
Sepanjang jalan setelah turun dari taxi aku menyusuri trotoar dan langkahku terhenti di depan jalan setapak menuju panti asuhan yang pernah aku kunjungi bersama Amri.
"Lah mbak kemari gak bilang bilang" seorang ibu penjaga panti yang sedang menyapu halaman menyapaku yang memasuki pagar pekarangannya.
"mbak Fei nangis ? ayok masuk dulu" dengan cekatan ibu panti merangkul dan menggiringku masuk ke salah satu kamar di panti tersebut.
"kalo mbak gak mau cerita biar istirahat disini aja dulu. saya tinggal keluar sebentar ya" kata Ibu panti sembari pamit kepadaku. Aku mengangguk pelan kemudian tidur meringkuk, menangis didalam selimut. Dengan keras aku berusaha supaya tangisku gak terdengar siapapun. sampai akhirnya aku tertidur pulas disana.
Ketika aku bangun dan melihat jam didinding kamar itu yang menunjukan jam tujuh malam, aku meregangkan otot otot badan dulu sebelum akhirnya keluar dari kamar itu.
"Brukkk ..." tepat selangkah aku keluar kamar tiba tiba seorang anak kecil yang asik berlarian menabrakku yang baru keluar kamar.
"Maaf ka" katanya yang masih terduduk dilantai. "kakak yang minta maaf dek, ayok sini kakak bantu" kataku sembari menarik tangannya dan membantunya berdiri. Hanya hitungan detik teman temannya menghampiri kami.
"Intan gapapa ?" tanya seorang anak kecil lainnya yang menghampiri. Dengan senyum manisnya anak yang terjatuh tadi menjawab "gapapa ka" dengan manjanya.
"Ka Fei" tiba tiba anak kecil yang memperhatikan temannya yang terjatuh tadi melirikku dan seketika memasang wajah cerianya dan beberapa dari mereka yang memang mengenalku langsung mendekat dan memelukku dengan erat.
"kapan kakak datang ? kak Amri mana ? kakak kenapa?" tanya mereka bergantian. belum sempat ku jawab pertanyaan mereka, Ibu panti menghampiri kami. "Sudah sudah jangan ganggu ka Feiza, siap siap makan malam aja yok" kata Ibu Panti yang langsung di iyakan oleh anak anak.
"Sudah lebih baik sekarang ?" tanya Ibu Panti dengan penuh perhatian. Aku mengangguk dan berusaha memberinya senyuman supaya terlihat lebih baik. Sudah lebih dari dua puluh tahun beliau menjaga Panti yang didirikan oleh Ayahnya Amri. Meskipun sempat bangkrut tapi Amri dan Ayahnya selalu menyisihkan rezeki mereka untuk berbagi terutama Panti ini. Sejak mengenalku, dan tau kalo aku juga suka anak anak dia sering mengajakku ke Panti Panti Asuhan di kota kami.
__ADS_1
"Mandilah, setelah itu kita makan bersama" kata Ibu panti sembari memberikanku handuk bersih yang masih terlipat. "Maafkan Feiza udah ngerepotin Ibu" kataku lirih dan dibalas senyuman Ibu panti yang begitu menyejukan. "Gimana bisa mbak Fei merepotkan, ini juga rumahnya mbak" katanya menjawabku.
"Ka Feiii ..." Diruang makan anak anak bersorak menyambutku dengan sangat antusias, membuat seakan bebanku terlepas semuanya. Aku membalas mereka dengan senyum seikhlas mungkin.
Kami makan malam bersama dengan penuh canda tawa, makan sambil bercengkrama. Mereka semua membuatku lupa akan kesedihanku meskipun hanya sejenak.
"Sudah malam, masuk kamar masing masing ya anak anak" Ibu Panti meminta anak anak untuk beristirahat dan dengan tertib mereka menurutinya.
Setelah semua anak anak memasuki kamarnya masing masing, Ibu Panti mengantarkan ku ke kamar dimana aku sempat beristirahat tadi, Beliau masih menanyaiku dengan harapan aku akan berbagi cerita kepadanya.
Karena sudah hampir setahun ini sejak awal berpacaran dengan Amri aku sudah sering ke Panti tersebut membuat hubunganku dengan Ibu Panti bagai anak dan Ibu sendiri, akhirnya kuceritakan segalanya.
"Feiza gak tau apa alasan Mami dan Papi sering bertengkar" kataku yang lagi lagi kembali terisak. Ibu Panti mengusap lembut kepala hingga punggungku berulang kali mencoba menenangkanku tanpa berkata apapun.
Bukan hanya masalah keluarga yang tiba tiba rusak setelah terlihat harmonis selama bertahun tahun. Aku juga menceritakan tentang Soraya padanya. Membuat Ibu Panti ikutan geram sampai harus beristigfar karena hampir kelepasan emosinya. "Ya Allah kenapa sih ada manusia kayak gitu. Sabar ya mbak, saya yakin Mas Amri bakal jodoh sama Mbak Fei" lagi lagi Ibu Panti menghiburku sehingga menyiratkan senyum diwajahku.
"Bu ... satu hal lagi yang belum Feiza ceritakan kesiapapun, termasuk Amri" kataku lirih dengan sedikit ragu. "katakan mbak, jika mbak minta saya untuk merahasiakannya, saya akan menjaganya" Bu Panti meyakinkanku.
"Feiza gak yakin bu, Tapi ..."
"Sebelum Feiza kenal sama Amri, Soraya dan teman temannya menantang Feiza untuk taruhan" kataku yang memulai cerita dengan sangat hati hati dan sedikit terbata.
__ADS_1
"Taruhan ?" tiba tiba Ibu Panti menyela omonganku.
"Iya bu, Mereka memintaku untuk membuat seorang siswa populer jatuh cinta dan mau berpacaran denganku. Dan Amri lah siswa populer itu" Seketika pengakuanku membuat mata Ibu Panti terbelalak gak percaya, terlebih setelah aku mengakui bahwa aku menerima taruhan itu.
"Tapi bu ..." lagi lagi omonganku terputus karena memang sangat berat menceritakannya. Tapi entah kenapa aku merasa harus cerita, terlebih setelah mendengar pengakuan Soraya tentang hubungannya dengan Amri.
"Sudah mbak kalo sulit jangan diteruskan. saya mengerti mbak pasti punya alasan untuk menerimanya. terlebih teman teman mbak itu punya sifat yang gak baik" kata Ibu Panti kembali menenangkanku.
Setelah bisa mengatur emosi dan napasku yang naik turun akhirnya aku kembali melanjutkan ceritaku ke Ibu Panti. "Bu ..." Aku memanggil Ibu Panti yang baru saja akan keluar dari kamar tidurku. Membuat Ibu Panti kembali melangkahkan kaki ke arahku dan duduk ditepi tempat tidurku.
"Feiza memang menerima taruhan itu, tapi rasa takut yang begitu besar membuat Feiza mengurungkannya dan mengakui kekalahan bahkan sebelum Feiza dekat dengan Amri. Itu sebabnya Soraya dan teman temannya makin getir membully Feiza karena menganggap Feiza pecundang" kataku yang berusaha tegar menceritakan keluh kesahku.
"Lalu, mereka tau hubungan Mbak dengan Mas Amri ?" tanya Ibu Panti dengan sangat hati hati. Membuatku mengangguk pelan.
"Bagaimana responnya ?"
"Awalnya mereka kaget, tapi sepertinya mereka nekat mencari tau kenapa aku begitu dekat dan sampai pacaran sama Amri yang sangat dingin dengan cewek lain"
"Makin kesini mereka malah makin mengurusi hubunganku. Apalagi tempo hari juga Soraya pernah membisikanku dan mengancam akan berbuat apa saja supaya Amri kembali kepadanya"
"Sudahlah mbak, Saya juga yakin Mas Amri akan percaya dengan Mba Fei. Saran saya lebih baik Mbak Fei ceritakan ke Mas Amri tentang hal ini" kata Ibu Panti menyarankanku. Aku tertunduk dengan kedua tangan memegangi kepalaku, menahan rambutku yang menjuntai kedepan. Sedangkan Ibu Panti terus mengusap lembut punggungku.
__ADS_1
"Lebih baik mbak Fei istirahat dulu, semoga besok akan lebih tenang"
Setelah selesai menyelimutiku dan mematikan lampu kamar, Ibu Panti keluar meninggalkanku untuk beristirahat.