Cinta Pertama Tanpa Restu

Cinta Pertama Tanpa Restu
Minimarket


__ADS_3

Setelah terdiam cukup lama akhirnya Amri melepaskan tangannya dan mundur perlahan menjauh dari hadapanku. Duduk di kursi santai depan pintu lebar itu. "Maaf" kataku sembari menghampirinya. "Aku yang minta maaf karena terlalu memaksakan perasaan ini" jawabnya setelah menghela nafas yang cukup panjang. Menunduk dan menutup wajah dengan kedua tangannya. "sepertinya aku harus pulang" kataku. "kenapa?" tanyanya lagi dengan wajah kaget sembari menatapku dalam dalam. "Apa karena pernyataan cintaku, aku hanya ingin menyatakannya" lanjut Amri.


Bell rumah mereka berbunyi, Ayah Amri teriak dari dalam kamar "Buka pintunya nak Ayah pesan makanan".


Amri beranjak dari kursinya menuju pintu depan dan beberapa saat kemudian dia kembali dengan tentengan plastik bungkusan makanan pesanan Ayahnya.


Dia menatapku yang masih saja berdiri memandang langkahnya. "Sebaiknya kamu ikut kami makan malam dulu disini, setelah itu baru ku antar pulang" kata Amri dan aku mengangguk pelan karena aku juga merasa tidak enak dengan Ayahnya yang sudah melakukan semua ini. Ayahnya pasti sengaja memesan makanan sebanyak ini karena tau aku ada dirumahnya.


"Maaf ya Ayah tadi habis mandi" kata Ayah Amri, "hahaha, Ayah kalo mandi mana bisa sebentar" ledek Amri yang kemudian tertawa geli bersama Ayahnya. Akupun ikut tertawa melihat hubungan Ayah dan anaknya.


Disela sela makan malam kami bertiga cukup banyak mengobrol bahkan sampai hal hal pribadi seperti alasan Ibunya Amri meninggalkan mereka. Kulihat wajah sedih di wajah Ayahnya, berbeda dengan Amri yang malah terlihat kesal. "Sudah Yah cukup, gausah dibahas lagi" kata Amri menyudahi cerita Ayahnya. "Duh maaf ya nak Ayah suka ... " Belum selesai Ayahnya bicara, Lagi lagi Amri memutus omongannya "lanjutkan saja makanmu, setelah ini aku akan mengantarmu pulang" kata Amri yang makin terlihat kesal seakan menyimpan dendam yang sangat dalam kepada Ibunya.


Diperjalanan pulang kerumahku kami sama sekali tidak bersuara. Kecuali saat aku tiba tiba batuk tanpa henti seperti tersedak hingga mengeluarkan air mata. Amri panik dan meminggirkan motornya ke tepi jalan "Aku gak bawa air lagi" katanya sambil mengelus halus pundakku. Seketika wajah kesal yang kulihat dirumahnya berubah menjadi kepanikan. "Aku gapapa" kataku setelah menarik napas dalam dalam dan menghempaskanya perlahan.

__ADS_1


Melihat wajahku yang dipenuhi air mata dia langsung cekatan menghapusnya hingga air mata di wajahku benar benar hilang. "Kita jalan lagi, nanti di depan kalo ada warung kita beli minum dulu ya" Kata Amri. "Ok" jawabku singkat. Namun sebelum kembali naik ke motor aku terhenti dan diam melihat ke seberang jalan. "ada apa ?" tanya Amri bingung. Aku menunjuk ke seberang jalan dan kemudian kami bertatapan lalu tertawa bersama karena melihat ada minimarket disana. "aku terlalu panik sampe gak sadar" kata Amri.


Aku melipir ke depan motornya dan mau menyebrang ke arah minimarket itu. "Eh ngapain ? naik motor aja sini" katanya sambil menarik tanganku dan membuatku hampir jatoh ke belakang. "maaf maaf" katanya lagi. "Ayo naik" Amri menepuk jok motor dibelakangnya.


"Nyebrang aja gin, nanti jauh lagi di sini gada putaran yang dekat" kataku menunjuk kearah jalan belakang kami.


Kami berada di jalan besar dua jalur saat itu, sehingga lebih efektif kalo kita menyeberang dengan berjalan kaki. "Baiklah, aku temenin ya" kata Amri sembari turun dari motornya yang masih di standart nya dari tadi.


Di minimarket itu aku sedikit kalap karena melihat jejeran jajanan di rak rak minimarket. Sampai dikasir masih kulihat Amri yang sedari tadi cengar cengir secara diam diam "kenapa ?" tanyaku melotot padanya. "gapapa" jawabnya singkat sambil mencubit pipi tembem ku yang sudah terlihat seperti bapao. Pasti dia mau bilang aku gendutan.


"Jajan mu Fei" kata Amri sambil mencoba menahan tanganku namun aku melepaskannya dan bilang "kasi aja ke orang lain" kataku dengan nada kesal. Disetiap langkah masih ku dengar deretan orang mengantri di belakangku tadi bergantian berkomentar.


"suka deh sama cewe mandiri gitu"

__ADS_1


"duh baper ih sweet banget sih"


"bucin tuh, hahaha"


"kasian si cowo" bla bla bla


Sampainya diluar minimarket aku berdiri memaku dipinggir jalan sambil memperhatikan kendaraan sedang lalu lalang dengan lajunya. Tiba tiba aku dikejutkan Amri "Belum nyebrang?" tanyanya sambil mencolek pinggangku. Aku menghela nafas tanpa menjawabnya, kulihat bungkusan plastik berlabel nama minimarket di genggaman tangannya. dan tangan yang satu lagi tiba tiba menggenggam tanganku "tenang aja tanganku ada dua ko" katanya yang tersenyum melihatku memandang tangannya dari tadi.


Kami menyebrang bersama bergandengan dengan erat tapi entah kenapa rasanya jantungku berdegup lebih kencang saat dia menggenggam tanganku.


"Ttiiiiiiiiiinnnnn ..." Tiba tiba bunyi klakson panjang mengagetkanku, membuatku membalas genggaman tangan Amri dengan sangat kuat dan mendekatkan diri dengannya ditengah jalan. Amri melepaskan perlahan genggamannya dan merangkulku sampai menempel didekatnya.


Klakson itu bukan ditujukan pada kami saat itu tapi tetap saja membuatku kaget dan sedikit gemetar. Diatas motor Amri menarik tanganku ke arah pinggangnya dan aku menuruti tarikannya. ku peluk erat dan ku rebahkan kepalaku dipunggungnya, sungguh jantungku berdegup tak karuan dan mungkin saja dia bisa mendengar degup jantungku.

__ADS_1


"Fei, Feiza ... " kata Amri menepuk punggung tanganku yang masih melingkar dipinggangnya. Terasa terlalu nyaman sampai sampai gak kerasa sudah sampai depan rumah. "Maaf" kataku singkat dan langsung menuruni motornya. "Makasih ya, aku masuk dulu, kamu hati hati dijalan" kataku sedikit lemas. Amri kembali menarik dan menggengam tanganku dan berkata "masalah dirumahku tadi gak perlu dipikirkan, aku hanya minta jangan menjauh dariku" ucapnya sebelum melajukan motornya.


__ADS_2