Cinta Pertama Tanpa Restu

Cinta Pertama Tanpa Restu
Ketahuan


__ADS_3

"Amri" kata ku melihat ke layar Hp. Mungkin dia mau menanyakan kabarku setelah pulang kembali. "Apa ku telpon balik aja ya ?" gumam ku. "Siapa ?" tiba tiba ka Marwah menyusul ke kamarku. "kakak" sahut ku sambil menyembunyikan Hp ke belakang badan. ka Marwah berjalan mendekatiku sambil tersenyum menggoda "Hayooo ..." katanya sambil mencolek pinggangku dan duduk di sebelahku.


Terkadang aku menceritakan Amri ke Mami, seringkali juga Mami melihat Amri menjemputku beberapa kali. Tapi Papi, terlalu sibuk bekerja dan akhir akhir inipun weekendnya tetap disibukan dengan pekerjaan yang selalu menumpuk. Sejak ka Malik menikah dan ka Soni kuliah aku sudah jarang bercerita dengan mereka. Jujur aku senang ka Marwah menanyakannya, membuatku semangat bercerita. Bahkan tentang taruhan yang gak terlaksana itu.


"Syukurlah taruhan itu gak jadi, coba kalo jadi pasti dia marah sama kamu Fei" kata ka Marwah yang juga semangat mendengar adik iparnya yang sedang kasmaran.


"Tapi Fei, kenapa kamu tolak cintanya ?"


"Menurut ceritamu, kakak yakin dia beneran sayang sama kamu, bukan sekedar main main seperti pacaran remaja pada umumnya"


"kakak tau kalian masih muda, mencoba itu gak masalah toh kamu juga suka sama dia, kalian sama sama suka"


"Fei, lebih baik dicintai daripada mencintai, tapi lebih baik lagi saling mencintai"


Ka Marwah terus menasehati dan menyemangatiku. Dia sangat mendukungku supaya bisa pacaran sama Amri.


"Tapi Papi gimana ka ?" kataku yang tiba tiba di balas senyum lebar dari ka Marwah.


"kakak bantuin ya, nanti berdua sama kak Malik" bisiknya sambil mengedipkan satu mata dan mengacungkan jempolnya dihadapanku.


Tiba tiba Hp ku kembali berdering, "Amri" kataku menunjukan layar Hp ke hadapan ka Marwah. "Angkat Angkat Angkat" sorak ka Marwah semangat dengan wajah sumringah.


"Halo, Assalamuallaikum" kataku menjawab telpon sambil melirik ke kakak ipar ku itu.


"Waallaikumsalam, gimana ?" tanya Amri


"Apanya ?" Aku bingung apa yang di bahas, aku fikir dia salah sambung, tapi ini telpon kedua kalinya sejak telponnya gak ku jawab tadi


"Sudah baikan kah sekarang perasaannya ? Apa masih sedih ?" Tanyanya sedikit mengeja

__ADS_1


Aku tersenyum senyum mendengar pertanyaannya berbarengan dengan ka Marwah yang sedikit merapat menguping pembicaraan kami.


"Hey, Amri ya, Aku Marwah kakak iparnya Feiza, Dia bilang dia juga suka sama kamu" kata ka Marwah yang merebut Hp ku yang masih terhubung dengan Amri.


Aku berusaha merebutnya kembali, tapi sia sia. Ka Marwah terlalu lihai membuatku meringkuk dikasur menutupi wajahku dengan bantal.


"Fei, Fei, Amri mau bicara nih" kata ka Marwah sambil mencolek colek ku. "gamau" kataku yang merasa malu dengan ulahnya.


"Kakak loudspeaker ya, nih" bisiknya sambil berbaring di sampingku. Aku malu, tapi aku juga penasaran dengan apa yang akan Amri ucapkan setelah dia tau.


"Hey Fei ... gapapa kalo kamu gak mau ngomong, aku bakal tetap nunggu ko" katanya yang membuatku salah tingkah. "Istirahat ya, jangan sedih sedih, aku bakal ada kapanpun kamu butuh" lanjutnya yang kemudian kami mengakhiri telpon malam itu.


"Kakaaa ..." kataku sedikit berteriak sambil memukulnya perlahan dan ka Marwah hanya tertawa puas. "Ada apa ini ?" tanya ka Malik yang menyusul istrinya ke kamarku. Secepatnya aku menutup mulut kakak iparku.


"kakak senang kamu sudah terlihat lebih baik malam ini, Mami bilang untuk beberapa hari kamu bisa gak sekolah dulu sampe benar benar baik" kata ka Malik.


Papi dan Mami masuk kamar untuk memastikan aku baik baik saja dan setelah itu mereka semua meninggalkan ku dan beristirahat di kamar masing masing.


Paginya kami sarapan bersama seperti biasa, bedanya kali ini sedikit hening. Setelah sarapan aku kembali ke kamarku lagi dan mengurung diri seharian, makan siang di anter ke kamar oleh ka Marwah. "Kenapa ? masih bete ? ayolah keluar keluar dek" kata ka Marwah membujukku.


Akhirnya setelah selesai makan aku menurutinya untuk keluar kamar ke arah dapur membawa nampan berisi piring kotor bekas makanku. Didapur Mami menyiapkan bahan untuk membuat sesuatu. "Mami mau buat kue apa ?" tanyaku. Mami yang melihatku tersenyum dan menjawab "donat" katanya.


"Marwah bantu ya Mi" sahut ka Marwah dan akhirnya kami membuat donat bertiga. Suasana mulai mencair, disela menunggu adonan donat mengembang ka Marwah membisikan sesuatu ke Mami, aku yang berjarak agak jauh dari mereka melirik seakan akulah yang mereka bicarakan.


Mami membalas lirikanku dengan tambahan senyum menggoda. "sudah ku duga pasti kalian ngomongin aku kan" kata ku. Mami menarikku dan kami duduk di kursi ruang makan.


"Fei, ceritakan semuanya ke Mami"


"Kamu sudah ditembak Amri ?"

__ADS_1


"Kenapa ditolak?"


"Oh ya trus kmren kenapa bisa bareng"


"Tapi kalian gak macem macem kan"


Mami terus mengintrogasiku dan membuatku reflek mencubit ka Marwah yang berdiri disampingku.


"Feizaaaa ..." teriakan berasal dari pintu depan dan ternyata Milla yang datang langsung masuk lalu berlari kecil ke arahku untuk memelukku "lepasin Mill aku sesak napas nih" kataku. Dia memandangku dan bertanya tentang mata sembabku. "Sakit apasih, ko sampe sembab gini? Patah hati ?" tanya nya.


Aku menghela nafas panjang dan melangkahkan kaki ke dapur "kayaknya udah ngembang deh donatnya" kataku. "kakak aja sini yang goreng, kamu harus menceritakannya, selama ini Milla juga tau setiap rahasia mu kan" kata ka Marwah dengan lirikan menggoda. "Apa ini, ada apa, rahasia apanih" tanya Milla bingung.


Akhirnya aku menceritakan bagaimana aku bisa dekat dengan Amri sampai kejadian minggat itu ke Milla dan Mami. bukan hanya kaget tapi mereka juga terlihat bersemangat dan mendukung.


"Feiza sudah yakin ?" tanya Mami.


"Feiza gak tau Mi, Feiza takut" jawabku


"Takut apa ? dia itu idaman Fei" kata Milla meyakinkanku.


"karena itu Mill, karena dia idaman, banyak yang suka sama dia, gimana kalo nanti dia ..." aku gak melanjutkan kalimatku lalu ka Malik pulang dari bertemu temannya.


"kenapa diam ? kalian lagi bahas apa sih serius banget cewe cewe" tanya ka Malik.


"itu loh yang, cowo yang semalem ku ceritakan" sahut ka Marwah sambil membawa donat yang masih panas ke depan kami. Aku menepok jidat mendengar hal yang selama ini ku pendam akhirnya terumbar juga.


"ka, please jangan larang aku atau ikut menjelek jelekan Amri, dia membuatku pulang kerumah, bukan membantuku minggat" kataku sembari menunduk dan mulai takut.


Ka Malik mendekatiku dan mengacak rambut panjang yang lebih suka ku urai. "Kakak sudah dengar dari ka Marwah, kakak gak ngelarang ko, nanti kakak bantu bilang ke Papi ya, tapi sebelum itu kita harus ketemu Amri dulu, jadi kita bisa nilai langsung juga" kata ka Malik yang langsung dibenarkan dan setujui mereka semua. "ketemu ?" tanyaku gugup. "iya, kenapa sayang ?" tanya Mami. "ya gapapa sih Mi tapi kan bukan pacar" jawabku. "gak masalah toh kalian udah tau kalo kalian saling suka" sahut ka Marwah sambil tertawa kecil mengenang keisengannya di telpon dengan Amri semalam.

__ADS_1


__ADS_2