
Sesampai di rumah aku segera masuk setelah Amri melajukan mobilnya dan sudah tak terlihat di ujung jalan.
"Baru pulang Fei ?" tanya Mami yang sibuk menyiapkan makan malam di dapur. Aku menyengir ke hadapan Mami.
"Kakak gak kasitau Mami ?" Bisikku ke Ka Soni yang duduk di meja dapur menemani Mami memasak.
"Sudah, Kakakmu sudah kasitau Mami Fei" sahut Mami yang ternyata mendengar bisikanku.
"Maaf ya Mi, maafin Feiza. Tapi menurut Feiza dia itu cowok baik. Gak sekalipun dia pernah buat Feiza sakit hati" kataku memelas. Membuat Mami melangkah ke arahku untuk membelai rambut panjangku dan berkata "Mami tau Amri anak baik nak, Mami dan Papi hanya mengingatkan supaya anak perempuan kami satu satunya ini gak salah jalan" jelas Mami yang sama sekali gak ku mengerti maksudnya tapi aku hanya bisa diam tanpa tau mau menjawab apa.
"sudah sana mandi dulu, BAU !!" pinta ka Soni sembari mendorong kecil bahuku hanya dengan satu jarinya saja.
Selesai mandi aku kembali ke ruang makan tanpa menunggu Papi yang ternyata lembur malam ini. "ya sudah makan duluan aja ya kita" kata Mami.
Sudah seminggu sejak ujian sekolah di mulai, Aku dan Amri sama sekali gak bertemu. Kami hanya saling melepas kangen via telpon dan pesan singkat. "Semangat ujiannya sayang" kata Amri yang selalu mengucapkannya di akhir panggilan ataupun pesan singkat yang dikirimnya.
"Tinggal besok ko ujian terakhirnya" goda Milla yang melihatku memandangi foto Amri yang kujadikan wallpaper Hp. "kayaknya kalian habis lulus nikah ajadeh" timpal Reyhan membuat Milla dan David terbahak bahak.
Di tengah tengah keasikan mereka yang sedang bercanda di pendopo pinggir lapangan sekolah tiba tiba geng julid menghampiri kami masih dengan ekspresi menantang dari raut wajahnya.
"Duh Halu yaaa ..." suara Soraya mengagetkan kami. Raut bahagia yang kami ciptakan mendadak hilang begitu saja melihat kedatangan mereka.
__ADS_1
"Apaan sih cari masalah mulu ya mak lampir" sahutku yang langsung beranjak tapi dengan cepat Nilam mendorongku hingga tersungkur ke tanah. Membuat seragamku sedikit kotor.
Milla yang gak terima dengan perlakuan Nilam langsung membalas mendorongnya, sedangkan Reyhan membantuku berdiri. "Mill udah gausah diladenin" kata Reyhan.
Aku yang baru saja berdiri tiba tiba didekati oleh Soraya dengan pelan dia berkata "Jangan harap kamu bisa benar benar mendapatkan Amri, karena aku adalah calon istri pilihan Ibunya" kata Soraya dengan sangat percaya diri.
Sontak pernyataan Soraya membuat ku, Milla dan Reyhan terbelalak. Milla langsung menarik Soraya agar menjauh dariku, "Masa bodo sama pilihan Ibunya, Amri bakal tetap memilih Feiza" bentak Milla tepat di depan wajah Soraya, membuatnya mengusap wajah karena percikan liur Milla akibat berbicara terlalu dekat dengan wajah Soraya.
"Ewh, menjijikan" sahut Soraya. "Kamu yang lebih menjijikan" sahutku yang masih menahan emosi.
Tepat disaat Soraya mendekat dengan cepatnya dia melayangkan tangannya ke pipiku hingga menciptakan gambar tangan disana. Disaat itu juga seorang guru melihat dan melerai kami sehingga hari itu kami berakhir di ruang BK.
Di ruang BK kami masih saja saling berdebat hingga guru harus menjauhkan duduk kami dan mengancam tidak meluluskan jika kami terus mengoceh.
Setelah memberi salam ke guruku, Ka Soni langsung to the point menanyakan masalah apa yang terjadi. "Maaf bu, Orang tua saya sedang sibuk, saya kakak kandung dari Feiza. Ada apa sebenarnya yang terjadi ?" tanya Ka Soni.
Guru BK pun menjelaskan bagaimana kejadian yang dilihat dengan mata kepalanya sendiri di lapangan sekolah. Setelah mendengar penjelasan Guru, Ka Soni langsung menatapku tajam membuatku menunduk dan gak berani membalas tatapannya.
"Mereka memang sudah sering bertengkar, tapi hanya beradu mulut, ini pertama kalinya mereka beradu fisik" kata Bu Guru menyambung penjelasannya membuat Ka Soni makin melototi dan tanpa membalas bicara ke Guru dia berjalan menghampiriku.
"Apa benar yang barusan kakak dengar ?" tanyanya tepat dihadapanku. "Jawab Fei !!" untuk pertama kalinya kakak membentakku membuat aku langsung mengangkat kepalaku dan menatap kaget ke arahnya.
__ADS_1
"Ini bukan salah Feiza ka, mereka yang selalu mencari masalah" kata Milla yang mencoba membelaku. Tanpa sadar air mata yang sudah ku coba bendung dari tadi akhirnya tumpah ke pipiku.
"Kalau ada yang harus disalahkan itu mereka, mereka yang dari awal mengusik kami, mereka selalu mengganggu Feiza, kakak gak tau gimana Feiza menahan semuanya selama ini, bahkan disaat dia merindukan kakak ... " Milla yang begitu peduli kepadaku tersulut emosi dan memarahi ka Soni. Gak ada yang memutus omongannya sekalipun Guru BK kami yang ikut tercengang menyaksikan kemarahan Milla. Sampai akhirnya aku mencoba bersuara "Cukup Mill, sudah cukup !!" kataku yang berlari keluar dari ruang BK.
Aku berlari sekuat tenagaku mengarah keluar gerbang sekolah. terdengar teriakan Ka Soni, Milla, Reyhan, bahkan guru BK sepanjang pelarianku tapi aku gak peduli dan terus berlari.
Sampai di tengah perjalanan aku berhasil menghentikan taxi sebelum terlihat mereka yang berusaha mengejarku. Terang saja, aju lebih pandai berlari dibanding Ka Soni.
Aku melihat argometer taxi tersebut dan mengecek uang di saku baju, sekiranya cukup aku menghentikan taxi dan segera turun di pinggir jalan.
Didalam taxi tadi aku terus menangis hingga terisak bahkan ingin sekali berteriak. "Kenapa Neng ? kabur ya ? gak baik kabur dari masalah" kata Supir taxi menasehatiku dengan ramah dan tenang sambil sesekali melirikku lewat kaca spionnya.
Tanpa menjawabnya aku hanya terus menerus terisak sampai disodorkan tissue kehadapanku. "makasih banyak pak" kataku lirih.
"Bapak juga punya anak perempuan, dia pernah minggat waktu seusia Neng gini" Pak supir melanjutkan ceritanya. Aku yang tertarik dan penasaran reflek melirik ke arahnya. "Sekarang dimana ?" tanyaku.
Sambil tersenyum dia menjawab "sudah kembali, setelah dua tahun minggat dia kembali dan Alhamdulillah mau melanjutkan sekolahnya yang sempat terputus" aku mendengarkan setiap curahan hatinya.
Terbersit penyesalan dalam diriku, aku bahkan pernah mencoba minggat sampai Papi membenci Amri dan menilai buruk tentangnya. Kalo sekarang aku kembali minggat, entah apa lagi yang terjadi.
Aku memendam setiap kali mendengar pertengkaran kedua orang tuaku. Meskipun mereka mencoba baik baik saja didepan anak anaknya, tapi sesekali ada saja kepergok olehku perkelahian mereka.
__ADS_1
Dan Amri, laki laki yang ku cintai setelah Papi dan kedua kakakku. Orang yang selalu ada dan selalu baik kepadaku meskipun terkadang menyebalkan. Tapi aku takut untuk kehilangannya. Terlebih sekarang bukan hanya Papi yang gak merestui, tapi Ibunya Amri pun gak menyukai hubunganku dengan anaknya.
"memang seusia Neng ini rentan emosionalnya, tapi di usia remaja beginilah harus belajar mengendalikan emosi" Nasihat demi nasihat dilontarkan oleh pak Supir supaya bisa membukakan jalan pikiranku.