Cinta Pertama Tanpa Restu

Cinta Pertama Tanpa Restu
Drama


__ADS_3

Sepulang dari Panti, aku langsung bergegas kekamar karena seharian aku lupa membawa Hp ku yang kutinggal di atas meja didalam kamarku.


kulihat banyak sekali misscall dari Amri, membuatku menepok jidat dan mencoba menghubunginya kembali sampai beberapa kali panggilan barulah dijawabnya.


Belum sempat aku menjawab salam dari Amri yang baru saja menjawab telponku, Papi masuk kekamar dan membuatku kaget sehingga langsung bergegas menyembunyikan Hp ku dibalik bantal.


"Apa itu Fei ?" tanya Papi sambil perlahan mendekat dan mencoba mengambil Hp ku dibalik bantal.


"Pi jangan Pi" aku berusaha menahannya namun Papi berhasil merebut Hp yang bahkan masih terhubung dengan Amri.


"Papi sudah bilang kan jangan terlalu dekat dengan laki laki itu, Kamu harus fokus belajar Nak, Harus !!" bentak Papi yang mungkin saja terdengar oleh Amri.


"Papi, Feiza tetap belajar, bahkan Nilai Feiza gak turun meskipun pacaran sama Amri" kataku.


"Pacaran ? kalian masih pacaran ? Papi sudah bilang kan jangan pacaran" Papi meluapkan emosinya dihadapanku. Membuat Mami langsung menyusul ke kamarku.


"Ada apa ini ?" tanya Mami


"Lihat anakmu, ngeyel aja kalo dikasi tau"


"Liat nilaimu memang gak turun tapi gak naik juga kan. Mau jadi apa kamu. Lihat itu Milla kemaren lulus dapat peringkat dua dari satu sekolah kan. Kamu ..." Papi mengomeliku habis habisan.


"CUKUP !!" Mami mulai emosi mendengar Papi yang terkesan merendahkanku. Mami menarik Hp dari tangan Papi dan mematikan telepon yang masih terhubung dengan Amri. Setelah mengembalikan Hp ku, Mami memelukku yang masih duduk di tepi tempat tidur dan mulai terisak dengan kepala menunduk karena takut menatap Papi yang terlihat sangat marah.


"jika kamu ada masalah diluar selesaikan diluar, jangan didalan rumah" Mami memarahi Papi dengan jelas dihadapanku.


"Dia anakmu, bukan barang, bukan boneka, ataupun yang lainnya. Jangan memaksakan kehendakmu kepada putrimu. Dia bakal baik baik aja sama Amri. Apa yang salah dengan laki laki itu. APA ?!!" mami melepaskan pelukannya dan berdiri sangat dekat dihadapan Papi seakan menunjukan kalo dia sangat marah saat itu.


"kalo kamu terus mengekangnya, kesalahan dimasa depan yang dia hadapi itu berarti kesalahanmu" Mami menurunkan nada bicaranya tapi dengan kalimat dengan penuh amarah.


Aku yang kala itu tertunduk menangis hanya bisa mencoba mencerna apa yang sebenarnya mereka masalahkan.

__ADS_1


Aku tau ini bukan sekedar tentang hubunganku dan Amri. Atau masalah aku bukan anak kandung Mami. Ada masalah lain dibalik itu semu, tapi apa ?


"Feiza, istirahat ya sayang. Kamu pasti lelah seharian ini mainan sama anak anak panti tadi" Mami menggiringku ke balik selimut dan mematikan lampu kamar sebelum mereka berdua keluar dari kamar tidurku.


"Hey sayang, selamat ulang tahun ya. Semoga semua doa baik untukmu terkabul, dan Tuhan memberikan yang terbaik untukmu" sebuah pesan singkat dari Amri kudapatkan beberapa saat setelah Papi dan Mami meninggalkan kamarku.


"Aamiin, makasih banyak Ri. Maaf untuk apa yang kamu dengar tadi" Aku menjawab pesan singkat itu.


"Jangan minta maaf terus, entar aja lebaran. Aku gak masalah ko, ja gan dipikirin ya sayang" Amri menenangkanku setengah bercanda.


"Amri. Kamu tetap setia kan meskipun Papi masih belum mau memberikan restunya ?" tanyaku dengan ragu.


"Bicara apasih, iyalah aku bakal setia sama kamu Fei. Sekarang urusin kuliah dulu ya, siap siap nunggu jadwal ospek kan" Amri rupanya berusaha mengalihkan topik pembicaraan.


"Iya, masih dua minggu lagi" jawabku singkat.


"Tumben nih jawabnya pendek 😝" goda Amri membuatku senyum senyum mengerti melihat emoticon meledek yang dikirimkan bersama oesan singkatnya.


"Heh kenapa nangis, cup cup jangan nangis princess chubby ku" lama lama chatt dari nya membuatku makin senyum senyum sendiri seakan lupa kalo tadi habis kena omelan dari Papi.


"Sudah tidur sana gausah senyum senyum gitu, aku tau kok aku itu ngegemisin dan ngangenin" Duh pesan ininih rasanya males banget ku jawab. Akhirnya ku tinggal tidur tanpa menjawab pesan terakhirnya malam itu.


"Pagi Mi, Nek ... Papi mana ?" Hanya ada mereka berdua di ruang makan pagi ini karena Mami bilang semalam Papi berangkat keluar kota untuk urusan bisnis. "Semalam harusnya Papi pamit sama kamu tapi karena semalam ..." Mami gak melanjutkan ucapannya tapi aku mengerti apa yang dibicarakannya.


"Fei, jangan terlalu dipikirin ya masalah Papi mu. Kamu kan tau sendiri anak nenek yang satu itu memang keras, tapi pasti luluh ko" Nenek berusaha menghiburku yang masih terlihat murung.


"Apa kita perlu liburan Nak ? kita bisa menunda kuliah mu setahun, Mami gak tega melihatmu sering murung" Mami bahkan menyadarinya.


"Mami ... Feiza gak butuh liburan kemanapun, Feiza tetap bakal kuliah tahun ini" Tiba tiba aku menyadari bahwa Ka Soni juga gak ada di ruang makan.


"Loh Mi, Ka Soni mana ? tanyaku

__ADS_1


"Jogging, tadi mau bangunin kamu tapi nyenyak banget sih tidurmu" jawab Mami membuat garis kerut didahiku karena kesal.


"Waaaaahhh ... Sudah bangun tuan putri ?" Ka Soni yang baru pulang dari joggingnya langsung menghampiriku yang sedang membantu nenek mengupas buah di ruang tengah.


"Punya Nenek" Aku menunjukan wajah kesalku ketika jeruk yang kukupaskan untuk Nenek direbut Ka Soni dari tanganku.


"Sudah sudah gapapa" Nenek menengahi kami.


"Kenapa sih adekku ini ngegemesin ba ..." ucapan Ka Soni terputus akibat dering Hp dari saku celananya.


"Bentar ya" Ka Soni melipir menjauh dari kami menuju kamarnya.


Sekitar hampir satu jam Ka Soni kembali dengan penampilan yang lebih rapi dan wangi. "Sudah mandi ?" tanyaku melihat wajah gantengnya yang pecicilan. Dia hanya menjawabku dengan menaik turunkan alisnya lengkap dengan senyuman lebar.


"Mau kemana lagi ?" tanyaku penasaran.


"Ikut Kakak yok" ajaknya tanpa menjawab pertanyaanku sebelumnya.


"Kemana ?" tanyaku masih penasaran.


"Kalo gak mau yaudah gausah" dia berlalu mengambil kunci mobil di laci ruang tengah dan berpamitan dengan Nenek dan Mami.


"Nek, Mi, Soni jalan dulu ya" Pamitnya.


Rasa penasaran yang belum terjawab membuatku beranjak dari dudukku "Tunggu ka ..." pintaku yang langsung membuatnya menyengir karena dia tau aku pasti akan ikut dengannya.


"Nek, Mi, Feiza ikut kakak ya" tanyaku dan langsung diperbolehkan.


"Fei, bawa obat mu. Siapa tau kalian lama" Lantas langsung ku ambil obat yang masih ada di meja ruang tengah yang sudah ku minum pagi ini.


"Mau kemana sih ka ?" aku terus menanyai kak Soni namun tetap saja dia menjawabku dengan ngawur "Ke bulan" katanya.

__ADS_1


Beberapa kali ku tanyai sepanjang jalan pun dia gak menjawab mau membawaku kemana. Yang akhirnya membuatku kesal dan memilih diam memandangi keluar jendela yang saat itu mulai turun rintik hujan.


__ADS_2