gapapa ko" terangnya dan pada akhirnya aku mengungkapkan pertanyaanku setelah lumayan lama terdiam mengumpulkan kekuatan. "kenapa kamu baik sama aku ?" kataku dengan cepat dan kemudian tertunduk sambil menutup mataku. Dia terdengar geli menertawakan pertanyaan yang ku lontarkan, bahkan hingga terbahak bahak. "kamu pasti mendengar banyak tentangku, aku memang suka memilih teman. gak semua orang bisa jadi temanku, apalagi pacar" jelasnya dan membuatku tercengang heran. Dalam hatiku berkata "ok mulai keliatan sisi songong dan angkuhnya".


Tidak begitu lama akhirnya para pekerja di kedai kopi itu merapikan tempat kerja mereka dan bersiap pulang. "Sepertinya sudah mau tutup, aku pulang dulu ya" kataku berpamitan, padahal sedang mencari alasan agar cepat meninggalkannya, entah apalagi yang akan kami bahas di kedai itu jadi sebaiknya aku pergi. Hal mengejutkan lainnya terjadi, Amri menawarkan tumpangan untukku. Padahal, rumornya Amri tidak pernah mau mengbonceng orang lain di motor 250cc besar nya itu. "gausah, makasih. rumahku dekat aja ko" kataku menolak ajakannya. Tapi seakan tidak gentar dia terus memaksaku untuk menerim tawarannya dan akhirnya aku meng iya kan nya. Lagi pula gimana aku bisa berani jalan kaki lebih dari 1 km di malam hari, lagian perumahan yang ku tempati cukup sepi. Gak adatuh tetangga ngumpul di depan pos ronda atau rumah rumah. Setiap berpapasan aja gak teguran padahal tetanggaan.


Mami sudah berdiri di depan pintu rumahku sambil mondar mandir diteras dengan raut wajah sedih dan khawatir, aku yakin dia sedang menungguku yang belum juga pulang sejak pulang sekolah tadi. Begitu melihatku turun dari motor Amri, Mami langsung menghampiriku dan bertanya "Feiza dari mana ? Kenapa gak kabarin Mami, Hp juga gabisa ditelponin" kata Mami dengan pertanyaan beruntun lainnya. Bukannya menjawab pertanyaan Mami tapi aku langsung nyelonong masuk rumah, bahkan aku belum sempat mengucapkan terima kasih ke Amri yang sudah rela mengantarkanku.

__ADS_1


Dipertandingan itu dimulai dengan permainan basket cewe lalu kemudian yang cowo. Seperti biasanya, Aku memberikan botol minum ke Milla setelah dia bermain basket. Tapi kali ini pacarnya menepis tanganku dan memberikan botol minuman lain kepada Milla. Sesaat aku kesal dan merasa tidak dibutuhkan lagi, aku menghela nafas lalu berusaha tetap tersenyum didepan mereka.Dan lagi lagi aku dibuat terkejut karena Amri yang tiba tiba datang duduk di sampingku dan mengambil botol minum yang harusnya untuk Milla lalu meminum air didalamnya. "Jahat banget sih temannya aja dikasi, aku dianggap apasih" kata Amri membuatku molotot bingung ke arahnya. Dia mengacak acak dan menghambur rambut panjangku yang terurai rapi sambil menebar senyum manisnya itu. Speechless, entah harus menjawab apa saat itu karena benar benar blank. Sesekali kupandangi Milla dan pacarnya yang masih berdiri dihadapanku. Mereka nampak bingung terdiam penasaran dengan apa yang sudah mereka lihat. Seakan gak percaya cowo populer di banyak Sekolah Menengah Atas di kota kami sedang menghampiri cewe yang biasa biasa aja padahal selama ini dia digandrungi cewe cantik dan kaya raya. Sebelum Amri memasuki lapangan untuk bermain basket, di kembali merapikan ramput yang sudah di acak acaknya tadi. "nanti kita bicara" katanya seraya berlari pelan ke arah tengah lapangan untuk bermain basket, karena pertandingan basket cowo akan segera dimulai. "Feizaaaaa ..." seru Milla menyebut nama sambil menatapku dengan penuh kecurigaan seakan aku menutupi sebuah rahasia beaar darinya dan aku hanya bisa cengar cengir didepannya dan menaikkan kedua bahuku seoalah memberi isyarat bahwa aku juga gak tau kenapa dia bersikap seperti tadi.


Sepanjang pertandingan basket cowi Milla terus mengintrogasiku, dia begitu semangat setelah melihat kejadian langka tadi. "Sumpah ya gak nyangka tau gak dia bisa bersikap gitu ke kamu Fei" kata Milla. "Harusnya taruhan kemarin jangan dibatalin biar ****** tuh geng julid ketiban malu" bisiknya dengan sangat hati hati karena ada David sampingnya. "Husss" jawabku sambil mencubit pahanya mengisyaratkan jangan membahas tentang taruhan yang sudah berlalu itu.


Memang benar dari awal aku gak tertarik dengan taruhan itu, hanya saja emosiku yang gak bisa terkontrol membuatku panas dan menerima tawaran mereka. Setelah merasa penat bahkan sebelum memulai pdkt ke Amri aku membatalkannya, untung saja sebelum Amri mendekatiku kalo gak bisa jadi masalah pasti. Haha, mungkin aku terlalu percaya diri bahwa Amri sedang pdkt denganku tapi itulah yang kurasakan sekarang. Meskipun aku belum benar benar merasa jatuh cinta padanya.

__ADS_1


Selesai pertandingan cowo, seluruh peserta diberi waktu istirahat sekitar 30 menit. Untungnya Amri dan tim nya sibuk berdiskusi, tadinya aku sudah panik kalo dia bakal nyamperin aku di sela istirahatnya. "kenapa Fei ?" tanya Milla ketika mendengarku menghela nafas "hah, kenapa ? gapapa Mill" jawabku gugup. Milla terus menggodaku seakan Amri menyukaiku. Berbeda dengan David, pacarnya. Kekeh ingin menjodohkan dengan Mario, David terus membanding bandingkan mereka berdua. "Udahlah sayang, yang jalanin kan Feiza" kata Milla menyudahi perkataan pacarnya. "Mereka berdua itu sama sama baik, tapi jangan kasi harapan kedua duanya ya Fei, yakinkan benar benar kamu suka sama siapa" kata Milla sedikit berbisik dan aku hanya membalasnya dengan senyuman dan anggukan.


__ADS_2