
Pagi yang sama seperti hari hari sebelumnya. Sarapan bersama kedua orang tuaku dan bersiap kesekolah untuk mengikuti ujian susulan.
"Mami akan temani Feiza hari ini" kata Mami diruang makan.
"gausah Mi, Feiza bisa sendiri" kataku menolaknya.
"Biar Papi anter ya" kata papi yang langsung ku anggukan kepala.
Seperti yang sudah ku rencanakan tempo hari bersama Milla dan Reyhan. Sepulang sekolah aku akan bertemu Amri.
"Feizaa ..." teriak Milla dari arah parkiran. Segera aku berlari ke arahnya dan masuk ke mobil yang dikendarai Reyhan.
"Jadi sekarang kita kemana ?" tanyaku semangat.
"Coffee shop langganan" jawab Reyhan yang langsung membelokan stir nya ke arah tujuan kami.
Sampai di Cafe, kami menunggu lebih dari setengah jam tapi Amri sama sekali gak datang bahkan gak bisa dihubungi.
"gimana sih padahal dia yang pilih tempat ini supaya gak jauh jauh dari rumah Feiza" Milla mulai mengeluh.
"Mill, Rey, kita samperin kerumahnya aja gimana ?" pintaku yang khawatir dengan pacarku itu. dan dengan cepat sahabat sahabatku menyetujui permintaanku.
Sepanjang perjalanan ke rumah Amri aku terus mencoba menelponnya dan mengiriminya pesan singkat tapi tidak sama sekali dia meresponku.
Sampai akhirnya Reyhan memarkirkan mobilnya di halaman rumah Amri. "Banyak banget mobil Amri" kata Reyhan. "Inisih bukan banyak, pasti ada acara didalam" sahut Milla. Sedangkan aku terus memandangi sekitar berharap menemukan jawaban atas pertanyaan pertanyaan yang berkeliling di dalam otakku.
Aku memutuskan untuk turun dari mobil dan memasuki rumah Amri. Tapi baru saja sampai di terasnya tiba tiba suara menggelegar dari dalam rumah mengejutkan kami bertiga.
"Amri gak akan pernah mau Ibu jodohkan dengan siapapun yang bukan Amri cintai"
"Berani melawan Ibu sekarang ya, karena cewek nakal itu ?"
"Feiza gak nakal, Feiza hanya membela diri dari wanita pilihan Ibu yang selalu membuat onar di sekolahnya"
"Cukup, jangan menghina anak saya" tiba tiba perdebatan ibu dan anak itu disahuti Ibunya Soraya yang gak terima anaknya dijelek jelekan oleh Amri.
__ADS_1
"Memang benar dia wanita pembuat onar" tiba tiba Milla yang berada disampingku menggerutu, membuatku menoleh ke arahnya dan memberi kode agar tetap diam.
"Lihat anakmu Mas, kamu ajarkan apa kepadanya selama ini sampai dia membantah Ibu kandungnya sendiri" Ibunya Amri mulai menyalahkan mantan suaminya.
"Ayah gak salah mendidikku Bu, Tapi bukankan sosok Ibu juga harusnya ku perlukan dalam hidupku ?" Amri membela Ayahnya.
"Kemana Ibu selama ini ? menghilang dan tiba tiba datang membawakan ku jodoh secara paksa ? Ibu macam apa ..."
"Amri ... Cukup !!" Ayah Amri menghentikan ucapan Amri yang sudah mulai kasar.
"Feiza ..." tiba tiba Soraya melihatku dan seisi ruangan menoleh ke arahku ketika mendengar Soraya menyebut namaku.
Melihat pemandangan gak menyenangkan itu aku melangkah mundur perlahan tapi Amri dengan cekatan berlari dan menahanku supaya gak pergi.
"Semuanya lihat. lihat kemari. jika ada yang harus menjadi istriku adalah dia. Feiza !!" kata Amri dengan sangat lantang.
Aku berusaha melepaskan genggaman tangan Anri di pergelangan tanganku tapi genggaman itu terlalu kuat.
"Ri, lepasin Feiza itu bekan infusannya" bisik Milla yang mendekatkan diri ke Amri. Membuat Amri tersadar akan kesalahnnya dan meminta maaf kepadaku.
Aku memegangi tanganku yang masih terlihat bengkak sambil sesekali melirik Amri yang masih mengoceh depan keluarganya dan keluarga Soraya supaya mereka mau membatalkan perjodohan sepihak itu.
Sontak saja melihatnya membuat Soraya bagai cacing kepanasan. Melemparkan tatapan sinis kepadaku.
"Kalian sudah mendengar apa keputusan anakku kan ? maka pergilah dari sini" Ayah Amri akhirnya angkat suara mengusir mantan istrinya dan keluarga Soraya dari rumahnya.
Dengan sangat penuh amarah mereka semua pergi meninggalkan pekarangan rumah Amri. "Ibu menyesal melahirkan anak sepertimu" Ibunya berbisik ke Amri dan aku mendengarnya.
Setelah semua mobil itu pergi, Ayah Amri mempersilahkan kami semua untuk masuk kerumahnya. "Ayo biar kita ngobrol didalam aja, nak Feiza juga kan baru sembuh sakit jadi jangan banyak berdiri, ayo duduk didalam" Begitu ramahnya Ayah Amri kepadaku.
"Ibu datang setelah bertahun tahun meninggalkan kami tanpa kabar sedikitpun. Dan dia kembali dengan seenaknya menjodohkanku. Mana bisa aku menerimanya" Amri yang masih tersulut emosi terus melampiaskan amarahnya sampai benar benar tenang aku terus mengusap punggung tangannya.
"Nak, Jika kamu siap, Sepertinya Om akan melamarkan mu untuk putra Om yang sudah sangat mencintaimu ini" kata Ayah Amri yang tiba tiba membuat kami serempak memandangnya dengan wajah kaget gak menyangka.
"Ayah ..." Amri menyela Ayahnya
__ADS_1
Aku yang mendengarnya dan diikuti semua tatapan tertuju padaku membuat pipi tembemku mupai merah merona.
"Apa Ayah berucap salah ? Lebih baik kamu nikahi saja Nak Feiza daripada jadi omongan orang. Toh kalian sudah lulus SMA" Ayah Amri juga dulu menikah muda dengan Ibunya Amri, terang saja Ia mengizinkan kami mengikuti jejaknya.
"Yah, jangan dibahas dulu. Pengumuman kelulusan aja belum keluar" Amri terlihat salah tingkah, tapi aku juga menilainya mungkin belum siap untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih serius. Mengingat umur kami yang bahkan belum genap 18 tahun.
"Gimana Fei ?" Ayah Amri gak gentar meyakinkan kami bahkan didepan Milla dan Reyhan yang juga ada bersama kami.
"Yaudah Fei, Ri, kalian nikah aja biar mak lampir itu gak ganggu ganggu kalian lagi" tiba tiba Milla berkata dengan sangat bersemangat. diikuti Reyhan yang juga menyetujuinya.
Sedangkan aku dan Amri gak bergeming menyaksikan mereka yang menginginkan hubungan kami lebih dari pacaran.
"Maaf Om, Semuanya maaf ya. Aku juga serius sama Amri, tapi untuk nikah muda aku juga belum siap. Terlebih Papi belum memberikan kami restu" akhirnya aku memberikan alasan supaya pembicaraan itu berakhir.
"Gak masalah Nak, semua ada ditanganmu. Om bakal bantu kalo memang kalian butuh bantuan Om" dengan memendam kecewa di balik senyumnya, Ayah Amri menerima keputusanku.
"Tunangan aja dulu Fei" ternyata Milla masih belum puas dengan keputusanku.
"Milla ..." Reyhan menahan mulut Milla dengan telapak tangannya, membuat suasana menjadi cair dan kami menertawainya.
"Lalu, gimana rencana kalian setelah ini ?" tanya Reyhan.
"Kami belum punya rencana apapun. Mungkin setelah ini kami bakal lanjut kuliah sesuai pilihan kami masing masing" kataku menjelaskan.
"Ya sambil memikirkan bagaimana mendapat restu dari Papinya Feiza" timpal Amri.
"Ibumu juga" sahut ku.
"Hhmm ..." rupanya Amri sudah gak memperdulikan Ibunya lagi.
"Bagaimanapun Ibu tetap Ibu, wanita yang melahirkanmu" kataku.
"hanya melahirkan, selebihnya ?" Amri mulai terpancing emosi lagi.
"Melahirkan pun mempertaruhkan nyawa, lagipula kamu hidup dan dijaganya selama didalam rahimnya" aku berusaha membujuknya tapi dia malah makin emosi.
__ADS_1
"Fei, sudah kesorean ini, pulang yok, keburu Papi mu pulang" ajak Reyhan.
kupandangi jam yang melingkar di pergelangan tanganku dan beranjak untuk berpamitan ke Amri dan Ayahnya.