Cinta Pertama Tanpa Restu

Cinta Pertama Tanpa Restu
Surprise !!


__ADS_3

"Feiza sayaaaaaang ..." Mami meneriakiku dari ruang makan untuk ikut sarapan bersama mereka. Aku yang kala itu sangat mager kembali menimbun badanku dengan bedcover, bahkan sampai menutupi kepalaku.


"Feiza ..." suara besar itu mengejutkanku, membuatku keluar dari kelumunan selimut. "Papi?" Aku bingung kenapa Papi yang kekamarku, biasanya Mami yang akan menarik paksaku bangun. "Mami mana ?" tanyaku kembali. Dengan senyum yang jarang disunggingkannya kali ini melebar dan berkata "Mami tadi mau kesini tapi Papi rasa Papi udah lama banget gak bangunin anak manja ini" kata Papi seraya mencubit kedua pipi tembemku.


Memang sudah lama sekali, dulu waktu kecil Papi dan Mami bergantian menarikku bangun setiap kali aku malas bangun pagi, dan sampai sekarangpun aku masih suka melakukannya untuk mendapat perhatian Mami, karena sejak Papi makin sibuk sudah gak pernah lagi menarikku bangun.


Aku memeluk erat Papi yang kala itu sudah sangat rapi dan wangi, gak mempedulikanku yang bahkan mataku masih dipenuhi belek, Papi membalas pelukanku dengan sangat erat. Sesekali makin mengacak rambutku yang bahkan sangay berantakan. "Ah Papi ini sama aja ya kayak Ka Soni" keluhku.


Sudah satu semester berlalu sejak Ka Soni berangkat kembali untuk kuliah. Artinya, sebentar lagi dia pulang. "Udah dikabarin kah sama Soni ?" tanya Papi seketika mengingatkanku kalo liburan Ka Soni sudah tiba. cepat cepat ku cek layar Hp ku yang bahkan belum mendapat kabarnya.


"Ka Soni gak jadi pulang, ada urusan" kata Papi melihatku murung dan sekarang makin murung bahkan berdecak kesal "katanya mau kasi waktu untuk Feiza, gimana sih kakak" keluhku.


"Sudah gausah marah marah mulu, Mandi terus sarapan" perintah Papi yang kemudian bergegas keluar dari kamarku. Aku menurutinya dan sesegera mungkin menyusul ke ruang makan karena mereka pasti menungguku untuk makan bersama.


Ketika aku menuruni tangga dan berjalan mengarah ke ruang makan sama sekali gak ada orang disana. Mami maupun Papi, tapi susunan meja makan masih rapi lengkap dengan jejeran makanan yang belum tersentuh. "Apa apaan ini aku ditinggal sendirian ?" keluhku sambil memandangi makanan makanan diatas meja makan.


"apa ini ? nasi goreng ... omelet ... rollade ... cinnamon roll ..." aku menyebutkan setiap nama makanan yang ku lihat di atas meja dan bingung kenapa banyak sekali.


"Surpriseeeee ... !!" Seketika mereka mengagetkanku dari balik meja dapur.


"Kakaaaaakk ..." aku berlari menghampiri dan memeluk Ka Soni yang ternyata sudah pulang dan memberiku surprise ulang tahun. Bahkan aku sampai lupa dengan tanggal ulang tahunku.


"Gitu ya Soni aja nih yang dipeluk" Ka Malik membuka lebar kedua tangannya seakan memintaku memeluknya juga, dan akupun ingin melepaskan diri dari pelukan ka Soni, namun seakan diperebutkan Ka Soni memelukku semakin erat hingga aku gak mampu melawan kakakku itu. Ka Malik yang belum mendapatkan pelukan dariku pun langsung berganti gaya menjadi berkacak pinggang. Membuat kami semua tertawa terbahak. Setelah puas, Ka Soni melepaskan aku dari pelukannya dan seketika Ka Malik menerima pelukanku. "Gapapa deh jadi yang terakhir terakhir" kata ka Malik.


Setelah puas memeluk kakak sulungku, aku bergantian memeluk Nenek, Mami, Papi, dan Ka Marwah yang kini tengah hamil anaknya dengan ka Malik. "Duh sehat sehat ya ponakan tante" kataku sembari mengelus perut ka Marwah yang sudah terlihat membesar.

__ADS_1


"Milla mana ? biasanya nimbrung aja itu anak" tanyaku sambil celingak celinguk berharap batang hidung sahabatku itu nongol dihadapanku, namun tidak.


"Milla ada urusan katanya, yok dimakan aja ini Mami udah masakin spesial buat anak Mami" Kata Mami menggiringku ke kursi biasa tempat aku duduk saat makan, disamping Papi, dihadapan Mami.


"Nenek bakal tinggal disini terus kan ?" tiba tiba aku bertanya dalam keheningan saat sarapan pagi. Membuat semua mata tertuju padaku. "Kenapa Fei, kangen banget ya sama nenek" Nenek memang suka menggoda dan meledekku, sepertinya keusilan Ka Soni diwariskan dari Nenek.


"Iya Nek, nenek tinggal disini ya biar Feiza gak kesepian" aku hanya takut jika aku harus menyaksikan perkelahian kedua orang tuaku yang ternyata masih berlanjut, entah apalagi yang akan terjadi kedepannya.


Lilin menyala yang ditancapkan di pancake jumbo tadi pun kusematkan doa untuk keluargaku terutama untuk kedua orang tuaku supaya mereka bisa kembali harmonis seperti sedia kala.


"Nenek kayaknya harus balik deh pulang ke rumah nenek" tiba tiba Nenek membuyarkan lamunanku yang sedari tadu memaninkan sendok sambil menunggu jawaban Nenek.


Ketika mendengarnya wajahku semakin terlihat murung, lalu di ikuti gelak tawa semua orang yang ternyata mengerjaiku. "Nenek bakal tinggal dirumah kita sayang" sahut Mami. "Gimana mungkin Nenek bakal terus hidup sendirian disana cuma ditemenin bebek sama ayam" Timpal Papi.


Aku merasa sepertinya kehangatan keluarga ini kembali lagi meskipun hanya sejenak aku senang paling tidak dihari ulang tahun ku ke delapan belas ini gak dirundung kesedihan.


"Ko Feiza gak tau kalian nyiapin ini semua ?" tanyaku melihat persiapan mereka yang begitu sempurna. "Dari kemaren kan kamu sibuk sama Milla dan Reyhan, Jadi kami punya kesempatan untuk nyiapin ini semua" benar saja, bahkan seharian kemarin aku gak ada masuk dapur dan makan juga dibawakan kekamar karena keasikan ngobrol dan main sama Milla dan Reyhan.


"Fei ..." tiba tiba wajah ka Marwah menatapku dengan serius.


"Kenapa Ka ?"


"Hubungan dengan pacarmu ..." pertanyaan yang akan di ajukan ka Marwah sontak membuat Papi yang kala itu memasuki dapur menyela pertanyaan ka Marwah.


"Pacar yang mana, gak ada pacar pacaran" kata Papi membuat kami saling melempar pandang. "Tapi Pi ..." aku ingin berbicara namun Mami menarik pelan lenganku dan berbisik "turutin dulu" katanya.

__ADS_1


Papi menyodorkan gelas kopi yang sudah kosong, mengisyaratkan ke Mami supaya membuatnya lagi. "tunggulah diluat, nanti ku antarkan" kata Mami.


"Mami ..." aku dengan manjanya menggelayutkan diri ke tangan Mami.


"Ikuti saja apa mau Papi Fei, nanti kamu malah gak bisa ketemu Amri" Mami menyarankan ku untuk backstreet dari Papi dan mengatakan hubungan kami hanyalah sebatas teman. Paling tidak sampai aku benar benar lulus kuliah nanti.


Papi selama ini memang memperbolehkanku jalan dan keluar rumah bersama Amri, meski gak jarang Papi melototi dan memarahi Amri bahkan ketika dia gak melakukan kesalahan apapun.


Siang ini, kami berangkat ke panti asuhan yang didirikan oleh ayahnya Amri. Ini adalah saran Ka Soni, dia tau itu panti milik Amri sehingga bisa membuat Papi paling tidak menilai baik tentang Amri lewat anak anak yang ada disana. "Pinter banget sih kakak ku" bisikku saat ku tau kami akan ke panti tersebut.


"Ka Feizaaaa ..." Anak anak panti yang sudah menunggu kami di teras langsung berlarian ke arahku yang baru saja keluar dari mobil. terlihat jelas keceriaan di wajah anak anak kecil itu.


"Selamat ulang tahun ka Fei"


"Happy birthday ya ka"


"Panjang umur, sehat selalu"


Mereka bergantian memberiku selamat dan memanjatkan doa untukku.


Seketika satu doa membuat Papi bersuara "Semoga jodoh sama Ka Amri" dan di Aamiin kan oleh seluruh penghuni panti. ya jelas akupun ikut meng Aamiin kannya dalam hati.


"Kenapa mereka kenal dengan Amri juga" aku mendengar dengan jelas pertanyaan yang dilontarkan Papi.


"Ini panti milik Amri Pi" Ka Soni menjawab singkat.

__ADS_1


Ibu Panti berniat mengalihkan perhatian Papi dan langsung menghampiriku "Mbak Fei, selamat ulang tahun ya, semoga panjang umur, murah rezeki, makin dewasa ... " rentetan doa Bu Yun yang bahkan sangat banyak dari doaku sendiri.


Hari itu seharian ku habiskan di Panti untuk merayakan Ulang tahunku bahkan mereka sudah mendekor halaman belakang dengan pita dan balon serta cupcake yang sudah Mami buatkan untuk kami semua.


__ADS_2