
Setelah sampai dipenginapan, mereka langsung kembali ke kamar masing masing, begitu pula denganku. kost itu hanya boleh dihuni satu orang untuk satu kamar, itu sebabnya mereka gak menyewa satu kamar untuk bersamaan. bangunan khusus wanita dan pria berbeda dan berhadapan, sehingga dari teras ke teras kami bisa saling melihat. "Aku bisa melihat siapa saja yang keluar masuk kamar Amri dari sini" gumam ku sambil memandangi kamar Amri yang sejajar dengan letak kamarku.
"Fei ... kenapa gak bisa kakak telpon tadi ? Papi nyariin tuh" Ka Soni mengirimkan pesan singkat kepadaku beserta foto capture chatt nya Papi ke dia yang juga menelponiku saat Hp ku lowbatt tadi.
"Maaf ka Hp Feiza Lowbatt tadi di kampusnya Amri, ini baru sampe penginapan dan mau istirahat" jawabku.
"Ok hati hati ya sayang" Ka Soni mengakhiri chatt nya.
Setelah terbangun dari tidur siang aku segera mandi dan bersiap untuk jalan jalan dengan Amri nanti malam. Sengaja ku atur alarm supaya gak ketiduran karena sungguh mudah dan nyaman bagiku untuk bermalas malasan ditempat tidur.
"Sudah jam 5 gini, Amri jemput jam berapa ya ? apa dia ketiduran ?" aku begitu resah membuatku mondar mandir sendiri di kamar, bahkan sesekali mengintip ke jendela ke arah kamar Amri yang masih saja tertutup. tapi tiba tiba, "Siapa itu ?" mataku terbelalak melihat baru saja seorang wanita keluar dari kamar Amri. "Aku gak salah kamar ko beneran itu kamar Amri" aku terus mengucek kedua mataku tapi aku yakin wanita itu keluar dari kamar Amri.
Segera kusiapkan tas selempangku dan bergegas ke kamar Amri untuk mencari tau yang sebenarnya.
"Tok Tok Tok..."
Butuh beberapa menit sampai akhirnya Amri membukakan pintu kamarnya. "Feiza ... ngapain ? tunggu dibawah aja dulu nanti aku susul ya" Amri terlihat terkejut dengan kedatanganku. wajar saja, wanita gak dibolehin memasuki area pria begitu pula sebaliknya.
Aku pergi tanpa menjawab Amri yang segera masuk kembali kekamarnya setelah aku melangkah menjauh dari kamarnya.
Sekitar dua puluh menit sampai Amri menghampiriku di lobby kost nya. "kenapa nyamperin ke kamar ? kan gak boleh, nanti dimarahin ibu kost loh" masih saja Amri membahasnya.
"jangan bete gitu mukanya, senyum dong" kedua ibu jarinya menarik ujung bibirku memaksaku untuk tersenyum tapi masih saja aku menunjukan raut wajah kesal kepadanya.
"Hey ... Fei ... Feiza ... jangan gini dong" Seakan tersentak pandanganku yang daritadi ke lain lain arah langsung menatapnya sejenak lalu menundukan kepala dan mengela nafas sampai akhirnya aku beranjak dan berusaha menenangkan pikiranku yang masih saja kalut mengingat seseorang yang keluar dari kamar Amri tadi.
Di parkiran, Amri memasangkan helm dikepalaku. dan sebelum dia starter motornya masih saja menanyakanku yang masih terlihat murung "Fei ... beneran gapapa ?" tanyanya dengan sangat hati hati seakan tau benar sifatku yang moody. "Aku gapapa" jawabku sambil memeluknya erat dari belakang di atas motornya.
__ADS_1
Dia membawaku ke sebuah cafe dimana terlihat pemandangan satu kota dari ketinggian. "Gak berubah ya, disini juga kamu jelajahin tempat tempat keren ?" kataku yang memandang keindahan kota dimalam hari. Tersirat senyum manis dibibirnya kala itu, seketika membuatku ingin sekali mengecupnya. Terlebih pandangan matanya yang begitu dalam mengarah kepadaku.
Dia sengaja memilih tempat di pinggir pagar cafe itu supaya lebih puas memandang langit dengan taburan bintang dan kilauan lampu bangunan di kota itu.
"Fei ... " panggilan itu membuatku sontak membalas pandangannya yang sekarang dengan raut wajah serius. Seketika mengingatkan ku ada masalah yang harus aku ceritakan kedia.
"Sayang, aku tau sesuatu terjadi sampai kamu harus datang kesini kan ?" katanya melanjutkan ucapannya. Tiba tiba waitres datang membawakan menu. Hanya butuh kurang dari satu menit untuk memesan makanan dan minuman hingga akhirnya kami bisa kembali melanjutkan obrolan yang terlihat serius bagi kami.
Aku menghela nafas setelah cukup lama berdiam diri mengumpulkan keberanian dan merangkai kata yang akan kusampaikan ke Amri.
"Aku sudah pernah bilang aku bakal selalu ada buatmu sayang" katanya yang terus meyakinkan ku supaya bisa menceritakan apa saja ke dia.
"Tadi aku lihat ada seseorang keluar dari kamarmu" bukannya menceritakan tentang Soraya, aku malah lebih penasaran ke wanita yang kulihat tadi sore di depan kamarnya.
Raut wajahnya berubah panik, bola matanya memandang ke segala arah dan sangat terlihat jelas dia sedang mencari jawaban atas pertanyaan yang baru saja kulontarkan.
"cewek mana ? gak ada siapa siapa" jawabnya gugup.
Cukup lama bahkan aku menunggu jawabannya sampai pesanan kami datang memenuhi meja kami. "Makan dulu Fei ... yang ini enak loh" Rupanya Amri mau mengalihkan pembicaraan kami. Sedikit kecewa tersirat dalam hatiku. "Kebohongan apa yang kamu sembunyikan Ri" rintihku dalam hati.
Aku mengikuti kemauannya, setelah itu aku gak membahas tentang wanita itu lagi. Dan menggantinya dengan menceritakan apa yang selama ini Soraya lakukan kepadaku.
Mendengarkanku bercerita, Amri berulang kali mengumpat kata kata kasar untuk Soraya yang sering juga ku ungkapkan. Terlihat sangat marah membuatku melihat Amri masih sama seperti yang kukenal dari awal. Dia masih sangat terlihat peduli denganku.
"Fei ..." Amri seperti ingin mengatakan sesuatu tapi tiba tiba gak jadi dan mengurungkan niatnya. Membuatku semakin penasaran. Ku geser piring makanku, dan kutarik kedua tangannya yang terlihat tergenggam diatas meja.
"Sayang, kamu taukan aku sayang sama kamu. Itu sebabnya aku menceritakan segalanya supaya gak ada kesalahpahaman diantara kita nantinya" Aku berusaha meyakinkan Amri supaya dia bisa dengan nyaman menceritakan kegundahannya kepadaku.
__ADS_1
"Maaf Fei ... Aku buat satu kesalahan ... tapi ..." kalimatnya kembali mengingatkanku ke wanita yang kulihat keluar dari kamarnya.
"Siapa wanita itu ?" tanpa sadar aku mengucapkannya. berusaha menguatkan hati dan emosionalku.
"Siapa wanita itu ?" ku ulangin dengan nada sedikit lebih tinggi tapi belum juga dijawabnya. Membuatku meneteskan bahkan hingga membanjiri piliku dengan air mata kekecewaan.
"Fei ... jangan nangis please ..." Amri merapatkan duduknya kesampingku, aku menepisnya setiap kali dia ingin memeluk bahkan sekedar menyentuhku.
"Aku gak tau kalian sudah melakukan apa saja. Tapi aku juga berusaha setia Ri" Tanpa Amri menyelesaikan kalimatnya aku sudah sangat meyakini bahwa mereka memang berselingkuh.
"Fei ... Aku setia ... Aku sayang sama kamu ... Cinta" bahkan sekarang kalimat itu bagai bualan untukku.
"Cukup Ri, aku mau balik sekarang" aku beranjak dari kursiku dan ingin melangkah namun ditahannya.
"Duduk sebentar lagi ya Fei ..." dengan lembut dia memohon kepadaku supaya dia bisa menceritakannya dengan sangat detail.
"Fei ... Aku minta maaf ... aku gak tau kami melakukan apa .. tapi ..."
"Tapi apa ?" aku membentakny dengan jarak begitu dekat dengan wajahnya dan melototinya dengan mata sembabku.
"Aku rasa aku dijebak" Sungguh aku bahkan bingung mau mempercayainya atau tidak.
"Fei .. please ... percaya sama aku"
"Lantas apa yang mau kamu lakukan sekarang ?" tanyaku tanpa memandangnya dan menutupi wajahku dengan kedua telapak tanganku.
"Dia menuntutku menikahinya" kalimat Amri membuat mataku terbelalak. Sepertinya sudah hancur perasaan ini, dengan kuat aku bertahan diatas perjodohan Amri dan Soraya, tapi wanita lain datang dengan masalah yang lebih berat. "Lalu ?" tanyaku pelan.
__ADS_1
"Jangan tanyakan itu Fei, aku bahkan bingung, aku merasa gak melakukan apapun" Amri masih berusaha menarik tanganku untuk digenggamnya yang akhirnya aku izinkan dengan pasrah, bahkan aku merebahkan badanku kepelukannya dan menangis di dadanya.
"Maafin aku Fei ..."