
Sudah lebih dari seminggu aku menetap di panti, tanpa kabar sedikitpun. Seketika bebanku hilang ketika bermain dengan anak anak panti dengan wajah wajah polos mereka. Tapi ketika malam hari dan sendirian dikamar aku kembali memikirkan setiap detail masalah masalahku.
"Mbak Fei, Maaf sebelumnya. Tapi ..." Ibu Panti menghampiriku yang sedang sendirian membuat mie instan di dapur panti. membuatku seketika menghentikan segala aktifitasku saat itu. "Kenapa Bu ?" tanyaku menanti lanjutan omongan Ibu Panti.
Dengan sangat seksama aku memandangi wajah Ibu Panti tapi tiba tiba pandanganku beralih kepada seseorang yang muncul dipintu dapur. Orang itu gak lain adalah Amri, "Amri ?"
"Ibu ngasitau Amri ?" aku kembali menatap Ibu Panti.
"Jangan salahkan Bu yun, Aku kesini sendiri tanpa tau kamu ada disini" Amri menjawab pertanyaan yang kulontarkan ke Bu Yun, Ibu Panti.
Aku bergegas keluar dari dapur melewati pintu dimana Amri berdiri namun dia menahanku. "Sudah kubilang ceritakan apa saja padaku, jangan pernah minggat kayak anak kecil gini" Amri bicara dengan menahan amarah yang ingin sekali diluapkannya.
"lihat mereka, mereka semua menginginkan keluarga tapi gak bisa mendapatkannya. Tapi kamu ? malah meninggalkan keluarga demi ego mu sendiri" Amri mulai menaikan level amarahnya karena aku masih terus berusaha melepaskan cengkramannya ditanganku.
Seperti tanpa mengampuniku sama sekali dia terus mengoceh dengan penuh amarah. "Apalagi yang buat kamu seperti ini ? kamu tau, Soraya memanggil Ibuku saat kalian diruang BK" tiba tiba pengakuan Amri mengejutkanku membuat aku menatapnya dengan penuh rasa takut. Kemudian kakiku seakan lemas tanpa tenaga, terjatuh lunglai ke lantai kemudian menangis.
Ibu Panti menghampiri dan membopongku ke kamar tidur. "kalian bicaralah disini. diluar banyak anak anak" kata Ibu Panti dengan sangat lembut. Kemudian Ibu Panti keluar meninggalkanku berdua dengan Amri.
Didalam kamar aku terduduk ditepi kasur sedangkan Amri menarik kursi agar lebih mendekat denganku.
"Fei, kamu kenapa ? Aku sudah bilang kan gausah ladenin cewek itu, aku cintanya sama kamu" kata Amri sembari mengangkat kedua pipiku dengan tangannya dengan terus memintaku supaya menatap kedua matanya.
"Aku gak peduli sekalipun Ibuku gak suka sama kamu. Selama ini dia bahkan gak ada untukku, jadi buat apa harus menurutinya ?" Tiba tiba Amri yang sama sekali gak mendengar sedikitpun suara keluar dari mulutku, Dia berdiri dengan kasarnya sampai membuat kursi kayu yang didudukinya terjatuh kebelakang.
"Ri ... udahlah" kataku yang akhirnya bersuara, membuat Amri yang menatap ke berbagai arah langsung menujukan tatapannya kepadaku. Sejenak kami saling bertatapan. kemudian dia kembali duduk, tapi kini duduk disampingku.
"Pulanglah, ikuti satu kali ujian lagi. Setelah lulus, aku bakal menepati janjiku ke kamu" Amri membisikanku dengan sangat lembut.
__ADS_1
"Tapi ..."
"gak ada tapi tapian, please jangan mempersulitku. Apa kamu mau aku makin terlihat buruk didepan Papi mu ?" dia berucap manja seakan mengejekku.
Setelah akhirnya dia berhasil membujukku, aku pamit dengan seluruh penghuni Panti sebelum meninggalkan tempat ternyamanku saat itu. "Maaf ya bu, Feiza sudah merepotkan selama ini"
Di sepanjang perjalanan pulang aku terus memeluk erat Amri yang saat itu mengendarai motor.
"tau gini kemaren kemaren pake motor aja jalannya" ledek Amri yamg sepertinya menikmati pelukanku diatas motornya. Membuatku malu dan melepaskan pelukanku. Namun dengan gesit dia menahan tanganku agar tetap memeluknya.
"jangan dilepas Fei, jangan"
Tiba tiba, terbersit dalam pikiranku janji yang ingin di penuhi Amri setelah lulus.
"Ri ..." aku berusaha memangil Amri namun gak dijawab.
"Apaan sih" katanya sambil mencoba menyentuh kepalaku yang masih bersender dibelakang bahunya
"Janji yang $%^**()?"_,:_"
"Apa ? kenapa ? gak dengar"
Angin yang terlalu kencang dan mengacaukan suara kami akhirnya membuatku mengurungkan niat untuk bertanya tentang janji Amri.
Hari sudah agak siang saat aku sampai didepan rumah, sangat takut memang untuk kembali setelah minggat lebih dari seminggu tanpa kabar. "pulanglah, aku gak mau kamu disalahkan lagi kali ini" pinta ku ke Amri yang langsung disetujuinya. "ingat ya, aku selalu ada buatmu" kata Amri sebelum melajukan motornya.
Terlihat pintu depan rumahku gak tertutup rapat, masih ada celah sehingga aku langsung menyelonong masuk. Namun yang kembali tersuguhkan adalah perkelahian kedua orang tuaku yang kini terdengar lebih jelas.
__ADS_1
"Dia memang bukan anakku, tapi aku sangat menyayanginya" Mami berteriak tepat didepan wajah Papi.
"Siapa yang bukan anak kandung ?" aku bertanya tanya dalam hati, rasa penasaran membuatku bersembunyi merapat di dinding pembatas berharap mengetahui informasi lebih detail.
"Sangat sayang katamu ? sampai kamu besarkan dengan sifat kekanakan seperti ini ?"
"kenapa kamu terus menyalahkanku, kamu juga memanjakannya, lupa kamu siapa yang membela setiap kali aku marahi anak anak ? aku gak pernah membedakan mereka, tapi kamu selalu memarahiku balik ketika aku menegur mereka" Mami mulai menangis ketika mencurahkan isi hatinya.
"aku bahkan gak pernah marah ketika kamu membawa hasil dari kesalahanmu " tiba tiba ucapan Mami membuat tanganku bergerak hingga menggeser perabot diatas meja sampai jatuh dan menimbulkan suara. Membuat mereka bersua reflek menoleh ke arah suara dan yang mereka temukan adalah aku dengan wajah penuh air mata.
"Apa maksud pembicaraan kalian ? Kesalahan apa ?" tanyaku yang otakku dipenuhi dengan pikiran negatif.
"Feiza ..." Mami berusaha mendekat dan menyentuhku tapi aku menepisnya.
"Siapa yang bukan anak kandung ?" tiba tiba suara tertinggiku melengking di ruang tamu rumahku, membuat Ka Soni yang baru saja sampai terkejut dibuatnya.
"Feiza ... sudah pulang ? kenapa kamu menjadi kasar ?" tanya ka Soni karena mendengarku membentak kedua orang tuaku.
"kakak mungkin gak tau juga rahasia ini, kenapa gak kalian ceritakan saja" kataku dengan nada rendah dam melirik ke Papi dan Mami secara bergantian.
"Ada Apa ini Mi ... Pi ..." tanya ka Soni.
"Duduk dulu nak, Papi akan menceritakan semuanya" pinta Papi dan akhirnya kami menurutinya.
Begitu lama kaki duduk di ruang tengah tanpa mendengar pengakuan apapun dari Papi ataupun Mami.
"Gapapa kalo kalian gak mau cerita, Feiza juga mungkin gak akan mempercayai cerita yang akan kalian ceritakan, terlalu banyak kebohongan dirumah ini. Feiza capek" kataku yang kemudian beranjak dan melangkahkan kali ke arah kamar tidurku dilantai dua.
__ADS_1
Berulang kali ku dengar Mami memanggil manggil namaku tapi aku tetap melangkahkan kaki menyusuri tangga hingga sampai di dalam kamar tidurku.