
Amri memaksaku untuk pulang bersamanya, karena tadinya aku ingin pulang sendiri tapi dia terus membujukku karena setelah ku fikir fikir benar juga kata Amri kalo bukan dia yang sepenuhnya salah dalam hal ini.
Aku terus diam di sepanjang jalan. Memikirkan bagaimana hubungan kami kedepannya. bahkan sekarang aku gak tau apakah kami masih bisa berhubungan setelah semua yang terjadi selama ini.
"Fei ... please ... jangan menjauh, jangan pergi, aku cinta sama kamu dan aku bakal cari cara buat selesaikan ini semua" Amri mengucapkan janjinya itu setelah kami sampai di parkiran kost. Aku hanya mematung bahkan tanpa memandangnya karena rasanya gak sanggup kehilangan Amri yang selama ini selalu ada dan menjadi yang paling mengerti keinginanku. Dia mencintaiku begitu dalam dan dengan bodohnya aku gak mempercayainya.
Aku meninggalkannya masuk ke kamarku tanpa mengucapkan sepatah katapun. "Fei ..." dengan lirih terdengar Amri memanggilku beberapa kali sepanjang langkahku meninggalkannya.
Didalam kamar aku hanya duduk bersandar di kasur sambil menangis semalaman. Tanpa kusadari aku bangun dengan mata sembab dan pakaian yang bahkan belum ku ganti semalaman karena sibuk menangis dan memikirkan masalah yang terus menerpaku.
"Fei ... Feiza ..." ada suara pria memanggilku dari luar kamar.
"Bukannya gak boleh ya pria ke bangunan kost wanita ?" pikirku sambil melangkah menuju pintu.
"ngapain ? bukannya gak boleh ..." belum sempat aku menyelesaikan pertanyaanku, Amri langsung memotongnya.
"Ssttt ..." dia menghentikan ucapanku dengan menaruh telunjuknya di bibirku hingga tertutup rapat. Dan kemudian dia melangkah maju mendekatiku hingga aku harus melangkah mundur. Entah pikiran kotor apa yang ada dibenakku saat itu, tapi aku terus mengikutinya.
Dengan segera dia menutup pintu kamar kost ku. dan melangkah menuju kasurku untuk duduk disana. Menatapku dan membuatku juga membalas tatapannya. "Fei ... maaf ya, aku sudah membuat matamu sembab seperti ini" katanya sambil memegangi kedua pipiku yang kala itu aku duduk disampingnya.
"Kenapa kesini ? nanti ibu kost ..." lagi lagi dia menghentikan ucapanku, kali ini dia membungkamku dengan telapak tanganya. "Ibu kost itu tanteku" bisiknya. "terus kemarin ... " aku ingin mengingatkannya saat aku mengunjungi kamarnya. "itu karena ..." dia melepaskan tangannya dari mulutku.
Aku memeluknya erat karena aku tau mungkin saja dia sangat berat untuk mengingat hal itu. "Aku tau ini berat, bagimu, bagiku juga, aku gak tau bagaimana kelanjutan hubungan kita nanti" aku berbicara dalam pelukan yang juga dibalasnya dengan erat.
Amri pernah marah disaat aku menjadikannya pacar taruhan. tapi dengan bijak dia memaafkan ku karena cintanya lebih besar dari rasa kecewanya. Itu yang dia pernah bilang disaat kami berbaikan. Dan sekarang, mungkin saja benar apa kata Amri kalo ini jebakan. karena bahkan dia adalah pacar yang baik untukku, bagaimana mungkin dia bisa memperlakukan wanita lain dengan buruk. Toh Reyhan juga pernah bilang kalo wanita itu memang tergila gila dengan Amri.
__ADS_1
Ya. Wanita yang dimaksud adalah teman kampus Amri yang sering mencari perhatiannya namun gak pernah digubris. Membuatnya nekat untuk menjebak Amri dan melakukan hal kotor di dalam kamar kost Amri.
"Aku yakin kamu gak ngapa ngapain dia" kataku sembari melepas pelukanku dari Amri. membuat Amri setidaknya tersenyum lega. "Aku cuma butuh kepercayaanmu Fei" katanya.
Nanti sore aku harus ke kotanya Ka Soni supaya aku benar benar gak terlihat bohong ke Papi. Karena pasti Papi bakal nanya aku sudah kemana aja disana. Sebelum itu aku check out dari kost dan menitipkan ransel ke kamar Amri sebelum dia membawaku jalan jalan bersamanya seharian ini.
Ini adalah masalah berat bagiku, rasanya gak sanggup karena setiap kali mengingatnya aku menjadi badmood. meskipun didekat Amri aku dengan mudahnya bahagia. terkadang aku melupakannya sejenak, tapi ada saatnya aku tiba tiba mengingatnya.
"Feiza ... Amri ..." Seseorang meneriaki kami yang baru saja keluar dari minimarket yang ternyata mereka adalah Reyhan dan David.
"Kalian ngapain ?" tanya Amri
"Fei ... mata mu sembab ?" Bukannya menjawab David malah memperhatikan mata sembabku.
"Eh iya... kamu apain sahabatku ini" Reyhan mendorong dada Amri dan membuat kami terkejut.
"Gimana Ri ... boleh ?" tanya David
"ngapain tanya dia, yang ngajak kan Feiza. kalo gak boleh ya Feiza aja yang ikut kita" terdengar nada kesal Reyhan saat berucap, membuatku menarik pelan dan mengelus lengannya berharap dia berhenti kesal ke Amri.
"Ayok lah kenapa gak boleh" seketika Amri menarikku kembali dari samping Reyhan kedekapannya.
Dari minimarket kami memutuskan untuk makan siang di kedai langganan mereka gak jauh dari minimarket itu, lagi lagi bukan cuma makanannya saja yang enak tapi pemandangan dipinggir danau gak kalah menarik dipandang mata.
"nanti kita jalan jalan ke taman itu ya" pintaku sambil menunjuk taman di sisi lain danau. mereka bertiga mengangguk bersamaan sambil mengunyah makanan pilihan mereka.
__ADS_1
"Hey ..." tiba tiba suara wanita tertangkap di telingaku, membuat kami memandang ke arah suara itu datang. benar saja wanita itu, dia yang di ceritakan Reyhan selama ini. "Pasti dia mengikuti kami" gerutuku dalam hati. Dia ikut bergabung bersama kami bahkan tanpa meminta persetujuan dari kami.
Aku terus memandanginya yang juga memandangiku selama kami bersama. "udah gausah diladenin" bisik Amri membuatku melepaskan pandanganku dari wanita itu. begitu juga Reyhan dan David yang dengan cepat sadar akan situasi gak menyenangkan diantara kamu.
"pergilah, kami bakal urus si centil" David mengirimkan pesan singkat ke Amri yang terbaca olehku karena duduk disampingnya.
Amri menarik tanganku tanpa mengucapkan apapun. sontak membuat wanita itu bertanya "kemana ?".
Aku yang daritadi menahan emosi pun menjawabnya "pacaran".
Rupanya jawabanku memancing emosinya, membuat dia beranjak dari duduknya dan menghampiriku lalu mendorong hingga aku hampir terjatuh, untung saja Amri dengan gesit menahanku.
"Cukup ya, kamu tau gak seburuk apa pacarmu ini ?" wanita itu rupanya ingin membongkar kejadian yang menimpa merek berdua. Amri menarik tanganku, mungkin karena dia takut akan memperkeruh suasana. Reyhan dan David ikut berdiri dan menengahi kami.
"Tin, ngomong apaan sih kamu tiba tiba marah gini" kata David.
"Rupanya kalian para sahabatnya juga gak tau kan kelakuan bejad sahabat kalian yang terlihat manis ini" wanita yang bernama Tina itu melanjutkan ucapannya.
"Dia sudah meniduriku" pernyataannya membuat Reyhan dan David menatap gak percaya ke Amri. Sedangkan wanita itu terus menatapku seakan menunggu ekspresi wajahku yang sudah diharapkannya.
"Aku tau ..." pandangan Reyhan dan David yang semulanke Amri sekarang beralih gak percaya menatapku.
"kalian ini apa apaan sih" Reyhan berucap seakan sedang mimpi.
"jangan bercanda gini lah" David menimpali
__ADS_1
"Aku tau semuanya, tapi aku yakin Amri gak bersalah, aku sangat tau bagaimana pacarku" dengan santai aku mengatakannya tepat dihadapan wanita itu. Lalu, setelah itu aku menarik tangan Amri untuk segera meninggalkan tempat itu.