
Masih dalam perjalanan bersama Ka Soni yang bahkan belum sampai ketempat tujuan. Aku belum juga tau mau dibawa kemana aku bersama kakak ku ini.
"Sampai ..." akhirnya setelah hampir satu jam diperjalanan.
"Dimana kita Ka ?" tanyaku makin bingung.
"Udah ikut aja yok" Dia keluar dari pintu mobilnya dan membukakan pintu mobil disisiku. Aku mengikutinya dengan rasa penasaran yang penuh.
"Tunggu..." tiba tiba dia menghentikan langkahku.
"Apasih ka ... tau gini malas ikit deh Feiza" keluhku.
Tiba tiba kak Soni mengeluarkan sapu tangan dan menutup mataku dengan sangat rapat "Ka Sakiiitt" aku mulai kesal dan hampir saja menangis.
"Ayok ikut, kakak pegangin, gausah ngomel terus nanti cepat tua loh"
Aku terus berjalan sampai terasa pasir pasir pantai masuk dalam sela sela jari kaki ku. "masih jauh kah ka ? Feiza capek" aku masih saja mengeluh kepadanya.
"Kakak ..." tiba tiba kak Soni melepaskan tangannya dariku membuatku hampir saja terjatuh dipasir pantai. Syukurlah ditangkap kembali.
"Bisa capek ya Princess Chubby ku" seketika seseorang membuka penutup mataku dan Amri terlihat jelas dihadapanku. Membuatku meloncat memeluknya, gak perduli dengan berat badanku yang mungkin membebaninya, dia balik memelukku dan sedikit mengangkat badanku lalu kami berputar di pinggir pantai sebentar "Duh makin berat ya" ledeknya setelah menurunkanku dari gendongannya. Terdengar dia ngos ngosan karena menopang badanku yang lumayan naik beratnya.
Aku mengerucutkan bibirku dan merengek seakan minta pembelaan dari kakakku "Kakaaaaakk ..."
Bukannya membelaku tapi malah makin meledekku bergantian dengan Amri.
"Memang benar kamu makin gendut" kata kak Soni
"lihatlah pipimu ini" Amri mencubit gemas pipi tembemku.
"Fei, kalo sekarang aja kamu begendut gimana kalo nikah sama Amri trus hamil" seketika pernyataan Milla membelalakan mataku dan membuat semua orang tertawa geli mendengarnya.
Bukan hanya Amri. Ada Milla, Reyhan, bahkan David disana. Serta ketiga teman Amri yang tempo hari camping bersama kami, Aksan, Bagas, dan Mardi.
__ADS_1
Perayaan kecil untuk late surprise yang mereka berikan kepadaku membuatku terharu. "Kalian sengaja ya telat kasi kejutannya" kataku.
Syukur ka Soni melarangku ganti baju tadi kalo gak mungkin aku bakal salah kostum. Dress pendek dengan celana pendek dan sendal jepit. mereka pun memakai pakaian serupa, pakaian santai yang cocok untuk pesta kecil di pantai.
"Panaaaaasss ..." lagi lagi aku mengeluh dengan terik matahari yang mulai naik tepat di atas kepala. membuat kami duduk selonjoran di bawah pohon rindang dan menikmati makan siang yang sudah mereka siapkan hari itu.
"Enak nih makanannya. kalo bukan karena ulang tahun Feiza mungkin Amri gak akan ngajak kita makan makan kayak gini" Bagas mulai mengungkapkan kegembiraannya. Membuat Amri yang duduk disebelahnya langsung melayangkan tangan ke kepala Bagas.
"Apa salahku ? aku mengatakan yang sejujurnya" Bagas merasa gak terima dengan respon temannya itu.
"Sudahlah, nikmati saja makananmu" Aksan menengahi mereka.
Setelah kenyang melahap banyak makanan yang mereka siapkan, kami duduk bersantai. Aku dan Milla sibuk mengambil foto kebersamaan kami. Gak lupa untuk memotret para lelaki yang menemani kami bagai bodyguard.
"Sayang, foto berdua yok. Liat tuh Milla sama David aja selfie" seketika permintaan itu membuatku melirik tajam ke Amri. "Gak mau !!" kataku sambil menjulurkan lidah seakan meledeknya. Membuat dia menggelitikiku hingga kegelian.
"Feiza ... kenapa dek" Ditengah kegelian tiba tiba aku meringis kesakitan. Ka Soni langsung menjauhkan Amri dariku dan memastikan keadaanku.
"Gapapa ka, Feiza becanda" seketika semua orang dengan wajah panik berubah menjadi kesal dengan pengakuanku dan kembali dengan aktifitas mereka lagi.
Amri mendekat dan berbisik pelan "Aku tau kamu gak lagi bercanda" membuatku menatap kedua matanya dengan senyum yang sedikit menyengir. "Udah minum obat ?" tanyanya lembut. "Astaga lupa ... kakak obatku mana" aku langsung menghampiri kak Soni yang kutitipi obat didalam tasnya. Dia juga membantuku meminum obat obatan yang masih ku konsumsi belakangan ini.
"Duuhhh ... jadi cewek penyakitan nih sekarang" terdengar suara Soraya yang ternyata mendatangi kami.
"Ngapain kamu kesini" Milla beranjak dari sisi David untuk melawan Soraya yang langsung mundur ketika Milla menghampirinya.
"Eits jangan galak galak sayang. Gak malu sama pacarnya ?" sahut Nilam
"Lanjutkan sayaaaang" Seru David meledek geng julid.
"David" tegur Amri
"Sudah Mill gausah ladenin makhluk seperti mereka" Kalimat yang di lontarkan Amri seketika membuat amarah Soraya memuncak.
__ADS_1
"Makhluk seperti apa yang kamu maksud ?" Bentak Soraya sambil mengacak pinggang dihadapan mantan calon suaminya itu.
"Lantas makhluk seperti apa pacarmu yang hanya menjadikanmu pacar taruhan" seketika yang kutakutkan terjadi. Ulfa dengan lantang berbicara ke Amri tentang taruhan yang pernah kami sepakati.
"Taruhan ?"
"Taruhan Apa"
Semua yang ada disana saling bertanya satu sama lain, terkecuali Milla dan Reyhan yang sudah mengetahuinya.
"Feiza ..." ka Soni menegurku.
"Feiza bisa jelaskan ka" Aku mulai gemetar ketakutan hingga akhirnya terjatuh tetesan air di pelupuk mata.
"Apapun yang kalian bicarakan dan kalian sepakati aku gak peduli. Apalagi kalo ini adalah rencana kalian untuk menghancurkan hubunganku dan Feiza" Amri angkat bicara setelah terdiam cukup lama. Tapi kulihat dengan jelas wajahnya yang begitu menahan kekesalan yang mungkin saja ditujukan kepadaku.
"Aku minta kalian pergilah" Kak Soni mengusir halus geng julid.
Aku berusaha mengambil tangan Amri untuk ku genggam, tapi dia menepisnya.
"Amri !!" bentak Kak Soni.
"Jangan karena dia adikmu lantas kakak membelanya" Amri dengan suara pelan berkata ke Ka Soni.
"Sudahlah ka, ini bukan salah Amri" kataku yang menahan tangis kemudian menjatuhkan badan yang mulai terasa lemah. terduduk diatas alas terpal yang kami duduki di pantai.
"Fei ... Feiza ... Kamu gapapa ..." Mereka bergantian menanyai dan mengkhawatirkanku termasuk Amri yang luluh melihat keadaanku. Tapi Ka Soni menepis tangannya dariku.
Ka Soni menggendong dan membawaku ke dalam mobilnya dan meninggalkan pantai. masih ku dengar teriakan Amri memanggilku yang gak digubris sama Ka Soni.
"Kakak harusnya jangan gitu ke Amri" disaat lemah pun aku berusaha bersuara dan memohon ke Kak Soni.
"Jangan bawa Feiza pulang ka, nanti Mami dan nenek khawatir" pintaku yang akhirnya Ka Soni menghentikan dan memarkirkan mobilnya di depan minimarket.
__ADS_1
"Kita istirahat disini ya, kakak belikan kamu minum dulu" kata Ka Soni sembari keluar dari mobil menuju minimarket tersebut.
Gak begitu lama kak Soni kembali dengan beberapa kantong plastik berlabel minimarket yang disinggahinya. "kenapa banyak ka belanjanya ?" tanyaku memperhatikan plastik plastik yang dibawanya. "Buat stock" jawabnya singkat.