
Setelah beberapa hari aku mengurung diri di kamar tanpa makan dan minum, sampai akhirnya orang tuaku memanggil psikiater kerumah dengan harapan bisa membuatku lebih baik tapi semuanya percuma. bahkan aku makin meronta ketika mereka menyuntikku paksa seakan aku sudah kehilangan akal sehat.
"Fei ..." Seseorang memasuki kamarku dan perlahan menghampiriku. Aku yang sedang duduk meringkuk diatas tempat tidur langsung menengadahkan kepala dan mataku membulat melihat Amri dihadapanku. Duduk ditepi kasurku, tanpa mengucapkan apapun aku memeluknya seerat mungkin seakan gak ingin kulepaskan. Begitu pula dia yang membalas pelukanku sembari mengusapi kepalaku. Air mataku tumpah dipelukannya saat itu.
"kamu bohong sama aku ... kamu bilang kamu setia, kamu bilang bakal pertahanin aku" aku mencurahkannya masih dalam dekapan Amri.
Amri berusaha melepas pelukanku dan berkata "Hey ... Ssstttt" dia menaruh telunjuknya di bibirku dan mengangkat sedikit kepalaku agar bisa dipandangnya "Aku gak pernah ingkar Fei, aku sedang berusaha, kamu harus tetap menungguku karena aku gak akan pernah ninggalin kamu " katanya.
Aku kembali memeluknya, sampai akhirnya Papi masuk kedalam kamar menemui kami berdua, membuatku kaget bukan main. "Papi ... Pi tolong ..." aku gak melanjutkan kalimatku.
"Fei ... Papi yang minta Amri kemari karena kamu sudah gak mau dengar kata kata kami lagi. Bahkan ketika Papi mau menjelaskan yang sebenarnya" Kata Papi membuatku mencerna kalimatnya dengan waktu yang cukup lama
"maksud Papi ..." aku bergantian memandang Papi dan Amri. Seketika Amri berdiri dan digantikan oleh Papi yang sekarang duduk ditepi kasurku.
"Fei ... Papi gak sengaja dengar kalo semua ini ulah Soraya, temanmu itu bersekongkol dengan wanita yang mengaku ditiduri Amri" Aku dibuat kaget seakan gak percaya, Papi sendirilah yang mendengar kebenarannya.
"Papi tau dari mana ?" tanyaku masih penasaran.
Sekarang Soraya menggantikan Daddy nya, menjadi Bos Papi dan memindahkan Papi kembali ke kantor cabang. Ketika Papi berkunjung untuk rapat di kantor pusat, Papi mendengarnya sendiri dan setelahnya Papi berinisiatif untuk memberitahukan ke Amri terlebih dahulu.
"Lalu ..."
__ADS_1
"Sekarang kamu jangan memikirkan apapun dulu, Papi sudah merestui kalian dan kami akan menyelesaikan masalah ini" Kata Papi seraya memegangi kedua pipiku yang sudah mulai tirus.
"Sekarang makan dulu ya Fei, lihat pipimu ini sudah susah dicubiti" kata Papi memainkan Pipiku. Setidaknya bisa membuatku tersenyum lega saat itu.
Gak begitu lama Amri yang pergi mengambilkanku makan pun kembali dan menyuapiku di kamar, sedangkan Papi meninggalkan kami berdua. Mereka sudah cukup percaya bahwa Amri memanglah orang baik.
"Aku senang, Papi akhirnya merestui kita" Amri hanya tersenyum kepadaku sambil terus menyuapiku dmyang makan dengan lahap.
...
...
Sejak saat itu, Aku dengan rutin kontrol kesehatan dengan mendatangkan psikiater ke rumah dan terkadang ke kliniknya. Serta mengurangi keluar rumah tanpa keperluan penting. Kecuali ke ruko tempatku jualan yang makin ramai saja.
"Feiza sudah tau yang sebenarnya, jadi Feiza bakal lebih kuat dari sebelumny" aku menyunggingkan senyumku ke kakak iparku itu yang memang membantuku jualan di ruko.
Milla pun menetap kembali disini setelah menyelesaikan kuliahnya. Bekerja di perusahaan orang tuanya yang bergerak di bidang photography membuatnya bisa dengan mudah membantuku mengambil gambar gambar bagus jualanku untuk di iklankan.
"Sesuai jurusan ya Mill kerjanya" Kataku ketika dia mengunjungi ruko.
"Iya lah emang ini kemauan orang tuaku" jawabnya.
__ADS_1
"Kan kamu mau juga"
"mau gak mau kan. jadi jalanin aja"
Kami asik mengobrol di toko keripik yang sekarang sudah berkembang menjadi cafe kecil.
"Alhamdulillah Fei, aku senang ngeliat kamu baik baik aja" katanya yang ku balas dengan senyum tanpa beban.
Aku memang berusaha pasrah atas semua kejadian ini meski gak tau bagaimana akhir cerita cintaku nanti. Bagaimana mungkin kedua wanita itu ternyata bersekongkol, lalu untuk apa.
"Fei ... Hey Fei" David dan Reyhan menyusul ke cafe ku. "eh ko ada kalian ?" tanyaku. Lalu Reyhan memonyongkan bibir dan mengarahkan matanya bergantian ke David dan Milla.
"Kalian balikan ya ?" tanyaku yang reflek berdiri karena terlalu bersemangat. syukurlah tebakanku gak meleset "Iya Fei" David menyautiku dan tanpa segan aku merubuhkan badanku ke Milla untuk memeluk dan mengucapkan selamat kepadanya.
"Tunggu, biar rame aku ajak temen temenku dulu ya" kataku yang kemudian mengutak atik Hp.
"Trio kwek kwek itu" celetuk Reyhan.
"Iya yang kamu suka itu" sahut David yang langsung kena pukulan di pundaknya dari Reyhan.
"Jadi ... kamu suka siapa ?" Aku dan Milla bertanya berbarengan.
__ADS_1
"Gak ... gak ada" dengan sangat gugup Reyhan berucap membuat kami semua tergelitik.