Cinta Pertama Tanpa Restu

Cinta Pertama Tanpa Restu
Ternyata


__ADS_3

Milla memulai ceritanya bagaimana Amri menghilang setiap kali aku sakit dan dirawat, bahkan tanpa memberiku kabar meski via telepon ataupun pesan singkat.


Dulu, waktu pertama aku pingsan dan dirawat. Amri menengokku ke rumah sakit tapi Papi yang kala itu berada disana malah mengusir dan menyalahkan Amri bahkan menuduhnya sudah memberi pengaruh buruk kepadaku.


"Papimu mengancamnya bakal bawa kamu pergi sejauh mungkin supaya kalian gak bertemu lagi" kata Milla membuat mataku terbelalak gak percaya dengan ucapan sahabatku sendiri.


"Kalian melihatnya sendiri kan ?" tanyaku meyakinkan diri dan mereka mengangguk.


"Aku mencoba bicara sama Amri dibelakang Papimu, Amri benar benar cinta sama kamu Fei, bahkan setelah Papimu sangat kasar kepadanya"


"Fei, Apa setelah kalian bertemu kemarin kemarin itu Amri gak ada bilang apapun ke kamu ?" tanya Reyhan setengah berbisik, aku menggelengkan pelan kepalaku.


Ternyata benar dugaanku selama ini bahwa Papilah alasan kenapa Amri suka tiba tiba menghilang dan susah dihubungi.


"Kenapa Papi melakukan hal itu padahal aku bukanlah anak kandungnya" tanyaku dalam hati.


Melihatku melamun memikirkan hal itu Milla segera menguncang bahuku, membuat aku memegangi kepala dengan kedua tanganku.


"Kenapa sayang ?" tiba tiba Mami yang baru saja masuk kekamarku melihat aku memegangi kepalaku.


"Gapapa Mi, Mami bawa apa ?" aku berusaha mengalihkan supaya Mami berhenti khawatir padaku.


"Wah, cupcake coklat ya tante" sahut Reyhan yang seakan paham kodeku.


"Iya, ini masih panas baru matang" kata Mami menjawab kami lengkap dengan ukiran senyum diwajahnya.


Seperti tau benar anaknya sedang bermain dengan teman temannya dan gak mau mengganggu, Mami meninggalkan kamarku begitu dia memastikan aku baik baik saja. "Jangan lupa minum obatnya ya" kata Mami sebelum melangkah keluar kamarku.


"Maaf ya Fei aku lupa" kata Milla yang hanya diam selama Mami dikamar tadi. Aku menarik ujung bibirku dengan jari jariku dan berkata "im okk bebeh".


"Milla, Reyhan, kalian mau gak bantuin aku" tanyaku dengan penuh harapan.

__ADS_1


"Apa ?" mereka serempak merespon.


"Lusa aku ada ujian susulan, setelah itu bisakah kalian mengatur supaya aku bisa ketemu Amri ?" bisikku. Mereka mengangguk setelah saling pandang beberapa saat.


Seakan belum puas menanyakan dan mencari tau tentang Amri. Aku masih saja menanyakannya kepada mereka berdua. Karena mereka hanya menceritakan disaat pertama kali aku pingsan. Bagaimana dengan kejadian yang baru ?


"Apa Amri tau aku dirawat dirumah sakit lagi?" tanyaku yang masih penasaran.


"Fei, Amri datang setiap hari ke rumah sakit bersama kami" kata Reyhan mengakuinya sambil merogoh tas untuk mengambil Hp dan menyodorkannya kepadaku setelah mengutak atiknya sebentar.


kulihat history chatt mereka. Amri terus menanyai kabarku ke Reyhan dan mengirimi fotoku setiap hari meski foto itu terlihat sama, aku hanya berbaring gak sadarkan diri di tempat tidur rumah sakit saat itu.


Melihat history chatt mereka membuat air mataku menetes. terlebih saat aku membaca satu chatt yang seakan mengiris dalam hatiku.


"Aku melakukan ini demi bisa bersama Feiza. Aku rela jika hanya melihatnya dari jauh daripada tidak sama sekali" Amri mengirimkan pesan itu pasti ada hubungannya dengan percakapan yang disaksikan kedua temanku. Papi telah mengancam Amri kala itu. dan aku yakin Papi mengulanginya lagi saat aku pingsan yang kedua kalinya.


"Papi ... kenapa setega ini sih" akhirnya aku mulai terisak lagi.


"Apa kalian bisa meninggalkan aku sendiri ? aku mau sendiri saja" kataku dengan tatapan penuh kesedihan ke Milla.


"Kamu bisa hubungi kita kapan aja Fei, sekarang istirahatlah" kata Milla sembari membereskan tasnya.


"Minum obat dulu, setelah itu kami pulang" kata Reyhan mengingatkan sambil mengambil obat yang diletakkan di atas meja.


Aku gak habis fikir apa tujuan Papi yang sebenarnya. Kenapa Papi sangat kekeh menjauhkanku dari Amri. Gak masuk akal kalo cuma alasan dilarang pacaran dan gak cukup umur. Meskipun dari awal Papi memang sangat posesif dan membatasi segala aktifitas serta pergaulanku. Pasti ada alasan lain dibalik semua ini.


Setelah tertidur pulas karena efek obat yang ku minum semalam. Pagi ini aku terbangun dengan sangat segar, sudah ada Ka Soni duduk di tepi kasurku. "Baru aja mau dibangunin" katanya. Aku mencoba bangun dan mengucek mataku yang masih buram melihat sekitar dan mencoba meregangkan badanku.


"Sarapan yok" ajak Ka Soni.


"Kakak berangkat ya hari ini ?" tanyaku yang teringat jadwal liburan kakakku. Dia pun mengangguk.

__ADS_1


"Kakak ambil penerbangan malam, jadi hari ini kita jalan jalan ya" katanya dengan sangat lembut.


Setelah sarapan bersama, Papi yang kala itu standby dirumah meminta kami berkumpul di ruang tengah untuk menceritakan sesuatu.


"Ada apa Pi ?" tanya ka Soni memulai pembicaraan.


"Papi rasa kalian sudah cukup dewasa untuk tau yang sebenarnya" kata Papi.


"Apalagi ini" gumamku yang terdengar oleh Ka Soni yang duduk di sampingku. Dia merapatkan duduknya untuk merangkulku erat. Membuat Papi melirik tangannya.


"Feiza memang bukan anak Mami, tapi Feiza anak Papi, anak kandung Papi !" Sontak pengakuan Papi membuatku saling berpandangan dengan Ka Soni.


"Maksud Papi?" tanyaku serentakbdengan ka Soni.


"Dengarkan Papi baik baik sampai akhir tanpa menyela omongannya" Mami menyauti kami.


"Papi pernah membuat kesalahan, tapi Papi gak pernah menyesalinya karena bidadari ini harir ditengah tengah keluarga ini" Kalimat Papi membuatku berfikir keras, terlebih pandangan Papi yang terus tertuju kepadaku.


"Aku anak haram ?" sontak aku berdiri seketika pikiran itu muncul.


"Feiza ... duduk" pinta Mami.


"Mi, Pi, apa Feiza benar benar anak haram ?" tanyaku lagi tanpa memperdulikan perintah Mami.


Ka Soni berdiri disampingku, membuatku duduk kembali dan aku pasrah dibuatnya. Aku menangis sejadi jadinya dalam pelukan kakakku.


"Feiza bukan anak haram, Papi pernah menikah dengan Mama kandung Feiza sampai akhirnya Feiza lahir. Maafin Papi, karena sudah mencontohkan yang gak baik ke kalian. Papi Khilaf" Papi ikut menitikkan air matanya sedangkan Mami terus berusaha tegar duduk di sebelah suaminya.


Setelah memiliki dua anak, Papi yang merasa teracuhkan selingkuh dengan wanita lain sampai menikah. Tapi, baru beberapa minggu pernikahan mereka terbongkar oleh Mami sampai Mamipun pernah depresi bahkan mau mengakhiri hidupnya karena laki laki yang selama ini sangat dipercayainya sudah mendua dibelakanya.


Rasa cinta Papi ke Mami membuatnya insaf dan kembali ke jalan yang benar. Begitu juga mantan istri keduanya, yang gak lain adalah Mama kandungku. Mereka resmi bercerai setelah kelahiranku. Aku tinggal berdua dengan Mama kandungku sampai usia hampir dua tahun, lalu karena sakit hati yang dipendamnya Mama meninggal dan Papi membawaku ke tengah tengah keluarganya, bersama Mami dan kedua kakakku.

__ADS_1


Mami memiliki hati yang sangat bersih sehingga gak sama sekali menaruh dendam padaku. Dari kecil Mami selalu menyayangiku seperti hal nya anak kandung. Bahkan banyak kesamaan diantara kami yang membuat siapapun gak menyangkan bahwa aku bukanlah anak kandungnya.


__ADS_2