
Hari ini, aku harus kesekolah untuk melihat hasil kelulusan. Milla semalam menginap di rumah karena aku berencana untuk jalan kaki kesekolah, dan Milla berinisiatif menemaniku. Sedangkan Reyhan mendatangi rumahku untuk memarkirkan motornya dan menemani kami berjalan kaki.
"Aku gak mau ya nanti kamu minggat lagi, jadi mending aku temenin kamu" kata Milla meledekku.
Aku sama sekali gak tersinggung dengan ucapannya, karena aku tau Mereka semua peduli denganku.
Belum sampai didepan gerbang, perjalanan kami di cegat seorang pria bertubuh besar yang tiba tiba keluar dari dalam mobil yang terparkir jauh sebelum kami sampai.
"Ada yang mau bicara denganmu" katanya dengan tatapan tertuju padaku.
"Siapa ?"
Pria besar itu menunjuk kedalam mobil.
"Tante ?" ternyata Ibunya Amri sedang duduk didalam mobil tersebut, menatapku tajam dan memintaku masuk ke dalam mobil untuk membicarakan sesuatu.
Seakan tau apa yang akan dibahasnya, akupun menolak. "Maaf tante, saya harus sekolah" seketika aku melewati pria besar itu dan terus berjalan diikuti Reyhan dan Milla.
"Kamu akan menyesal, ****** !" teriakannya terdengar jelas di kupingku namun gak membuat langkahku terhenti. Berbeda denganku, Milla yang lebih terlihat emosi kembali menghampiri Ibunya Amri. Untungnya Reyhan dan aku bisa menahannya dan kami masuk ke halaman sekolah.
"bisa banget dia begitu, dia yang ******, ninggalin anal demi harta" Milla sangat emosi saat itu.
"Sudah Mill tenang, Jangan bikin Feiza emosi juga nanti" kata Reyhan seketika membuat Milla meminta maaf padaku.
"Makasih ya kalian udah setia ngebela aku" aku sangat berusaha menahan air mataku yang bahkan ingin sekali meluap luap.
Milla memelukku, seketika Guru BK lewat dan berhenti di dekat kami. "Feiza gapapa ?" tanyanya dengan sangat ramah, sepertinya Papi atau Ka Soni sudah menceritakan masalahku kepada Ibu Guru.
"Gapapa bu, cuma lagi pusing aja" jawabku yang berusaha tersenyum didepannya agar terlihat baik baik saja.
Sampai di mading sekolah, tempat pengumuman daftar hasil ujian siswa siswi sekolahku tertempel disana.
"terlalu penuh, gimana kalo kita nongkrong dikantin dulu aja" ajak Milla dan langsung kami setujui.
__ADS_1
Sudah semakin siang, Mading itu terlihat dari kantin outdoor sekolah kami. "Sudah sepi, mau liat ?" tanya Reyhan. kami pun menghabiskan jajanan yang kami beli lalu beranjak menuju mading sekolah.
Beberapa menit kupandangi jejeran nama siswa siswi satu sekolah hingga tertuju di namaku sendiri. "LULUS !!" teriakku bangga, karena lulus dengan nilai yang memuaskan.
Begitu juga dengan Milla dan Reyhan. Bahkan Milla dengan mudah mendapatkan namanya didaftar kelulusan itu karena dia mendapat peringkat dua dari seluruh siswa disekolah kami. "Selamat ya Mill" kata ku bergantian dengan Reyhan.
"Duh bangga deh punya temen cewek pintar pintar kayak kalian, gak cuma modal cangkem doang" Tiba tiba Reyhan berkata sesuatu yang ditujukan oleh geng julid yang berada tepat dibelakang ku dan Milla.
"Heh maksud mu apasih"
"diliat aja ganteng tapi kayak cewe lu"
"banyak omong banget sih laki
"emang lu pintar"
mereka bergantian mengoceh gak terima dengan pernyataan yang dilontarkan Reyhan untuk mereka.
"kamu yang kepedean, jangan senang dulu" aku tau maksud pembicaraan Soraya mengarah kemana.
"tahan Fei ... tahan feiza ..." kataku dalam hati.
kalo gak ingat kata kata Amri, udah ku jambak bibirnya tuh cewe cewe julid.
Sepulang sekolah kami kembali berkumpul di kamarku, memesan Delivery Pizza dan membuat minuman dingin didapur.
"Nenek" tiba tiba nenek menghampiri kami yang sibuk mengutak atik isi kulkas. "Kalian ngapain ?" tanya nenek. "buat minum nek" jawab Milla.
Nenek mengatakan ingin bergabung bersama kami karena bosan dan gak tau harus ngapain lagi. Kalo dirumahnya pasti Nenek sudah bermain dengan hewan hewan peliharaannya. Ayam, bebek, burung dan kucing. Selama nenek tinggal dirumahku, hewan hewan itu dititipkan oleh seseorang disana.
Kami mengobrol banyak. Nenek juga menceritakan bagaimana masa mudanya dan juga masa kecil Papi hingga menikah dengan Mami.
"Papi mu itu gak banyak bergaul, apalagi dekat sama wanita. Mami itu cinta pertamanya" bisik Nenek seakan mengenang masa lalu.
__ADS_1
"benarkah, lanjut nek" sahut Milla semangat mendengarkan. begitu pula Reyhan dan aku.
"Dulu mereka bertengkar terus waktu SMA, eh pas lulus malah satu kampus"
"Nenek gak ingat gimana mereka bisa akur, tapi emang sampe menikah mereka masih suka berdebat"
"Tapi Nek ... Selama ini Feiza gak pernah liat mereka berdebat" protesku.
Memang benar, selama ini, kecuali akhir akhir ini.
"Kamu yang gak perhatikan atau mereka yang sengaja berdebat dibelakang kalian" jawab Nenek dengan ukiran senyum diwajahnya.
"Tapi Mami mu itu manja, manja sekali, seperti Feiza ini nih. Papi selalu luluh setiap kali mereka berdebat. Padahal jika dengan orang lain Papi mana mau kalah" tambah Nenek.
"Kapan mereka menikah Nek ?" tanya Reyhan.
"Tepat dihari wisuda, Papi melamar Mami, didepan kedua orang tua mereka" jawab Nenek dengan bangga mengenang kejantanan anaknya.
"Wah berarti Amri juga harus nunggu kamu wisuda Fei" Milla seketika menyeletuk.
"Husss ..." timpal Reyhan.
"Feiza, Papimu memang keras, tapi hatinya lembut. Nenek sudah tau ceritamu dengan pacarmu itu. Nenek belum kenal sama dia tapi nenek percaya cucu kesayangan nenek ini gak salah pilih masalah hati. Papi pasti sangat menjaga mu makanya terkesan posesif" bujuk Nenek.
"Feiza ngerti ko Nek, Feiza juga yakin Amri mampu bertahan dan membuktikan ke Papi kalo dia yang terbaik buat Feiza" jawabku.
"Kalian ini masih remaja, masih labil, tapi pasti sudah bisa kan menilai mana yang baik dan buruk. Nenek doakan supaya kalian bisa mendapatkan jodoh yang terbaik untuk kalian masing masing" Nenek terus menasehati dan mendoakan kami semua, termasuk Milla dan Reyhan yang saat itu membuka kuping untuk mendengarkan segala nasehat Nenekku.
Gak berasa sudah mau malam, kami beranjak membereskan sisa makan dan minum kami yang bahkan habis gak bersisa, setelah kembali bersih kami berpindah tempat untuk menonton film yang sudah disimpan Milla di flashdisk yang dibawanya.
"gak ada tv dikamarku, kita ke ruang tengah aja, tutup semua pintu biar lebih gelap" kataku menyarankan. Dan akhirnya kami melihat daftar film dalam flashdisk Milla.
Sedangkan Nenek berpamitan untuk kembali beristirahat didalam kamarnya yang berada tepat disebelah kamarku. "Selamat beristirahat Nek" kata kami bergantian.
__ADS_1