
Malam sebelum Milla sparing basket di sekolah Amri, Dia mengajakku ke Food Festival tahunan dikota kami. Aku selalu ikut karena disana banyak varian makanan baru dan enak enak. Aku memang suka sekali makan, mungkin karena dari kecil aku terbiasa dengan resep resep dan eksperimen di dapur bareng Mami
Sebenarnya aku malas untuk ikut ditahun ini karena ditahun tahun sebelumnya aku hanya pergi berdua Milla dan kadang bersama teman SMP kami, tapi kali ini kami pergi bertiga, aku, Milla, dan David, pacar baru Milla. Karena aku terus dipaksa olehnya maka akupun ikut dengan mereka.
Hal yang tidak disangka pun terjadi. pas banget baru nyampe, diparkiran ada yang menghampiri kami. Mereka adalah tim basket cowo disekolahku. "kenapa gak bilang sih" bisikku ke Milla. "aku juga gak tau David ngajak teman temannya" kata Milla yang berbalik membisiki ku. Di satu sisi aku berfikir "baguslah setidaknya aku gak jadi obat nyamuk di antara Milla dan David" tapi disisi lain aku juga mengeluh karena bingung harus bersikap apa didepan mereka. Entah bagaimana Milla bisa dengan mudahnya dekat dengan anak anak itu, apa karena mereka sama sama populer di sekolah. Sesekali mereka menanyaiku, dan akhirnya aku bisa lebih berbaur dengan mereka. "gak nyangka ya Fei kamu itu lucu jg, bawel, kirain yipe cewe kalem gitu" kata salah satu teman David, semua tertawa setelah mendengarnya. Sedangkan aku hanya memberikan senyum tipisku. "gausah baper ya kalo sama mereka emang mulutnya suka asal nyeblak aja" sahut yang lainnya. "gak masalah ko" jawabku pendek.
__ADS_1
Disana kami saling mengobrol, termasuk aku yang sudah mulai berbaur. Ternyata gak seburuk yang ku fikirkan. Mereka baik dan ramah, mereka juga mengajakku bicara dan memandang keberadaanku. Bahkan aku gak cukup percaya diri untuk duduk dengan mereka. Tanpa aku ketahui, ternyata David berniat mencomblangkan ku dengan salah satu temannya sekaligus sepupunya. "kalian itu cocok, coba deh dijalanin dulu" goda Milla yang menyetujui rencana pacarnya. "elu gak lupa sesuatu kan Mill?" bisikku mengingatkannya tentang taruhanku dengan geng julid. "lupakan aja dulu, kembali kekenyataan aja dulu" jawabnya.
Aku memutuskan keliling stand untuk mencoba beberapa dagangan disana. "suka makan ?" tanya Mario, cowo yang mau di comblangkan denganku. Aku mengangguk malu padanya. "Duh kenapa sih gak bisa banget jaga image Feizaaaaa ..." keluhku dalam hati. Dan betapa terkejutnya aku ketika dia menawarkan diri untuk menemaniku berkeliling stand. Tadinya aku sudah menolak tapi teman temannya bersorak seakan menertawainya yang gagal pedekate ke aku. Milla juga membujukku supaya aku menerima ajakannya untuk menemaniku berkeliling "mending ditemenin lah Fei daripada sendiri, bukan ide yang buruk kan" katanya. Dan akhirnya pun aku menerima ajakannya.
Kami berkeliling stand di Food Festival itu sambil mencoba beberapa dagangan yang menarik. "Seru ya" kata Mario. aku tersenyum lebar sambil menatapnya, mengisyaratkan bahwa aku menikmati malam itu. Sampai akhirnya, aku melihat Amri di salah satu stand penjual kopi. "Nah itu disana minumannya enak banget loh" kata Mario sambil menunjuk ke arah Amri. Kami mengdekat ke stand kopi itu dan memesan minuman disana. "hot chocolatte satu" kataku memesan minuman sambil sesekali aku mencuri pandang ke arah Amri. "Hazelnut Ice Coffee recomended sih" kata Amri yang berdiri disamping kasirnya. "sesuai yang di pesan aja lah" sahut Mario. "Boleh deh Hazelnut satu" jawabku sambil celingak celinguk sekelilingku, bukan karena mencari sesuatu tapi bertemu untuk pertama kali sama Amri si moment seperti ini malah membuatku salah tingkah. Bagaimana tidak, apa yang difikirkannya melihatku bersama Mario ? Nanti yang ada dia malah mikir Mario pacarku, atau malah dia gak memperhatikanku. Lagian apa yang membuatku berfikir dia bakal mengingatku dari banyaknya orang yang lalu lalang dan mampir ke stand kopi nya dia.
__ADS_1
Malam itu lumayan banyak kuliner yang ku coba, seperti biasanya di tahun tahun sebelumnya. Aku bakal pulang setelah perutku merasa kenyang. "kamu suka banget makan ya Fei, gak takut gendut ?" tanya Mario membuat mood ku turun drastis. Sejujurnya kadang aku gak pernah berfikir tentang penampilan yang menurutku baik baik saja. Aku memang gak punya body goals tapi aku juga gak gendut gendut banget. gini gini aku masih kuat lari ko, hanya saja lenganku sedikit bergelambir, hahaha. Bukannya menjawab pertanyaan Mario yang gak penting itu aku malah memberinya senyum yang terlihat terpaksa. Saat itu aku menahan jengkel, bahkan emosi. Cewe mana sih yang gak bete ditanya hal hal sensitif.
Milla masih saja belum mau pulang dan memilih menghabiskan waktu dengan pacar dan teman temannya. Bahkan ketika aku bilang mau pulang dia memintaku pulang duluan. Memang benar semenjak berpacaran Milla sedikit berubah, aku memakluminya karena dia harus berbagi waktu, bukan selalu harus bersamaku. Tapi, Milla sempat menyarankanku pulang bersama Mario karena sebelumnya Mario menawarkan diri untuk mengantarku. Bukannya menerima tawarannya aku bahkan menolak cowo ganteng bak artis korea itu. "kenapa sih Fei, Ka Mario udah berbaik hati loh" kata Milla. "gapapa makasih, lagian kan temen temen ka Mario masih disini, aku bisa pulang sendiri ko" jawabku meyakinkan mereka.
Bukannya gak mau, tapi entah kenapa aku kurang nyaman dengannya. Heran, padahal Mario itu salah satu cowo populer disekolahku. Dipintu keluar Food Festival itu Hp ku berdering. Rupanya sudah ada 12 kali missed call dari Mami, "Maaf Mi tadi suara musik nya kekencangan jadi gak dengar suara Mami" kata ku menjawb telepon dari Mami. "Fei, gausah pulang ya nginep di rumah Milla aja dulu" kata Mami dan reflek membuatku bertanya tanya. Meskipun Mami beralasan menjenguk Nenek dan lupa titipin kunci rumah, tapi aku gak langsung percaya begitu aja. Entah kenapa seperti ada yang ganjel, dari tadi bahkan aku resah meskipun aku mencoba berkeliling dan menikmati suasana Food Festival yang ku sukai dan gak terlewatkan setiap tahunnya.
__ADS_1
Mami gak mengatakan yang sebenarnya dan terus meyakinkan bahwa dia gak kenapa napa, pada akhirnya aku harus menerima alasan Mami karena menurutku percuma mendesaknya. Setelah ku akhiri telpon sama Mami, bukannya balik ke dalam area untuk menemui Milla dan teman temannya, aku malah berjalan tanpa arah entah mau kemana. Sempat duduk lama diparkiran, tapi ketika jam tanganku sudah menunjukkan angka ke 11 aku memutuskan meninggalkan area itu. Dan akhirnya aku kembali pulang kerumahku. Benar saja seperti yang ku duga, Mami berbohong ...