
Satu minggu lagi pernikahan Amri dan Tina dilaksanakan. Aku menguatkan hati untuk menghadiri pesta sederhana itu bersama teman temanku yang lainnya. Berjuang cukup keras menahan air mata supaya tetap terbendung.
"Fei ... gapapa ?" Milla mengusap lembut punggungku.
"Yang kuat Fei ..." David mengepalkan tangannya ke atas membentuk hampir 90° dan mengencangkan ototnya.
Begitu pula Reyhan yang baru saja datang dan langsung menyapa dan memelukku.
"Aku kuat ko ..." sambil menyunggingkan senyum kupandangi mereka secara bergantian.
"Eh, Fei ... temenin ke toilet yok" ajak Milla.
...
...
...
Didalam toilet Milla memelukku erat "Ada apa Mill?" tanyaku heran
"Kalo aku jadi kamu mungkin aku gak sekuat ini Fei, Aku harap kamu bisa mendapatkan seseorang yang terbaik dari yang baik ya" Kata Milla yang masih memelukku bahkan dia yang duluan meneteskan air mata.
"Aamiin ... udah Mill udah, jangan bikin aku mewek dong, ntar wanita wanita itu malah ketawa liat kita sedih.
Memang Papi dan Amri mengatur rencana untuk menemukan bukti dari kebohongan Tina dan Soraya tapi sampai saat ini mereka gak mendapatkannya.
Pernikahan yang sudah dibicarakan kedua belah pihak keluarga gak bisa dibatalkan karena Tina sudah mengakui kesalahan yang mereka lakukan sebelumnya. Itu sebabnya orang tua Tina meminta diaadakan pernikahan secepatnya diantara mereka.
Bahkan ketika Amri berusaha bicara jujur ke orang tua Tina, mereka lebih percaya anaknya yang menurut mereka adalah perempuan baik baik. Jadi dengan terpaksa Amri harus bersedia menikah dengan Tina.
"Maafkan aku Fei ..." Amri mengirimiku pesan singkat, membuat air mataku gak terbendung.
Setelah keluar dari toilet, kami berpapasan dengan Soraya dan Tina. "Sedih ya ... nangis ya ... duh kasian" kata Soraya.
"Aku heran denganmu, kenapa kamu merelakan Amri kewanita lain?" tanyaku dengan pelan sambil menatap tajam ke arah Soraya.
Terlihat dia tersenyum sinis. "Udah kasitau aja" seketika Tina menyenggol bahu Soraya.
"Listen me" kata Soraya seraya menunjuk telinganya sendiri mengisyaratkan aku harus mendengarkannya dengan baik.
__ADS_1
"Daddy ku terlalu baik dan bodoh sampai harus memaksaku membatalkan perjodohan yang sudah direncanakan sejak lama. Hanya karena orang tuamu" telingaku seakan melebar mendengarkan kebenaran itu.
"Aku gak terima karena selama ini aku gak pernah mengalami penolakan. Jadi, kalo aku gak bisa dapetin Amri, Kamu juga gak bisa dapetin Amri" Dia sedikit menaikkan nada bicaranya sehingga Tina harus menahan bahunya mengisyaratkan untuk Soraya bisa menahan emosi saat itu.
Aku mengepalkan kedua tanganku karena sangat emosi mendengarkan omong kosong dari Soraya. bagaimana mungkin dia bisa berfikir seperti itu. Dia sengaja merencanakan hal licik hanya karena gak mau lihat aku dan Amri bersama.
"Lalu kenapa harus dengan wanita ini ?" Kata Milla seketika maju selangkah dari tempat awalnya.
Dengan diawali senyum sinisnya Soraya menjawab "Tina ini teman lamaku, bagaimana actingnya ? bagus kan. Aku gak peduli kalo Amri harus menikah dengan Tina, setidaknya bukan denganmu, wanita yang sangat dicintainya" katanya seraya tertawa kecil seakan puas akan kemenangannya.
"Tapi ... kejadian itu ..." terbata bata Milla masih penasaran.
"Kejadian apa ? tidur bersama ? jangan bodoh sayaaaang, Amri gak pernah menyentuhku" celetuk Tina, calon pengantin Amri.
Seakan diremukkan paksa, dadaku serasa sesak dan akhirnya aku duduk bersimpuh karena merasa lemas mendengarkan kebenaran kalo sebenarnya Amri hanya dijebak dan sengaja dipisahkan dariku. Tapi semua sudah terlambat, hari ini mereka menikah.
Seseorang menghampiri kami dan meminta Tina untuk bersiap karena acara akan segera dimulai.
"Mill ..." aku menangis dipelukan sahabatku itu, kemudian David dan Reyhan yang mungkin menunggu kami terlalu lama akhirngmya menyusul ke tempat dimana aku masih bersimpuh dan menangis di pelukan Milla.
"Fei ... Feiza ... kamu kenapa?" tanya Reyhan berlari kecil menghampiriku.
"Soraya dan Tina barusan menceritakan ke kami semua rencana mereka sampai akhirnya bisa ada acara ini.
Dengan mata terbelalak mereka berdua sangat terkejut mendengar cerita Milla. "wanita licik" David mengumpat sambil mengayunkan kepalan tangannya ke sembarang arah.
"Lalu, kita harus bagaimana ?" tanya Reyhan dan kami saling melempar pandang satu sama lain.
Aku berusaha menghentikan tangisanku dan kembali merapikan riasanku didalam toilet bersama Milla. Kemudian aku keluar dengan dandanan yang lebih rapi.
"Yakin Fei tetap mau disini ?" tanya Reyhan
"Iya, kita pergi aja ya" David menimpali.
"Feiza gapapa, dia wanita kuat. Jodoh gak kemana" Milla terus menerus mengusap bahuku dan merangkulku.
Dengan berusaha tegar aku melangkahkan kaki keruangan tempat akad dilaksanakan. Disana sudah dengan rapi orang berkumpul untuk menyaksikan pasangan itu menjadi suami istri yang sah.
Aku berdiri bersama ketiga sahabat yang masih saja menguatkan dan menyemangatiku.
__ADS_1
"Baik, bisa kita mulai acaranya ?" seorang bapak bapak nampaknya sudah bersiap menjadi penghulu mereka.
"Tunggu ... !!" Milla yang daritadi berdiri disampingku, entah sejak kapan dia menghilang dan berpindah posisi ke stage dan berbicara dengan pengeras suara disana.
"Ada apa ini"
"Siapa dia"
"Pengacau"
"Mau apa wanita itu"
banyak sekali selentingan selentingan para tamu undangan yang tertuju untuk Milla.
Milla mengutak atik Hp nya, lalu Soraya menghampirinya dan berkata "mau apa kau pengacau ?" katanya.
"Aku memang pengacau, tapi setidaknya aku bukan wanita licik" Suara debat mereka terdengar dipengeras suara sehingga mereka menjadi tontonan para Tamu.
Seketika aku menatap Amri dan seakan memberiku isyarat dari gerakan bibirnya "ada apa ?" katanya tapi aku hanya menggelengkan kepala karena memang aku gak tau apa yang mau Milla lakukan disana.
David menyusul Milla untuk membantu pacarnya itu yang berusaha digagalkan oleh Soraya yang mungkon sudah punya firasat buruk tentang kegagalan rencananya.
"Dengarkan baik baik" Milla kembali berbicara di pengeras suara dengan memegangi Hp nya yang mulai terdengar suara rekaman.
"Apa !!" Aku ikut mendengarkan suara rekaman itu yang tidak lain adalah suara pengakuan Soraya dan Tina yang bicara dengan kami didepan toilet tadi.
"Pantas saja Milla terus bertanya, rupanya dia merekamnya" gumamku dalam hati.
Reyhan memegangi kedua bahuku ketika aku sudah mau menjatuhkan badanku yang serasa makin melemah saat itu. "Fei ... kamu gapapa" tanyanya.
"Aku gapapa Rey, aku lega mendengarnya" kataku.
Seketika Amri berjalan kearah ku dan menggantikan posisi Reyhan. Kami terus mendengarkan suara rekaman itu sampai habis.
Soraya masih berusaha mengambil Hp Milla tapi David terus menahannya. Bahkan Tina bermaksud membantunya dan ikut naik ke stage tapi ditahan oleh ayahnya dan mendaratlah sebuah tamparan yang cukup keras terasa dari suara yang terdengar akibat tamparan itu hingga Tina tersungkur ke lantai.
Belum rekaman itu selesai tapi Milla menghentikannya "Saya rasa gak perlu mendengarkan keburukan mereka sampai akhir, karena kalian hanya cukup tau kalo Amri berhak membatalkan pernikahan ini karena Sahabat saya adalah yang lebih berhak menikah dengan pria yang dicintainya" Milla menunjuk ke arahku yang sekarang sedang bersama Amri.
Kulihat Orang tua Soraya menurunkan anaknya dari stage, lalu disusul Milla yang ikut turun dan menghampiriku lalu mendekapku dengan erat "sudah ku bilang jodoh gak kemana" katanya. Dan kami keluar bersama dari gedung tersebut.
__ADS_1