
Akhirnya aku tetap memutuskan untuk pergi setelah terdengar panggilan namaku dari pengeras suara. Dengan berat aku melangkahkan kaki ku menaiki tangga pesawat. "Maafin Feiza ..." kata ku terus berucap pelan dalam setiap langkah.
Termenung melihat keluar jendela sedari tadi bahkan aku gak sadar kursi disampingku sudah diduduki seseorang yang membuatku terkejut saat menoleh ke sisinya. "Maaf, kenapa ?" tanya orang itu, aku menggeleng dan berkata "gapapa"
Selama penerbangan aku tertidur didalam pesawat, mungkin karena semalaman mataku terus terjaga. Seorang pramugari membangunkanku dan aku langsung beranjak dari kursi pesawat.
Dulu aku pernah ke kota ini, sudah lama sekali saat semua masih sangat bahagia bersama orang tua ku, kedua kakak ku dan juga nenek serta Milla. Dari bandara aku langsung menaiki taxi menuju sebuah hotel di tepi pantai yang pernah ku mampiri saat berlibur bersama mereka. Tapi, sampai di lobby saat mau check in ternyata semua debit card ku sudah di blokir. "coba lagi mba mungkin error" kata ku yang mulai gelisah. "Sudah 4 kali" kata petugas hotel sambil mengembalikan debit card kepadaku. Lalu aku perlahan melangkah keluar hotel itu menuju pantai di dekat sana.
Duduk memeluk kedua lutut yang ku lipat ke atas dan menunduk lalu kembali terisak sampai akhirnya matahari terbenam di ujung lautan. "Aku sudah gak tau harus gimana lagi" kataku dalam tangis malam itu. Tiba tiba seseorang berdiri disebelahku dengan bungkusan plastik minimarket. Ku tengadahkan kepalaku ke arah atas, Lalu aku beranjak untuk memeluk orang itu yang ternyata adalah Amri. "Darimana kamu tau aku disini ?" Kataku yang melepaskan pelukanku.
__ADS_1
Amri kembali menarikku dalam pelukannya. "Aku melihatmu saat mengantar Ayah ke bandara, untungnya aku masih sempat membeli tiket untuk menyusulmu" katanya sambil terus mengelus rambut panjangku. "tapi gimana kamu tau aku ke kota ini ?" tanyaku yang makin penasaran. Dia melepaskan pelukannya dan duduk di pasir pantai lalu berkata "Aku mengikutimu dan mendengar nama kota ini lewat pengeras suara tadi" katanya sembari menghapus air mataku yang membanjiri pipi.
Dia menasehatiku semalaman, setelah merasa sedikit lega dan lelah dia mengajakku ke hotel untuk memesan kamar. "Aku akan kembali pulang besok" kataku sebelum memasuki kamarku yang bersebelahan dengannya.
"Aku gak tau apa masalahmu, tapi jangan lari dari masalah" "Pikirkan masa depanmu, setidaknya selesaikan sekolahmu, kita baru aja naik ke kelas tiga"
"Percayalah, aku akan selalu ada untukmu, kapanpun itu"
Pagi pagi sekali aku pergi, bukannya menelpon Amri atau mengetuk pintu kamarnya aku malah melipir ke pantai lengkap dengan seluruh barangku. Bukan meninggalkannya, hanya saja aku mau menikmati pasir pantai dan suasana pagi hari di pantai yang masih sepi. Hp ku berdering dan ternyata Amri menelponku "Dimana ? kamu bilang akan pulang, kenapa ninggalin aku, kamu gak kabur kan ?" tanya nya secara beruntun. "Dipantai, tempat semalam" jawabku singkat.
__ADS_1
Gak butuh waktu lama untuk dia menyusulku dengan masih memakai baju yang sama seperti semalam karena dia menyusulku tanpa membawa cadangan baju, hanya apa yang dia bawa saat mengantar ayahnya lah yang dibawanya menyusulku. "Feizaa ..." teriaknya dari kejauhan sambil berlari ke arahku. Iseng dengannya aku berlari menjauhinya dan dia mempercepat larinya demi meraih tanganku yang akhirnya dia dapatkan.
"Fei, please pulang lah, ikut aku" katanya memohon dengan wajah sendunya. Aku membalasnya dengan senyum jahilku dan ternyata dia menyadari kalo aku sedang mengisenginya. Refleks dia merangkul dan menggelitik di area pinggangku sampai aku terjatuh karena gak tahan gelinya. Setelah itu kami tertawa bersama di atas pasir pantai.
"Bisakah kita keliling kota ini dulu sebelum pulang ?" pintaku, lalu dia mengangguk. "Untuk pertama kalinya aku gak ganti baju seharian" gerutunya. "kenapa ?" tanya ku memastikan apa yang kudengar. "kenapa ? apanya ? gapapa" jawabnya gelagapan.
Setidaknya aku sangat puas hari ini, seketika masalah ku hilang begitu saja. Sarapan berdua dengannya di warung nasi pinggir jalan, lalu berkeliling kota. hingga ke daerah yang agak tinggi disana untuk melihat indahnya cahaya lampu satu kota seperti taburan bintang dilangit. "Aku belum pernah kesini" kataku takjub. dia tersenyum dan bilang kalo ternyata itu juga pertama kali dia kesana "tadi pas kita makan siang aku dengar ada yang bicarakan tempat ini dan aku tanyakan langsung ke mereka yang lagi bahas tempat ini" kata Amri menjelaskan dari mana dia tau tempat ini.
Dia mengambil Hp nya dan memotret taburan lampu di kota itu, "Aku ?" tanyaku sambil berpose di depannya. Sambil tersenyum dia kembali merapatkan dirinya didekatku lalu mengambil selfie denganku dan latar belakang foto tempat itu. Tangan nya yang panjang mampu mengambil angle dengan benar. "Akhirnya kita punya foto bersama" katanya sambil memandangi foto selfie kami. Aku dibuatnya tersipu malu hingga pipiku merona saat itu. Setelah dari tempat itu barulah kami ke bandara untuk pulang kembali.
__ADS_1
Amri terus memegangi tanganku seakan paham betul aku sedang grogi dan degdegan. Gimana kalo Papi dan Mami marah karena aku minggat. Apa mereka masih mau nerima aku ? "semua akan baik baik aja" kata Amri yang terus menenangkanku.