
Setelah merasa lebih baik aku mengatakan kepada Ka Soni untuk segera pulang "Sudah sore juga nih ka" kataku dan membuat ka Soni melajukan mobilnya.
"Gimana jalan jalannya ? Seru ?" tanya Mami sambil menaik turunkan alisnya dan memberiku senyum usil. "Mami tau Feiza kemana ?" bisikku pelan dan sangat hati hati karena ternyata Papi pulang kerja lebih awal.
"Kemana kalian hari ini ? pantai ?" Papi tiba tiba menghampiriku dan pertanyaannya membuatku melirik Ka Soni, berharap kakakku memiliki alasan.
"Ko Papi tau ? tadi emang ke pantai sih, anak manja ini katanya mau main pasir pantai, liat tuh kakinya kotor banget" Ka Soni memang selalu punya alasan. Perkataannya membuat senyumku tersungging lebar dan pastinya aku bisa bernapas lega mendengar Papi percaya dengan jawaban ka Soni.
"Feiza capek gak ? Papi mau ajak kalian semua ke acara bos Papi" Rupanya itulah alasan kenapa Papi pulang lebih awal. "Gak ko Pi, ini Feiza mandi dan siap siap dulu ya" Ka Soni hanya geleng geleng kepala melihatku yang baru saja kambuh sakit kepalanya malah menerima ajakan Papi, "Bukannya istirahat" gumamnya seraya berjalan mendahuluiku.
Mau bagaimana lagi kan kasian Papi kalo ajakannya ditolak, sudah belain pulang lebih awal demi ajakan ini. Ya meskipun kepalaku masih terasa sedikit sakit.
"Sudah siap ?" tanya Papi kepadaku yang baru saja menuruni tangga. Sudah ada Mami, Papi, Nenek dan Ka Soni diruang tengah menungguku yang lumayan lama dandannya karena sungguh aku gak handal dandan. "Siap Pi" aku begitu bersemangat.
"Ka Malik gak ikut ?" tiba tiba aku menghentikan semua langkah dengan pertanyaanku. "Malik nyusul ke tempat acara" jawab Papi yang langsung melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.
Butuh waktu dua puluh menit dari rumahku ke hotel berbintang lima yang menjadi tujuan kami. "acara apasih bos Papi?" tanyaku penasaran.
"Pertunangan putri sulungnya ... seumuran Soni gini anaknya" jawab Papi.
"Oh ya, yang bungsu seumuran Feiza loh baru lulus SMA juga dia" lanjut Papi bahkan ketika gak ada yang menanyainya.
Setelah sampai ditempat acara, Ka Malik yang ternyata sudah sampai duluan bersama istrinya langsung menyapa kami. Aku melambaikan tangan lengkap dengan senyum lebar di bibirku.
"Brrukkk ..." tanpa melihat sekitar gak sengaja aku menabrak seseorang dan membuatnya menumpahkan air minum ke gaun yang kukenakan.
"Aduhh maaf ... maaf ..." kami saling meminta maaf tanpa melihat satu sama lain.
"Gapapa Fei ?" keluargaku menghampiriku dan bergantian menanyaiku, membuat seseorang yang kutabrak itu langsung menoleh melihat wajahku dan berkata "Kamu?" dengan kasar. Akupun memandang balik orang tersebut yang ternyata adalah Ulfa, member geng julid.
Mungkin dia ingin mengetahui kenapa aku bisa ditempat yang sama dengannya tapi niatnya diurungkan begitu melihat aku datang bersama keluargaku. Alhasil dia menjauh setelah menatapku dengan tajam selama beberapa saat.
__ADS_1
"Fei, itu cewek rempong yang waktu itu kan ?" Ka Soni membuyarkan pandanganku yang gak hilang dari Ulfa yang berjalan menjauh dari kami.
"Fei ..." Ka Soni bersuara lebih keras sedikit dari sebelumnya.
"Apasih Ka, bikin kaget ajadeh" merasa kesal denganku membuat ka Soni beralih ke arah lain. "Pi ... Mi ...Soni kesana dulu ya" katanya beranjak pergi.
"Feiza mau ke restroom dulu ya, kotor nih kena tumpahan minuman tadi" kataku sambil mengibas ngibas gaun dengan kedua tanganku.
"Duh ngapain sih Ulfa disini, jangan jangan Nilam dan Soraya juga ada disini" gumamku di restroom saat mengeringkan gaun yang ku sekaa di wastefel restroom tersebut.
Keluar dari restroom aku berjalan diantara kerumunan untuk mencari keluargaku. "Aduh ... maaf ya gak sengaja" lagi lagi seseorang menumpahkan minumannya ke gaunku. kali ini suara maaf itu terdengar dengan nada yang berbeda.
"Soraya ..." aku terkejut melihat siapa memegang gelas kosong yang ku yakini gelas yang dipakai untuk menumpahkan minuman dengan sengaja ke bajuku.
"Sengaja kan kamu numpankan ini minuman" emosiku mulai terpancing karenanya. ditambah senyum sinisnya menambahkan keyakinanku kalo dia benar benar sengaja mengotori gaunku.
"kan tadi udah bilang gak sengaja" kata Nilam
"Sama hal nya seperti kamu gak pantas untuk Amri" Ulfa pun turut berkomentar.
"Kalian maunya apasih, aku disini bersama orang tuaku jadi gak ada urusannya dengan kalian" aku sedikit membentaknya lalu ingin berlalu pergi.
"Prok prok prok" Tiba tiba Soraya bertepuk tangan dengar irama lambat bersamaan dengan musik yang dimatikan dengan sengaja. Sedangkan kedua temannya melipatkan tangan mereka di atas perut.
"Dramanya bagus ya, setelah menjadikan cowok populer sebagai taruhan, sekarang mau ngincar pembisnis kaya ?" Soraya mengatakan dengan sangat lantang sehingga banyak mata tertuju padaku seakan dia sengaja ingin membuatku malu dengan memfitnahku sedemikian rupa.
"Mau mu apasih ?" aku yang emosi mendekati Soraya dan mendorongnya hingga terjatuh ke lantai. dengan cekatan kedua dayangnya membantunya kembali berdiri dan Nilam dengan gesit menjambak rambutku hingga kepanganku agak berantakan.
"Hentikan !!" Papi berteriak dan menghentikan perkelahian kami. Nilam melepaskan tangannya dari rambutku. Ka Soni yang lebih dulu mendekatiku langsung merangkul dan mendekapku tanpa bersuara.
"Ada keluarganya guys" Soraya berkata seperti kehilangan sopan santun.
__ADS_1
"Soraya !! masalah apa lagi yang kamu perbuat? ini pertunangan kakakmu" Seorang bapak bapak yang kuyakini sebagai orang tua Soraya membentaknya dan menarik kasar tangannya.
Aku gak menyangka bahwa Soraya ternyata adalah anak dari bosnya Papi. Demikian dengannya yang tau aku anak dari pegawai orang tuanya, pasti dia akan semakin semena mena denganku nantinya.
"Aku gak melakukan kesalahan apa apa, aku cuma menegur cewek rendahan ini Dad. Dia itu yang ngerebut Amri dariku" Soraya mengatakan dengan penuh percaya diri.
"Amri?" terdengar suara Papi mengucapkan nama itu.
"Sudah sudah lupakan, Maaf ya pak dimaklumi saja mereka masih remaja" kata Daddy nya Soraya ke Papi ku sambil sedikit tertawa berusaha mencairkan suasana. Namun,
"Maaf apa ? kau tau bagaimana Amri menghina kami hanya demi wanita ini, omongan Ibunya pun Amri bantah" Mommy nya Soraya terlihat sangat marah dengan matanya yang terus melototiku.
"Maafkan anak saya, tapi saya jamin dihubungan mereka gak ada apa apa dan anak saya gak akan mengganggu hubungan anak kalian" Perkataan Papi sontak membuatku beranjak meninggalkan tempat itu.
Sungguh aku sangat kecewa dengan Papi. Bukannya membelaku bahkan sebelum Papi tau yang sebenarnya, malah mengucapkan hal yang menyakitkanku.
"Feiza ... tunggu ..." ka Soni mengejarku tapi aku berusaha berlari lebih kencang. hingga akhirnya diluar ballroom hotel itu ka Soni berhasil menangkap tanganku.
Aku memberontak dan berusaha melepaskan tangan ka Soni tapi dia makin mengeratkan genggamannya. "Lepaskan ka ... lepaskan" kataku sambil terus terisak dengan penuh kecewa.
tanganku mulai sakit akibat genggaman tangan ka Soni yang begitu erat hingga aku menjatuhkah diri hingga bersimpuh di lantai hotel tersebut.
Tangan ka Soni masih erat menggenggamku bahkan diposisinya yang berdiri dan aku bersimpuh. "Feiza capek ka" kalimat itu terlontar diantara isak tangisku.
Ka Soni melepaskan genggamannya dan mengangkat kedua bahuku hingga aku kembali berdiri dihadapannya. "Bangun Fei" Dengan lembut raja usil itu berucap. Aku menurutinya, dan langsung memeluk erat.
"Kakak temenin keluar ya" kata Ka Soni saat aku sudah mulai melepaskan pelukanku. Aku mengangguk bahkan tanpa memandangnya.
Dia merangkul dan membopongku hingga ke dalam mobil Ka Malik yang sengaja di berikan saat Ka Soni ingin mengejarku dari Ballroom.
Malam itu aku gak langsung pulang. Ka Soni sudah menghubungi ka Malik supaya kakak sulungku itu bisa menyampaikan izin ke kedua orang tuaku.
__ADS_1