Cinta Pertama Tanpa Restu

Cinta Pertama Tanpa Restu
Amri Rizwan Ramdani


__ADS_3

Seperti yang sudah dia katakan, begitu pertandingan selesai dia menghampiriku dan berkata "tunggu disini ya aku ganti baju bentar?" katanya yang masih saja sembarangan mengambil botol minum dari tanganku dan meminumnya. Hatiku menggerutu, dia pikir bisa membayar minuman itu dengan senyumannya itu, Tapi aku tetap saja gak speechless disaat dia bertingkah aneh begitu. "Tenang, Feiza gak kemana mana ko" sahut Milla yang sedari tadi masih standby disampingku dan membuatku refleks mencubitnya lagi karena ulahnya. "kamu gak ngomong apa apa sih Fei" jawab Milla setelah Amri berlalu dari hadapan kami.


Gak begitu lama sembari aku dan Milla mengobrol di kursi lapangan basket, Amri datang dengan wajah lebih segar dan beraroma wangi bahkan tercium dari jaraknya yang masih beberapa meter dari kami. Dia datang dari arah belakangku "Pergi sekarang yok" ajaknya. Aku menatap Milla sejenak dan seperti paham maksudku dia langsung berkata "udah pergi sana, aku juga ada urusan sama David" kata Milla sambil mendorongku pelan. dan akhirnya aku mengikuti Amri dari belakang tapi sepersekian detik setelahnya tiba tiba dia menarik pergelangan tanganku dan menggenggamku sepanjang jalan hingga ke parkiran. Aku merasa tidak nyaman dengan pandangan orang orang di sekolah yang seakan akan aku sedang berbuat kesalahan kepada mereka.


Dimotornya Amri sudah menyiapkan dua helm seakan sudah merencanakan sesuatu, dan disaat itu dia bahkan memakaikan helm itu dikepalaku. Aku berusaha menolak dan memakainya sendiri tapi dia tetap kekeh memegangi helm yang ku pakai. "aku pikir kamu gak bisa pake helm" katanya yang mungkin ingin melucu didepanku tapi aku hanya membalasnya dengan memaksakan menyengir selebar lebarnya mengisyaratkan guyonanmu gak lucu sama sekali.


Dalam perjalanan aku sempat menanyakan kemana dia akan membawaku tapi dia menjawab. Entah refleks atau latah, kebiasaan mencubitku muncul dan kudaratkan cubitan ke pinggangnya sampai dia menjerit lalu aku tersadar dan meminta maaf padanya, tapi dia malah tertawa terbahak melihat wajah konyolku lewat spion motornya.

__ADS_1


Akhirnya kita sampai di sebuah rumah di pinggiran kota, pikiranku sudah campur aduk memikirkan apa selanjutnya kejutan yang akan kuterima dari cowo misterius ini. Aku terdiam cukup lama di samping motornya ketika dia memarkirkan motor di halaman depan rumah itu. Rasanya perasaanku berkecamuk gak karuan, pikiran pikiran negatif mulai bergentayangan di atas kepalaku. "hey, buang jauh jauh pikiran burukmu itu" kata Amri seakan bisa membaca pikiranku, mendengarnya aku jadi malu. Dia menarik tanganku menuju pintu depan. "Assalamuallaikum" kata Amri mengucapkan salam sembari mengetuk pintu beberapa kali dan gak butuh waktu lama sampai akhirnya seorang pria paruh baya membukakan pintunya. Penampilannya necis, sangat terlihat jelas pria itu cukup berada san mungkin dia adalah seorang mandor di lingkungannya. "Yah, ini Feiza" kata Amri memperkenalkanku setelah menyalimi tangan orang tua yang ternyata adalah Ayahnya, bergantian dengan Amri aku menyaliminya juga. "Ayok masuk, jangan sungkan sungkan" kata Ayah Amri dan aku menganggukan kepalaku dengan sedikit senyum. Amri menarik tanganku sampai dalam dapur rumahnya. Amri menyuruhku duduk di kursi meja makan. Aku semakin gak ngerti jalan pikiran cowo ini dengan menyuruh tamu ke dapur rumahnya, bukan ke ruang tamu atau teras. Lagian buat apa dia tiba tiba mengajakku ke rumahnya.


Sekitar 10 menit aku ditinggalkan sendirian di ruangan itu, pikiran negatifku kembali bergentayangan, lalu setelahnya Amri datang membawakan hazelnut coffee seperti yang biasa dia suguhkan untukku. Cukup lama aku menatapnya dengan penuh rasa penasaran akan maksud dan tujuan Amri melakukan semua ini kepadaku. "Sudahlah, to the point aja kenapa kamu lakukan semua ini sih ? jangan buat aku bingung" kataku sembari beranjak dari kursi menuju pintu tengah yang cukup terbuka lebar. "bahkan aku sama sekali gak kenal siapa kamu, meskipun Milla bilang kamu cowo populer" lanjutku. Lagi lagi Amri tersenyum melihatku dan perlahan dia mendekatiku, membuat jantung ini makin berdegup kencang tak teratur.


"Aku berbeda" katanya perlahan dan kemudian berhenti sejenak. "dari kecil gak ada yang mau berteman denganku bahkan sampai SMP" lanjutnya. Aku membalas tatapannya yang dari tadi tertuju padaku, tapi tidak begitu lama dia memalingkannya setelah kudapati matanya yang mulai berkaca kaca setelah dia bilang "dari kecil aku hanya hidup berdua dengan Ayah, ibu meninggalkan kami. Aku baru saja pindah ke tengah kota ketika masuk SMA, meninggalkan Ayah dan pulang di hari weekend" kata Amri menceritakannya padaku.


Cukup lama dia bercerita sampai akhirnya Ayah Amri yang tadi pergi ke kebun belakang rumahnya kembali masuk lewat pintu belakang dan mengejutkan kami "Nah loh kopinya gak di minum ? Gak enak loh dingin" katanya. "Yaudah ntar ku buatkan lagi aja ya" kata Amri sembari menyeka matanya. "gausah gausah ini aja" kataku sambil melangkahkan kaki ke arah meja makan dimana kopi itu diletakkan. Ku seruput kopi yang sudah menjelang dingin itu "masih enak ko" kataku sembari melempar senyum kepada Amri.

__ADS_1


Dia menarik kursi yang ada dihadapanku dan duduk disana. "Lucu memang, aneh rasanya menceritakan hal yang selama ini gak pernah ku ceritakan ke siapapun" kata Amri setelah menghela nafas yang begitu dalam. "ceritakan apa saja, aku bakal dengarin dan merahasiakannya kalo kamu mau" kataku sembari menghiburnya. Dia yang masih duduk dikursi tiba tiba menggenggam kedua tanganku dan menengadahkan kepalanya memandang aku yang masih berdiri didepannya. "Kamu pasti sudah lupa, pertama kali aku menginjakan kaki ke kota ini dua tahun lalu kita pernah bertemu" kata Amri berusaha mengingatkan.


Dia menceritakan bahwa dia sudah jatuh cinta pada pandangan pertama disaat dia melihatku dari depan panti asuhan yang pernah kudatangi. Saat itu dia lewat, jalan kaki bersama Ayahnya dan menghentikan langkah begitu mendengar suaraku yang memanggil seorang anak dipanti itu. Ketika Amri memandangku, aku tersadar dan menghampirinya bahkan menawarkannya mampir karena kala itu aku sedang memasak makanan untuk penghuni panti itu, dan anak anak disana menarik dan membujuk Amri sehingga dia dan Ayahnya mampir disana.


Aku baru ingat, Dulu aku sering berkunjung ke panti asuhan dan bermain bersama anak anak disana waktu masih tinggal dirumah Nenek. Sejak pindah ke rumah baru dan masuk SMA aku belum pernah lagi kesana. Dan disaat Amri mampir itu adalah hari terakhirku berkunjung disana. Gak begitu mengingatnya tapi Amri bercerita bahwa dia terkesima denganku yang terlihat penyanyang bahkan anak anak disana sangat menyukaiku. Belum lagi makanan buatanku yang membuatnya makin kagum.


"Kamu jatuh cinta padaku ?" tanyaku yang masih heran dan langsung melepaskan genggaman tangannya. "Aku maklum kalo kamu kagum dan terkesima, tapi itu berbeda dengan cinta" kataku yang berusaha meyakinkan Amri tentang perasaannya. Dia kembali menarik tanganku, tapi kali ini dia berdiri dari tempat duduknya. "pandang mataku" kata Amri sambil terus menatapku tajam. Aku merasa gak mampu untuk menatapnya, ada perasaan takut dan grogi saat itu karena untuk pertama kalinya ada yang menyatakan cinta padaku. "Fei, please, tatap mataku dan katakan kamu gak cinta sama aku" katanya sembari melepas genggamannya dan kedua tangannya berpindah memegang pipiku supaya wajahku bisa tepat berada di depan wajahnya, begitu dekat, sangat dekat, aku berusaha menunduk dan memejamkan mata karena gak tau harus jawab apa.

__ADS_1


__ADS_2