Cinta Pertama Tanpa Restu

Cinta Pertama Tanpa Restu
Pulang


__ADS_3

Aku melangkah perlahan menuju teras rumahku yang saat itu pintunya terbuka. Berdiri sejenak menengok ke dalam rumah, terlihat Mami duduk di anak tangga bersender dipegangan tangga. "Mami" kata ku lirih. Mendengarku Mami langsung merespon dan berlari ke arahku. Kami berpelukan dan saling berkata maaf, tapi tiba tiba "Feiza !!" teriak Papi yang menuruni tangga. Aku tau Papi sedang marah besar saat itu, perasaanku semakin gak karuan. Aku menggenggam tangan Mami makin erat dari sebelumnya. "Tahan emosi Fei, buang ego mu" bisik Amri yang masih setia berdiri disampingku.


Papi berdiri tegas, melotot menatapku seakan sedang menahan amarahnya. Tiba tiba pandangannya berganti ke Amri dan memandanginya dari atas ke bawah. "Siapa kamu ?" tanya Papi yang gak pernah tau Amri sebelumnya. "Amri om" jawab Amri sambil menjulurkan tangannya hendak bersalaman dengan Papi tapi tidak di respon. "Masuk Fei, kamu jangan berteman dengan orang seperti ini" kata Papi menarik tanganku. "jangan menyalahkan orang lain" kata Mami membela Amri. "Jangan salahkan gimana kalo memang salah, Anak kita gak sebandel ini, pasti karena laki laki ini" kata Papi lagi. "Cukup Pi !!" bentakku marah, Aku pulang karena bujukan Amri tapi dia malah disalahkan. "gapapa Fei, aku pulang dulu" kata Amri lembut yang kemudia pamit pulang ke orang tuaku juga "Om, Tante, saya pamit pulang".


Papi menarikku ke dalam rumah bahkan gak menunggu Amri keluar dari pekarangan kami. Diruang tengah Papi memarahiku sejadi jadinya dan membuatku semakin terisak.


"Papi gak pernah ajarkan kamu begini"


"Kenapa kamu sekarang sembrono"


"Mau jadi apa kamu diluar sana?"


"Kamu sudah salah memilih teman"

__ADS_1


Papi terus mengomel tanpa menyisakan jeda untukku berkata apapun.


"Cukup !!" teriak seseorang dari arah pintu masuk.


"Harusnya kami yang marah sama Papi, harusnya Papi sadar kenapa adikku bersikap seperti itu" kata kakak sulungku yang ternyata datang karena tau aku minggat.


Istrinya, ka Marwah yang juga datang bersamanya melipir ke arah Mami yang hanya bisa menangis melihat ku dimarahi Papi. Sedangkan kakak memelukku erat sambil memandang tajam Papi dengan berani dan penuh amarah. "Aku gak akan biarkan siapapun membuat nangis Mami dan Feiza" kata Ka Malik dengan lantang. "Ka ..." kata ku lirih, kemudian ka Malik mengusap pundakku dan berkata "jangan sedih Fei, kakak disini" katanya.


Gak cukup puas aku bertanya dan mendesak ka Marwah untuk menceritakan sesuatu yang aku rasa dia juga pasti tau. "kenapa aku gak tau apa apa ka?" kataku yang masih menangis. Dari atas masih ku tengok Papi yang hanya terdiam bahkan terduduk seperti kehilangan tenaganya. "kita di kamar dulu ya, istirahat dulu kamu" kata ka Marwah menarikku ke kamar.


Aku menurutinya karena pasti percuma aku bertanya mereka gak akan mau menceritakanny sekarang. Aku yang terus menangis dan lelah akhirnya tertidur dikamarku. Setelah aku bangun, jam di hadapanku sudah menunjuk ke angka 8, "sudah malam" kata ku melihat jendela dengan pemandangan langit bertabur bintang.


Ku beranikan diri untuk membuka perlahan pintu kamarku, ku pandangi ke ruang keluarga di lantai bawah yang terlihat dari lantai atas depan kamarku. Disana kedua orang tua, kakak ku dan istrinya masih duduk dengan keheningan. Aku turuni tangga satu per satu, dan tiba tiba ka Marwah melirik ke arahku "Feiza ..." katanya menyapaku. Mami langsung beranjak dari duduknya menghampiri dan memelukku. Dengan digandeng Mami aku bergabung dengan mereka yang masih duduk diam. Ku hampiri Papi dengan perasaan antara ragu dan takut. "duduk sini nahk" kata Papi menepuk sofa disampingnya.

__ADS_1


Papi memelukku erat dan menciumi keningku sambil berulang kali berkata maaf. "Feiza yang minta maaf Pi, Feiza masih childish, egois" kataku dengan menahan tangis. "Tapi Pi ..." tiba tiba aku teringat kalimat Ka Malik saat baru datang tadi. "Apa maksud ka Malik dengan berkata harusnya kita yang marah sama Papi ?" tanyaku penasaran bergantian memandang mereka semua yang langsung lirik lirikan tanpa menjawab pertanyaanku.


"Fei, selama ini kamu itu disayang dan gak pernah dimarahin kan ? Kakak mu sangat sayang sama kamu, tapi karena Papi marah jadilah kami juga marah ke Papi, toh kamu gak sepenuhnya salah" kata ka Marwah menjelaskan dengan hati hati dan kemudian di benarkan oleh semuanya diruangan itu. Aku tau bukan itu jawaban yang sebenarnya, tapi aku mencoba menerimanya.


"Oh ya, kakak pesan pizza, mungkin itu sudah datang" kata ka Malik sembari beranjak dari duduknya ketika ada bunyi bell dari pintu depan. Gak begitu lama dia kembali dengan menenteng dua box pizza dan berjalan ke arahku dengan senyum manisnya "pizza is coming !!" katanya sambil memperlihatkan box pizzanya kepadaku. "Nih tuna melt pizza for my lovely little angel" kata ka Malik sembari mengacak rambutku dan menaruh pizza dihadapanku. ku balas senyumannya "thanks ka".


kami lupakan sejenak masalah yang terjadi dan mencoba mencairkan suasana dengan menikmati pizza, meski sesekali masih terlihat canggung dan lebih banyak diam. "Oh ya Fei, tadi itu ..." Mami kemudian menanyakan seseorang yang mengantarku pulang. "Bahas apasih, gausah di bahas orang tadi Papi gak suka" kata Papi menyela pertanyaan Mami. "dia orang baik Pi" kata ku yang mulai kesal lagi dengan Papi. ka Marwah yang duduk di sebelahku mengelus pundakku dan berbisik "sudah Fei sudah, gausah di bahas dulu" katanya.


Terdengar dering Hp yang ku letakan di kamar. "Aku mau jawab telpon dulu" kataku membawa sepotong pizza yang masih ku pegang dan beranjak menuju kamar. "Feiiii ..." tiba tiba Papi memanggilku dan membuat kami memandangnya serentak "kenapa Pi ?" tanyaku. "Papi harap kamu masih mau nurut sama Papi, Papi gak mau kamu dekat sama laki laki itu" Aku langsung memalingkan badanku dan sedikit berlari menuju kamar.


Entah apa yang Papi fikirkan tentang Amri dipertemuan pertama mereka. Padahal harusnya Papi berterima kasih karena Amri lah aku mau pulang lagi ke rumah. Aku terus menggerutu sepanjang langkah ke arah kamar.


Saat ku ambil Hp ku ternyata deringnya sudah mati.

__ADS_1


__ADS_2