Cinta Pertama Tanpa Restu

Cinta Pertama Tanpa Restu
Pertengkaran dimulai !!


__ADS_3

"Mami" kata ku yang masuk dari pintu belakang dan untuk pertama kali dalam hidup aku menyaksikan pertengkaran kedua orang tuaku. "Feiza" kata mereka serempak, terkejut karena gak nyangka aku bakal pulang ke rumah. "jadi ini alasan Mami larang aku pulang ?" tanyaku, tapi mereka hanya bisa terdiam menatapku. Entah apalagi yang mereka rahasiakan selain pertengkaran ini. Keluarga yang dari dulu kubangga banggakan, hari ini buyar semuanya. "Feiza, Mami bisa ... " Kata Mami sambil menghampiriku, tapi aku membantah dan memutus omongannya "udah Mi gausah jelasin apa apa, Feiza mau kekamar" kataku dan berlalu masuk ke kamar ku.


Dikamar, aku menangis seakan tertimpa beban yang sangat berat. Sempat berfikir, apa kedua kakak ku mengetahui hal ini. Kenapa selama ini mereka membohongi anak anaknya. Aku gak pernah merasakan patah hati, tapi malam ini seakan hidupku hancur. Orang tua yang ku kenal sangat harmonis dan menjadi panutanku, Hari ini aku menyaksikan hal yang sebenarnya.


Mami mengetuk kamarku berulang kali, dan berulang kali juga ku katakan bahwa aku gak akan membukakan pintu untuknya. Sampai akhirnya gak ku dengar lagi suara mereka di luar kamarku. Aku menangis terisak, meski gak begitu jelas apa yang mereka perdebatkan tapi sangat jelas bagiku mereka sedang bertengkar hebat. Bahkan mereka saling memaki satu sama lain, padahal selama ini mereka selalu saling memuji dan seringkali saling menggoda dan mengingat serta menceritakan masa muda mereka dan bagaimana bisa saling jatuh cinta.


Paginya aku beraktifitas seperti biasa, hanya saja mataku sembab sisa nangis semalam. "Duh, gimana ini, nampak banget" keluh ku didepan kaca kamar ku. Aku mencari obat tetes mata di kotak obat di dapur. paling tidak sedikit membaik. "Feiza gapapa ?" tanya Mami mengagetkanku dari arah belakang saat aku ngaca di kaca yang ada didapur. Gak sedikitpun aku bicara dan langsung keluar dapur, diruang tengah kulihat Papi baru turun dari tangga. "Feiza" kata Papi tapi ku acuhkan juga. Aku memutuskan untuk pergi kesekolah lebih cepat dan gak sarapan dengan mereka, bahkan ketika Mami memberikanku bekal aku menolaknya tanpa memandang wajah Mami. Rasanya aku gak kuat menanggungnya.

__ADS_1


Belum juga reda kekesalanku karena masalah dirumah, masih pagi geng julid sudah mencari masalah denganku. lagi lagi mereka menanyakan taruhan kami. "udahlah nyerah aja kalo emang gak mampu" kata salah satu dari mereka. cukup lama aku terdiam menahan emosiku mendengar mereka bergantian mencibirku, akhirnya aku bilang ke mereka "sudah, cukup !! aku muak sama kalian. Aku akui aku kalah dan gak mau melanjutkan taruhan ini. PUAS !!" kataku dengan lantang dan pergi meninggalkan mereka.


Rupanya Milla menyaksikan kejadian di koridor sekolah itu, dia menghampiri dan mengusap pundakku. Rasanya ingin kutumpahkan tangisku di bahunya, seperti yang selama ini Milla lakukan dipundakku setiap kali ada masalah di keluarganya. "Aku gatau apa masalahmu, kamu terlihat gak seperti biasa Fei" kata Milla. Sambil terus menghela nafas dan berusaha menahan air mata yang masih dapat ku bendung, kami mengikuti kelas pertama dengan lancar. Meski pikiranku gak sepenuhnya memperhatikan pelajaran.


Belum puas dan masih penasaran denganku, disaat jam istirahat pun Milla masih mencoba menanyaiku lagi. Tapi aku masuh ragu untuk menceritakan padanya. "aku cuma lagi sedih aja gak tau kenapa tiba tiba perasaanku gak tenang" kataku yang terus mencari alasan. "apaan lu habis buat dosa?" tanya Milla yang lalu tertawa tergelitik dengan jawaban ku yang gak masuk akal.


Dirumah Mami sudah menyambut dengan masakannya seperti biasa "Anak Mami sudah pulang, ganti baju ya kita makan bareng" kata Mami. Aku ke kamar tanpa berkata apapun, termasuk salam. Tapi gak begitu lama aku kembali turun dan bergabung bersama mereka di meja makan. Suasana saat itu hening, dan selesai makan aku langsung kembali ke kamar setelah selesai menyuci piring kotorku. Saat jalan ke arah tangga Mami sempat memanggil namaku tapi aku mengabaikannya dan yerus berjalan.

__ADS_1


Aku sadar aku salah melakukan semua ini, tapi aku hanya belum bisa menerima perkelahian mereka. Rasanya seperti mimpi, tapi sakitnya sungguh nyata. "Feiza pengen tutup kuping dan mulut untuk masalah kalian" kata ku ketika Mami menghampiriku dikamar saat menghampiriku sebelum tidur. Aku tau saat itu Mami sedang menahan tangisnya, aku juga gak tega untuk mengatakan semua ini. Mami keluar tanpa sepatah kata pun.


Setelah Hari itu, semuanya menjadi canggung bagiku. Gak pernah lagi memasak bersama Mami, sering melewatkan makan bersama, dan jarang berada dirumah. Bukan hanya orang tua ku, akupun menjauh dari Milla. tak begitu menghiraukan ku, dia menghabiskan waktu bersama pacarnya. Sesekali dia masih menegur dan mengobrol denganku karena kami satu meja di kelas. Selebihnya aku akan menghabiskan waktu diperpustakaan sekolah. Sepulang sekolah aku akan mampir ke kedai kopi di ujung jalan dekat sekolahku, disana banyak pengunjung dengan masih berpakaian seragam sekolah.


Dikedai itu aku duduk di pojok area indoor. Sebelumnya aku sudah memesan hot chocolatte, tapi setelah aku menunggu ternyata yang datang adalah hazelnut coffee. "Mas, ini bukan pesanan saya" kata ku setelah melihat minumanku. "Maaf ka, teman kami yang kasi ini ke kakak" jawab waiters yang mengantarkan minum dengan memberiku selembar tissue. "Masalah gak akan selesai jika kamu terus menghindar" begitulah kalimat yang tertulis di sisi dalam tissue yang terlipat itu. Saat aku menoleh ke waitres yang mengantar, dia menunjuk ke arah bar di kedai itu, kudapati Amri terdiam dengan senyumnya yang mengarah kepadaku saat aku melihatnya. Betapa kaget dan terus bertanya tanya apa yang sebenarnya terjadi. Sejak di Food Festival dia selalu menyarankan Hazelnut Coffee padaku, padahal sebelumnya aku tidak menyukai yang berbau kopi kopian, tapi entah kenapa Hazelnut Coffee dari Amri membuatku lebih tenang.


Beberapa kali aku ke kedai kopi itu tapi baru saja ku lihat Amri disana, lagi pula brand nya beda dengan stand yang ku samperin di Food Festival. Akhirnya aku memutuskan untuk menunggunya sampai kedai tutup, sesekali aku mencuri pandang ke arah Amri di balik bar kedai kopi itu. Ku dapati sesekali dia juga memandangku.

__ADS_1


__ADS_2