Cinta Pertama Tanpa Restu

Cinta Pertama Tanpa Restu
Belum Jelas


__ADS_3

Sudah hari Senin kembali, aku bersiap menuruni tangga dan sarapan lengkap dengan Mami dan Papi serta ka Soni yang akan mengantarku kesekolah. Setelah menyapa hangat mereka semua aku langsung mengambil sarapanku dan memakannya tanpa duduk di kursi.


Disekolah aku langsung menemui Milla dan menanyakan kenapa dia sama sekali gak menjengukku. Tapi dia hanya mendiamkanku seenaknya membuatku rada kesal. "Mill, bicaralah !" kataku.


Berbeda dengan Milla, geng julid mendekatiku dengan tujuan meledek ledekku. "Marahan nih ?" ladek Ulfa, member geng julid yang setelah mendengarnya membuatku berdiri melotot dihadapannya. Tapi Milla menarik tanganku hingga aku terduduk kembali disampingnya lalu bergantian dia yang berdiri melotot bahkan sampai berkacak pinggang membuatku tersenyum puas. "Setidaknya sahabatku ini masih membela disaat sedang marah padaku sekalipun" gumamku dalam hati. Terlebih geng julid yang langsung meninggalkan kami sebelum Milla mengucapkan apapun.


"Mill ..." aku memanggilnya benar benar dengan nada termanjaku sambil ku lilitkan tanganku di tangannya sudah seperti bucin yang merayu pacarnya. "Dia gak kesal sama kamu, tapi sama Papimu" bisik seseorang dari arah belakangku yang ternyata Reyhan. "Papi ?" tanyaku ke Milla memandangnya dengan tajam berharap dia membalas tatapanku dan menjawab.


Aku terdiam menunggu jawaban Milla sambil terus berfikir apa yang dilakukan Papi sampai membuat Milla kesal bahkan Amri juga belum menghubungiku. Tiba tiba Milla merangkulkan tangannya di bahuku dan memeluk erat badanku. "Udah gausah difikirin, Reyhan emang suka melebihkan" katanya sembari mencubit tangan Reyhan sampai cowok ganteng itu meringis kesakitan dan mengeluh karena kebiasaan kami yang suka menjadikannya korban dari jari jemari kami. "kalian berdua sama aja ya, bisa memar memar badanku kalo tiap hari kayak gini" katanya sambil mengelus tangannya tepat ditempat yang dicubiti Milla.


Di jam istirahat kami ke pendopo di pinggir lapangan sekolah setelah membeli beberapa cemilan dan minuman dari kantin sekolah. "Jadi Amri belum hubungi kamu ?" tanya Reyhan yang membuatku menggelengkan kepala.


"Apa kamu tau sesuatu Mill ?" tanyaku yang mendapati Milla melamunkan sesuatu. "Milla" panggilku sedikit berteriak didekat kupingnya yang membuatku berhasil menghentikan lamunannya. "Feizaaa" dia berteriak balik membuatku tertawa bersama Reyhan.


Sepulang sekolah sudah kulihat mobil Amri di seberang jalan depan gerbang sekolah. Dengan semangat aku mau menyeberangi jalan sampai nyaris keserempet motor yang melaju. membuat Milla yang berada di dekatku berteriak histeris memanggil namaku. Aku yang masih saja kaget sambil memegangi dadaku terus menunduk sampai akhirnya seseorang menyentuh pundakku dan segera membalikan badanku ke arahnya "Amri" kataku menatap wajahnya yang ternyata ikut kaget dengan kejadian yang dia lihat lewat spion mobilnya. "kenapasih gak hati hati ?" katanya khawatir sambil memperhatikanku berharap tidak ada luka sama sekali.

__ADS_1


"Kemana kamu berapa hari ini ?" tanyaku ke Amri yang masih memperhatikanku meyakinkan jika aku gak terluka akibat motor yang melaju tadi. Mendengar pertanyaanku dia terdiam dan menatapku, lalu berganti menatap Milla "Mill, boleh ditinggal kan ?" katanya yang berencana mengajakku jalan dengannya. Milla dengan senyumnya mengacungkan jari membentuk symbol Ok.


Dijalan menuju cafe biasa kami nongkrong yang berada di ujung jalan sekolah itu aju terus menatap Amri yang menyetir dengan santai dan tenang tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya, membuatku berdecak kesal dan membelakanginya menatap keluar jendela mobil.


"Turun yok" ajaknya yang sudah membuka pintu mobilnya duluan tapi aku masih diam gak bergeming sama sekali. "Brukk !!" terdengar dia menutup pintu mobilnya dan segera membukakan pintu mobil untukku. kulihat dia menjulurkan tangannya setelah membuka seatbelt di tempat dudukku. Seakan terhipnotis ku ikuti kemauannya dengan banyak pertanyaan dibenakku.


"kenapa aku bisa begitu mencintainya ?" tanyaku dalam hati. Sambil melihat genggaman tangannya ditanganku sepanjang jalan parkiran menuju dalam cafe. Didalam dia melepaskan genggamannya beralih membelai rambutku dengan sedikit mengacaknya "kenapa sih sayang" tanyanya membuatku langsung meliriknya dengan sendu. tangannya berganti lagi kepundak merangkulku menuju meja cafe yang biasa kami duduki. Aku mengikuti setiap iramanya tanpa berkata sedikitpun.


"Apa kamu gak mau menceritakan sesuatu kepadaku ?" tanyanya sembari duduk merapatkan kursinya dengan meja. "kayaknya akudeh yang harus tanya itu ke kamu" kataku yang akhirnya bersuara. "bahkan dimobil kamu gak menjawab pertanyaanku, sekarang seakan aku yang menutupi sesuatu" keluhku dengan wajah kesal membuatnya tersenyum gemas kepadaku.


"Hazelnut Coffee dua, Burger satu, Nasi goreng spesial satu" pesan Amri sekaligus memesankan untukku, akhirnya waitres meninggalkan kami setelah mengulangi pesanan Amri.


Dia menarik tanganku yang terlipat diatas meja cafe tapi aku menolak dan menariknya kembali karena masih kesal. Dia terus meminta maaf kepadaku layaknya membujuk anak kecil. "Aku sudah menjengukmu saat kamu belun sadar, tapi setelah itu aku ada urusan sampai aku baru bisa menemuimu hari ini" katanya setelah menghela nafas seakan mengatur kesabarannya.


Aku meliriknya karena sedikit luluh dengan alasan yang dilontarkan, aku tau dia berbohong, aku tau pasti Papi ada sangkut pautnya dengan Amri yang gak ada kabarnya beberapa hari ini. "Aku takut kamu ninggalin aku" kataku sendu dan sambil menahan air mata yang masih mampu terbendung.

__ADS_1


"Apasih Fei, gak mungkinlah" kata Amri yang mendekatkan lagi kursinya kesampingku. "Apa ada sesuatu terjadi selama aku pingsan ?" tanyaku ragu. "Maksudku Papi ..." lanjutku yang kemudian disela oleh Amri. "Aku benar benar sibuk beberapa hari ini dengan basketku, maaf kalo aku belum bisa memprioritaskanmu" kata Amri.


"Jangan marah lagi ya, aku benar benar jatuh cinta sama kamu Fei, aku serius dan gak bakal ninggalin kamu" kata Amri meyakinkanku. Memang terlihat bucin untuk sepasang kekasih yang masuh duduk di bangku SMA mengatakan hal hal tentang cinta tapi kami mempercayainya seserius itu.


"Ri, gimana kalo Papiku dan Ibumu masih belum merestui kita ?" tanyaku sembari menyenderkan kepala ke bahu Amri yang duduk disebelahku.


"Percayalah, kita cuma harus saling percaya dan saling mendukung, rencana Tuhan akan baik pada waktu yang tepat" kata Amri menenangkanku.


Ddrrrrttt ...


Ddrrrrttttt ...


Terasa getaran Hp ku yang berada di saku terdepan tas sekolahku. Aku merogohnya dan melihat kak Soni menelponku dan segera ku jawab telepon masuk darinya.


"Ya ka, hallo" kata ku memulai obrolan via telepon itu. "dimana Fei ? kakak disekolahmu" tanyanya terdengar khawatir. "Feiza sama Amri Ka di coffee shop di ujung jalan sekolah" jawabku. "yaudah kalo gitu nanti pulang sama Amri kan ? jangan kesorean ya nanti Papi marah loh" kata Ka Soni mengijinkan ku bersama Amri. "ok ka makasih ya" kataku seraya mengakhiri panggilan tersebut.

__ADS_1


__ADS_2