Cinta Pertama Tanpa Restu

Cinta Pertama Tanpa Restu
Penjelasan


__ADS_3

Seperti biasanya, aku selalu mengunci pintu dan sama sekali gak mau diganggu. Berulang kali Mami dan Papi mengetuk pintu kamar secara bergantian tapi aku tetap mendiamkan mereka.


"Apa aku yang bukan anak kandung ? Jadi selama ini siapa orang tuaku ?" Aku terus menanyakan hal hal pada diriku sendiri. Nyaris semua yang disukai bahkan alergiku dan Mami pun sama, tapi ternyata aku bukan anaknya. Masalah apalagi ini Tuhan ?.


Memikirkan hal itu semalaman membuatku hanyut dan tertidur disofa yang berada di pojok kamarku. Hingga akhirnya pagi pagi aku terbangun dengan badan yang sangat pegal.


Gak begitu lama, suara ketukan pintu mulai terdengar kembali. Kali ini, Mami membujukku dengan imbalan akan menceritakan semuanya kepadaku. Rasa penasaran membuatku luluh dan membukakan pintu untuk Mami yang kala itu sambil membawakan sarapan untukku di atas nampan.


"Papi dan ka Soni dimana ?" tanyaku sambil menengok keluar kamar.


"Papi sudah pergi kerja dari tadi Fei, ka Soni ada dikamarnya" jawab Mami.


"Sarapan dulu ya Fei" kulihat wajah sembab Mami menatapku dengan sendu. Wajah yang hanya kulihat akhir akhir ini. Wajah yang dulu selalu terukir senyum manis dan tawa bahagia.


"Maafin Feiza Mi" kataku yang ingin sekali meluapkan air mataku namun seakan sudah kuhabiskan semalaman.


"Makanlah, setelah ini Mami akan ceritakan semuanya. Mami sayang sama Feiza. Mami juga sangat tau Feiza sayang kan sama Mami" Mami terus berucap seraya menyuapiku Nasi goreng buatannya sendiri.


Aku hanya memandangi wajahnya dengan banyak pertanyaan berputar putar di atas kepalaku. Setelah sepiring nasi goreng dan susu strawberry ku habis, Mami meletakan nampan kosong itu di atas meja dekat kasurku. Lalu mengusap lembut dan merapikan poni ku yang mulai memanjang.


"Katakan semuanya Mi, apa Feiza bukan anak kandung kalian ?" kataku yang mulai gak sabar.


Mami cukup lama terdiam seakan mengumpulkan tenaganya untuk mengatakan rahasia yang selama ini dipendamnya.


"Nak, Feiza memang bukan anak kandung Mami, Tapi Mami sama sekali gak pernah mempermasalahkan itu, Mami menyayangimu sama seperti kakak kakakmu, bahkan lebih" Mami mulai mengatakannya dengan sedikit terjeda jeda karena isak tangis nya yang mulai meluap.


Aku memeluknya erat yang kini duduk di tepi kasur bersamaku. "Feiza sayang sama Mami, tapi Feiza takut Mi, Feiza takut menerima kenyataan ini, Mami gak bohong kan Mi" kataku meyakinkan Mami dan pastinya diriku sendiri.


"Feiza bukan anak kandung Mami ? Jadi aku ..." tiba tiba Ka Soni memasuki kamarku dengan wajah kagetnya, dan pastinya aku dan Mami yang gak nyangka Ka Soni menguping diluar kamarpun ikut terkejut.


Ka Soni menghampiri kami, duduk di sisi lain sebelahku, menatapku dengan tatapan gak percaya lalu memelukku dengan erat. "Gak Mi, Feiza adek Soni, Bilang Mi kalo Mami bohong, Feiza Adek Soni kan" untuk pertama kalinya ku lihat kakakku meronta, aku yang ikut merasakannya pun seakan teriris sakit didada.

__ADS_1


"Feiza memang adikmu Nak" Mami kembali berbicara, sontak membuat kami menatapnya. Apalagi sekarang.


"Maksud Mami ?" Serentak kami bertanya.


"Feiza memang bukan anak kandung Mami, tapi Feiza ..." Mami terdiam seakan gak sanggup mengatakan yang sebenarnya.


Lagi lagi rasanya kepalaku mau pecah hari itu, membuatku tiba tiba gak sadarkan diri disaat sedang mencoba menunggu Mami mengatakan kelanjutan kalimatnya.


"Fei ... Feiza" hanya itu teriakan yang ku dengar terakhir kali di ambang kesadaranku.


Setelah aku sadar, kulihat sekelilingku yang lagi lagi kutau aku sedang berada di kamar rawat inap rumah sakit dengan infus ditanganku yang mulai membengkak. Gak ada satu orang pun yang menemaniku saat aku tersadar, sampai akhirnya pintu kamar inap itu terbuka. dan seseorang langsung berlari ke arahku, "Feiza ..." Mami mendekapku yang sudah dalam keadaan terduduk.


Dokter dan suster menyusul setelah Mami menekan tombol bell di dekat tempat tidurku. Memeriksaku lalu mengajak Mami keluar kamar, "Katakan disini saja dok, saya juga mau tau" pintaku membuat seisi ruangan menoleh kepadaku. Sekilas kulihat dokter memandang Mami seakan memberi kode untuk meminta izinnya.


"Katakan disini dokter" Mami duduk di tepi tempat tidur dan menggenggam tanganku dengan sesekali mengelus punggung tangan ku dengan sangat lembut.


"Kamu mengalami depresi ringan, bisa diakibatkan karena memikirkan banyak hal, atau trauma akan satu hal" kata dokter mulai menjelaskan.


Aku terdiam dan melirik Mami yang juga melirikku dengan sendunya. Ia nenitikan air matanya dan menciumi pelipisku berulang kali. "Feiza bakal baik baik aja ko" kata Mami, membuatku mengelus kembali lengannya yang memelukku.


"Maafin Mami ya Fei, semua salah Mami" kata Mami yang masih terus saja menangis dihadapanku.


"Mami ... Mami mau bantu Feiza ?" kataku dengan tampang berusaha tegar.


"Mami akan membantumu apa saja"


Jawaban Mami membuatku makin tersenyum lega.


"Apa yang bisa Mami bantu sayang?" tanyanya.


"Tersenyumlah, dan berhenti menangis" kataku sambil menyeka air mata yang terus membasahi pipinya.

__ADS_1


Mami memandangku dalam dalam lalu menciumi keningku dan memelukku erat "Mami janji, Apapun itu, demi Feiza" kata Mami yang ingin memenuhi keinginanku.


Bersamaan dengan itu, Ka Soni memasuki kamar inapku dengan wajah sumringah melihatku yang ternyata gak sadarkan diri selama 10 hari akhirnya sudah terlihat duduk saat itu. "Sayaaaaangg" katanya sedikit berlari ke arahku dan memelukku, mengacak acak rambut yang bahkan belum sempat di sisir sejak tersadar tadi. "Kakaaaaakk"


"Soni, kabari kakak dan Papi ya" pinta Mami yang langsung disetujuinya. Tanpa beranjak dari sampingku, Dia menelpon kak Malik dan Papi untuk mengabari keadaanku.


"Mi, apa ada sisir ? Rambut Feiza berantakan banget" Keluhku.


"Mami gak bawa, tapi kakakmu ini pasti bawa, selama ini dia menyisiri rambutmu" kata Mami membuatku sonta menoleh ke kakakku dan menatapnya dengan penuh haru dan manja. "Benarkah ?" kataku.


Ka Soni yang selama ini suka usil denganku, ternyata merawatku dengan penuh perhatian. "Maafin kakak ya Fei, selama ini kakak gak punya waktu untuk kamu" katanya sambil menyisiri rambutku yang makin panjang.


"Sekarang, kakak bakal kasi kamu waktu kapan aja, tapi jangan suruh kakak pulang mendadak ya" lanjutnya setengah bercanda membuatku dan Mami tertawa.


"Waaaahh, sudah bisa ketawa tawa nih adek manisku" Ka Malik dan Ka Marwah datang membawa bucket buah dan Hazelnut Coffee kesukaanku.


"kakak belikan di Coffe Shop langgananmu" kata Ka Marwah menyodorkan gelas Coffee kehadapanku.


"Papi mana ?" tanyaku sembari melihat ke arah keluar pintu kamar.


"Papi kan belum pulang kerja, tunggu sebentar ya Fei, Papi pasti kesini ko" bujuk ka Malik.


"Apa karena aku bukan anak kandungnya ?" tanyaku dengan nada rendah dan sedikit menunduk sedih.


"Kamu ngomong apasih Fei ?" ka Malik yang belum tau apa yang terjadi langsung terkejut mendengar pernyataanku.


"Mami ..." ka Malik menatap penuh tanya ke Mami.


"Feiza gak sengaja dengar Mami dan Papi bertengkar dan membahas hal itu" Mami mengakui ke Ka Malik.


Ka Marwah yang gak tau apa apa juga ikut terkejut mendengarnya.

__ADS_1


"Feiza itu anak kandung Papi" Ka Malik berbicara lantang tapi masih menahan amarahnya.


"Maksud kakak ?" tanyaku yang makin heran. Tapi tiba tiba kepalaku kembali sakit. dan mereka menghentikan debat lalu segera menekan tombol untuk memanggil suster dan dokter.


__ADS_2