Cinta Pertama Tanpa Restu

Cinta Pertama Tanpa Restu
Luar Kota


__ADS_3

Akhirnya aku memutuskan akan menceritakan ke Amri tentang Soraya. Tapi, karena Weekend ini Amri gak bisa pulang jadi aku akan ke kota dimana Amri kuliah sekaligus memberikan kejutan untukku. Toh selama ini aku selalu membuatnya kesal dan marah marah. Aku bahkan sudah merindukan pria dingin yang sudah menjadi bucinku itu.


"Mi ... Feiza mau datangin teman teman Feiza diluar kota" aku meminta izin ke Mami dengan sedikit manja supaya diperbolehkan.


"Teman kah teman ?" Mami meledekku lengkap dengan tatapan yang terus menatapku dan senyum yang tersungging sehingga membuatku mengaku.


"Iya iya Mi. Feiza mau nyamperin Amri. Dia weekend ini gak kesini, weekend kemaren juga dia sibuk" aku mengatakannya sambil cengar cengir menahan malu karena masih saja seperti orang dimabuk asmara.


"Duh susah nih kalo pasangan bucin. Tapi Mami gak yakin kalo Papi bakal izinin kamu Fei" jawaban Mami membuatku sedikit putus asa.


Hening ...


Hening ...


"Mi ... kan Mami bisa bilang ke Papi kalo Feiza nyamperin Ka Soni ... Please" aku memohon yang sebenarnya lebih terkesan memaksa dengan wajah memelas ke Mami.


"Jangan bohong ah Fei" Mami merasa takut.


"Gak bohong Mi, kan setelah itu Feiza samperin ka Soni" Pintaku yang makin memelas. Berhubung kota tempat Amri dan Ka Soni kuliah hanya berjarak 1 jam perjalanan jadi bisa dijadikan alasan.


"Baiklah, Mami bantuin kamu. tapi kamu bilang ke kakakmu dulu" Akhirnya Mami mengalah dan mau membantuku. Mami sangat takut jika aku bertindak nekat dan minggat lagi, jadi bisa dengan mudah membujuknya.


"Weekend ini kakak sibuk, nanti kamu malah marah dicuek cuekin" kata Ka Soni yang ternyata menolak untuk kusamperin karena kesibukannya yang padat.


"Gak lah aku kan cuma pengen ketemu ka" lagi lagi aku memelas ke kakak ku yang mudah ku gombal ini, sama seperti Mami. Meskipun kakakku sangatlah usil tapi dia selalu mengalah dan gampang di gombal, itu sebabnya dia selalu ditipu banyak wanita yang pernah mendekatinya. Tidak seperti kakak sulungku yang terkesan lebih tegas, meski begitu mereka sama sama penyayang.


Aku meminta izin ke Papi rabu malam, saat makan malam bersama. Awalnya Papi menolak dengan beribu alasan. Tapi aku cukup kekeh dengan permintaanku, sampai akhirnya Papi menyetujuinya meski aku harus menunggu jawabannya dikeesokan harinya. Karena Mami yang terus menelpon Papi untuk memberiku izin keluar kota. "Baiklah, tapi kamu temenin lah dia gak pernah pergi sendirian" terdengar suara Papi dari Hp Mami yang masih terhubung dengan Papi.

__ADS_1


"Feiza udah gede Pi, biarkan dia pergi sendiri. Sampai kapan kamu perlakukan dia seperti bocah?" Mami menjawab dengan agak tegas supaya Papi yakin dan akhirnya menyetujui aku keluar kota sendirian.


Hari ini Jumat pagi, aku sudah bersiap dengan tas ranselku yang sangat penuh sesak "Fei kamu pergi dua hari atau dua bulan?" Kata Papi yang melirik barang bawaanku membuat Mamipun terbahak dibuatnya.


"Papiii ..." aku mengerucutkan bibirku sebagai ekspresi kesal dengan ucapan Papi tapi yang kudapatkan adalah pelukan dan rambutku yang makin terhambur akibat di acak acak oleh Papi.


"Sebenarnya Papi berat melepasmu, mau suruh kakakmu yang kemari tapi dia sibuk. Kamu yakin mau nyamperin kakakmu ?" Papi bertanya padaku dan aku hanya mengangguk dan menatap dengan memelas agar Papi tetap mengizinkanku dan gak mengurungkan izin yang sudah dibuatnya.


"Biarkan Feiza belajar mandiri Pi" Akhirnya Mami membantuku lagi. "Aaaaahhh ... Love you Mami" aku membatin sambil menyunggingkan senyum dengan pandangan bergantian kearah mereka berdua.


Papi mengantarkanku ke terminal bus dan terus memperhatikanku hingga bus yang ku tumpangi sudah gak terlihat dari pandangannya.


Sesampai di kotanya Amri aku langsung menghubungi Ka Soni, karena aku terpaksa menceritakan keinginanku kalo gak dia pasti terus menolak kedatanganku. Aku selalu mengabarinya apapun yang aku lakukan disini supaya dia dengan mudah menjawab jika Papi menanyakanku.


Dari terminal bus aku langsung menuju penginapan didekat kampus Amri, disana kost para mahasiswa dan bisa di sewa harian. Syukurnya dijaman teknologi canggih ini aku gak perlu repot berkeliling mencari penginapan atau tempat lainnya, apalagi baru pertama kalinya aku ke kota ini.


"Aku yakin ko jumat siang dia masih ada perkuliahan" Tanpa sadar gumam ku terdengar oleh seseorang yang ada disampingku.


"Cari siapa mba ?" tanya orang itu.


"Orang ... anu ... temen" jawabku yang kaget dengan kehadirannya.


"Namanya ... siapa tau saya bisa bantu" Ku fikir orang ini berniat baik padaku. Tapi sepertinya gak mungkin kalo aku nanya Amri ke dia kan aku mau kasi surprise.


"Rey ..." belum sempat aku menyebutkan nama Reyhan dengan orang itu, secara bersamaan aku melihat Reyhan berjalan ke arah kantin, gak jauh dari tempat aku berdiri.


"Maaf ya Mas temen saya disana" Gak lupa untukku pamit ke mas mas yang berniat membantuku tadi.

__ADS_1


"Rey ... Reyhan ..." aku berlari dan sedikit berteriak memanggilnya beberapa kali hingga akhirnya dia menoleh dan menyadari kedatanganku.


"Feiza ..." terlihat ekspresi kaget diwajahnya.


"ngapain disini ?"


"kenapa ? gak boleh" aku merasa sepertinya Reyhan menyembunyikan sesuatu dan terlebih pandangannya yang saat itu berkeliaran keberbagai arah.


Aku mengikuti ke arah mana setiap pandangan Reyhan tertuju. "Rey ..." aku memanggilnya memastikan semua baik baik saja. "Ayo ikut aku ..." Reyhan langsung menarikku ke arah belakang kampusnya yang cukup sepi dari kerumunan mahasiswa.


Masih menoleh kesana kemari sampai benar benar dirasa cukup aman dan akhirnya dia bercerita setelah menghela nafas cukup dalam. "Apaan sih Rey ..." Aku bahkan begitu gak sabar mendengarkan cerita Reyhan saat itu aku terus memandangnya tanpa henti sampai tiba tiba aku sebuah kalimat tercetus dari mulutku "Amri gak selingkuh kan Rey ?" membuat mata yang masih keliaran itu langsung memandangku tajam. "Gak ... bukan bukan" dengan cepat dia menjawab. membuatku sedikit lega karena bukan itu masalahnya.


"Fei ... Maaf ya selama ini ada yang belum ku ceritain ke kamu" Reyhan bercerita dengan gelisah dan terbata bata.


"Apaan Rey ?" Sungguh aku gak sabar


"Aku takut kamu kepikiran kalo aku cerita dan malah ganggu kegiatanmu"


"Langsung aja Rey aku penasaran nih, kamu mau aku mati penasaran ?" Aku terlihat sangat gak sabar bahkan yang tadinya duduk aku langsung beranjak berdiri ke depan Reyhan yang masih duduk di kursinya.


"Fei ... Sebenarnya ... selama ini Amri ..."


"Amri kenapa ?" aku dibuatnya terkejut


"Sabar Fei aku cerita dulu ih suka banget nyela omongan orang" tiba tiba emosi Reyhan membuatnya berbicara dengan lancar seperti biasanya, gak seperti bercerita tadi.


"kenapa ketawa ?" dia bertanya bahkan dengan raut wajah kesal.

__ADS_1


"lanjutkan lanjutkan aku gak bakal nyela omonganmu lagi" kataku.


__ADS_2