Cinta Pertama Tanpa Restu

Cinta Pertama Tanpa Restu
Restu


__ADS_3

Disatu sisi aku khawatir dengan Amri yang berbeda kota denganku dan diganggu oleh satu wanita nekat yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan Amri. Disisi lain Soraya terus mengusikku dengan harapan aku menjauh dari Amri. Tanpa dia tau ada wanita lain yang sedang mengganggu pria incarannya.


"Aku heran ya sama kamu, kenapa lebih memilih satu kampus denganku dibanding sama Amri. Toh disana kalian bisa lebih dekat" Aku yang selama ini penasaran dengan nekatnya melontarkan pertanyaan itu ke Soraya.


Dengan menaikan satu ujung bibirnya kini dia seperti mau menjawab pertanyaanku tadi. "Aku yakin Amri akan tetap menikah denganku, aku lebih memilih kuliah disini hanya untuk bisa bermain main denganmu" terlihat tatapan liciknya menuju ke arahku. Rasanya ingin sekali aku menampar wajah yang begitu dekat denganku.


Sejenak aku berfikir bagaimana kalo Soraya tau tentang wanita bernama Tina itu, apa yang akan Soraya lakukan, tapi dengan aku menceritakannya sama halnya aku mengumbar aib Amri yang belum tentu juga benar terjadi.


Sepulang kuliah aku singgah ke rumah Ka Malik untuk menemui Ka Marwah dan menceritakan semuanya, berharap aku mendapatkan jalan keluar dari masalahku ini. Tapi, belum sampai di rumah kakak sulungku, aku malah tersungkur hingga pingsan didepan gerbang kampus dan langsung dibawa ke UGD.


Saat aku tersadar, aku sudah berada diruang rawat inap rumah sakit dan ditemani oleh Mami dan Papi.


"Papi gak kerja ?" itulah kalimat yang ku lontarkan setelah kembali sadar dari pingsanku.


"Gak sayang, Papi izin pulang cepat tadi" kata Papi lembut.


"Fei ... kamu banyak fikiran lagi ?" tanya Papi. Aku menggelengkan kepalaku.


"jangan bohong nak, Papi minta maaf ya kalo selama ini sudah buat kamu terbebani" Aku dan Mami saling pandang karena gak tau apa yang dimaksud Papi dengan ucapannya.


Papi melangkah mendekatkan dirinya kesampingku, menarik dan menggenggan tanganku setelah itu duduk di tepi ranjang rumah sakit.


"Papi restui hubunganmu sama Amri nak. Maaf kalo selama ini Papi egois. Papi cuma mau yang terbaik untuk Feiza" Pernyataan Papi membuatku kaget bukan kepalang. Aku mencubit tanganku sendiri dan menjerit.


"Feiza gak mimpi pi" tanyaku heran


"Gak lah Fei .. Papi serius" Mami langsung memeluk Papi yang tepat berada disampingnya. "Makasih ya sayang" kata Mami.


"Feiza gak langsung mau nikah kan ?" ledek Mami membuat pipiku memerah.


"Jangan lah Mi, selesaikan kuliah dulu ya nak" kata Papi dan aku mengangguk.


Aku senang karena sekarang Papi merestui hubunganku dengan Amri. Hanya tinggal Ibunya Amri yang masih belum menyetujui hubungan kami. Dan pastinya masih ada dua wanita yang sama sama memperebutkan Amri dariku. Bagaimana caranya menjauhkan mereka dari hidup kami.

__ADS_1


"Ko murung Fei ?" Papi membuyarkan lamunanku.


"Yaellah baru juga direstuin udah halu lagi nih Feiza" Mami masih saja meledekku.


"Papi ... kenapa Papi tiba tiba menerima Amri ?" tanyaku dengan menatap tajam Papiku.


Sambil tersenyum ikhlas Papi menjawabnya "Selama ini Papi hanya mau yang terbaik untukmu. Papi lihat Amri cukup serius dan bahkan gak gentar meski Papi tolak berkali kali. Lagi pula Papi gak mau anak kesayangan Papi ini terus terusan ketusuk jarum infusan hanya karena banyak fikiran. Udah kayak orang tua tau gak Fei" dengan panjang lebar Papi melontarkan ucapannya dengan nada sedikit bercanda lalu mencubit hidungku.


...


...


...


Satu bulan berlalu, masih saja sama. Soraya yang gak henti hentinya mengusikku, malah makin menjadi jadi karena aku yang makin jarang meresponnya. Tina yang masih saja mendesak Amri untuk menikahinya. Dan aku ...


Aku cuma bisa pasrah menunggu keajaiban, setelah Papi merestui hubunganku dengan Amri tapi aku masih harus menyingkirkan dua benalu diantara kami.


"Udah siap ?" Mami membuyarkan lamunanku yang sedaritadi duduk didepan meja rias.


"Udah kasitau Amri tentang Papi ?" Lagi lagi Mami menanyakannya, karena Mami tau aku belum juga memberitahukannya ke Amri. Aku menggelengkan kepala sambil sedikit mengerucutkan bibirku. "Belum Mi"


"Loh kenapa Fei ? kalian ada masalah ?" Mami bertanya sambil membantuku menyisir rambut. Kami memang sedang siap siap untuk mengunjungi Ka Soni yang akan wisuda dikeesokan harinya.


"gak ada Mi, cuma pengen kasi surprise aja nanti kalo ketemu, tapi masih belum ada waktu" lagi lagi aku harus berbohong ke Mami.


"Sudah siap kah para wanita ?" Terdengar suara ka Malik dari ambang pintu kamarku. Dia dan istrinya juga ikut bersama kami.


"kakak ..." aku memanggilnya dan kulemparkan senyum padanya.


"Maura mana ka ?" Aku menanyakan keponakanku, anak dari ka malik dan ka marwah.


"Ada dibawah sama ka Marwah" ibu jarinya menunjuk kearah belakang lewat bahunya.

__ADS_1


...


Sampai di kota ka Soni, seperti biasa kami menginap dirumah ka Soni. Tapi Ka Malik memilih menginap dihotel karena memang rumah kontrakan itu cuma memiliki dua kamar saja.


Keesokannya pagi pagi sekali kami saling disibukan oleh persiapan wisuda Ka Soni yang akan digelar jam delapan pagi. "Ayok nanti telat" ka Malik sudah bersantai diruang tamu menunggu bersama anak istrinya dan Ka Soni juga Papi yang sudah siap. Aku dan Mami memang agak susah menggunakan kebaya karena kami tidak terlalu menyukainya, tapi Ka Soni meminta kami menggunakannya di hari ini.


"Sudaaaahh ..." aku keluar kamar didahului sama Mami yang berjalan didepanku.


"Duhh cantiknya" berulang kali pujian itu terucap dari mereka secara bergantian.


"lets go !!" kata Mami yang kemudian melangkah keluar rumah dengan agak susah karena songketnya. begitu pula denganku. "pelan pelan aja jalannya" sahut ka Marwah yang lebih handal.


Di Ballroom hotel tempat ka Soni melaksanakan wisuda kami duduk terpisah karena kursi yang tersedia sudah ditempati oleh yang lainnya.


Aku duduk bersama Mami dan Papi. sedangkan Ka Malik dan istrinya duduk agak berjarak dari kami. Cukup lama menunggu acaranya selesai, "Mi ... Pi ... Feiza keluar dulu ya" kataku menunjuk pintu keluar ballroom.


"sepertinya aku harus menunggu disini ajadeh, sumoek banget didalam pake baju ginian pula" gerutuku.


Seseorang menutup mataku dengan kedua telapak tangannya dari arah belakang, membuatku reflek memegang tangan itu untuk melepaskannya. dan langsung beranjak berdiri serta membalikan badan untuk melihat siapa yang sudah melakukannya.


"Reyhan ... David ..." Menyebut nama mereka yang ada dihadapanku, mataku masih saja berkeliaran mencari Amri yang gak ada diruangan itu.


"Amri gak datang deh kayaknya, ada urusan" seakan tau siapa yang aku cari, Reyhan menjawab tanpa aku tanya dulu sebelumnya. Aku mengangguk pelan kemudian dari arah belakang ada yang menyodorkan bucket bunga yang lumayan besar dan indah sekali.


"Amri ..." aku langsung memeluknya begitu aku membalikkan badan dan melihatnya datang.


"Cantik banget princess chubby ku" dia mencubiti pipiku yang masih saja tembem. Pujiannya membuat pipiku merah seperti kelebihan blush on.


"Kamu ... maksudku kalian datang ?" aku hampir saja melupakan Reyhan dan David yang masih berdiri dibelakangku. "iya dong, kan wisudaannya ka Soni" mereka menjawab hampir serentak.


Aku menemani mereka di lobby hotel karena tanpa undangan mereka gak bisa masuk ke ballroom. kami yang mulai bosan memutuskan untuk berkeliling hotel. "Fei ... foto disitu bagus backgroundnya" Reyhan sangat tau aku suka difoto. Langsung saja aku menuju tempat yang dimaksudnya, lalu bergaya didepan kamera yang sudah tergantung dilehernya sedari tadi.


Setelah puas kami kembali ke lobby hotel karena sepertinya sudah mulai banyak yang keluar dari ballroom tersebut. "Udah selesai deh Fei sepertinya" kata Amri dan dibenarkan oleh yang lainnya.

__ADS_1


"Nah itu ka Malik" kata Reyhan menunjuk ke arah yang ditujunya. mataku mencari ke arah mana telunjuk Reyhan menunjuk hingga kudapati Ka Malik dan yang lainnya keluar bersamaan. Aku menghampiri mereka dengan sedikit berlari, diikuti oleh Amri, Reyhan dan David.


__ADS_2