Cinta Pertama Tanpa Restu

Cinta Pertama Tanpa Restu
Cemburu


__ADS_3

Pagi pagi sekali sudah ada yang mengetuk pintu dan membunyikan bell rumahku. Aku yang membantu Mmai menyiapkan sarapan saling pandang, Mami mengisyaratkan untuk aku yang membuka pintu. "Sana buka, mungkin Amri" bisik Mami. "Tapi Papi" kata ku ragu melirik Papi yang sudah standby di ruang makan. "Gapapa nanti bawa masuk aja kalo beneran Amri" kata Mami sembari mendorong ku pelan.


"Reyhan" kataku yang sedikit heran kenapa dia kerumahku pagi pagi gini. "Hey Fei, mau ikut sarapan nih" katanya yang makin mengejutkanku. "Siapa Fei ?" tanya Papi yang rupanya menyusulku teras. "Eh anu Pi, teman" jawabku gugup. "Masuk Nak" ajakan Papi membuatku terbelalak gak menyangka kenapa responnya sangat berbeda dengan Amri tempo hari.


"Oh Nak Reyhan, sini sarapan bareng. Tante buat nasi goreng nih" kata Mami ramah. Reyhan gak pernah sungkan sejak awal kedatangannya. Dia mendekat dan melahap sarapannya dengan lahap. Setelah itu kami pergi sekolah bersama.


"Waaahhh ada apanih" tanya Milla yang melihatku turun dari motornya Reyhan. "Apaan sih" jawabku yang langsung merangkul sahabat baikku itu. Kami bertiga pun berjalan menuju kelas.


Siapa sangka baru sampai di koridor sudah bertemu dengan geng julid. "Ulala, udah ada cadangan nih"


"Duh ngeri ya yang keliatan polos"


"Diam diam menghanyutkan"


Mereka bergantian mengoceh dan membuatku menghentikan langkah.


"Apasih maksud kalian ?" tanyaku yang mulai tersulut emosi. Untung saja Milla segera menarik tanganku dan kami meninggalkan mereka. "Hati hati Rey, yang keliatan polos belum tentu beneran baik" teriak mereka hampir serempak. ingin rasanya aku berbalik dan menjambak rambut mereka, "Udahlah Fei sabar" bisik Milla berusaha meredakan emosiku.


Gak tau Apa yang sudah Reyhan fikirkan tentangku, dari awal dia masuk aku terus saja terlihat buruk. Ah sudahlah, biarkan saja.


Beberapa minggu berlalu, sudah hampir dua bulan sejak Reyhan menjadi murid di sekolah. Kami bertiga semakin dekat dan sering kemana mana bersama. Sampai suatu hari saat pulang sekolah aku yang di bonceng Reyhan gak sengaja aku melihat Amri di depan gerbang. "Stop stop stop ..." kataku menepuk nepuk pundak Reyhan. Kulepaskan helm dan langsung ku berikan ke Reyhan sebelum aku berlari menuju mobil Amri di seberang jalan.


"Heyy ..." sapa ku sambil tersenyum setelah mengetuk jendela mobilnya. "Masuk" katanya sedikit ketus yang langsung menghilangkan senyumku. "Rey, aku gak nebeng ya" kata ku berpamitan dengan Reyhan yang ternyata masih menungguku di seberang jalan. Ku lambaikan tanganku sebelum masuk ke mobil Amri.


"Loh kita kemana ?" tanyaku setelah menyadari jalan yang Amri ambil bukanlah ke arah rumahku. Setelah gak menjawabku agak lama akhirnya dia menepikan mobilnya. Wajah yang sedari tadi terlihat kesal berubah menjadi manyun setelah dia menghela nafas dalam dalam, membuatku tertawa geli. "apaan sih" kataku dengan nada manja yang kemudian mencubit lengannya.


"Fei, kamu tau kan perasaanku ke kamu gimana" kata Amri dengan menghadapkan wajah seriusnya ke arahku. Aku mulai salah tingkah mendengar pernyataan Amri. "kenapa lagi" tanyaku pelan. Seperti ingin mengatakan sesuatu tapi terasa berat, Amri merasa gelisah sekali, tiba tiba terbersit satu nama dalam benakku "Reyhan ?" kataku yang langsung membuatnya menatapku tajam.

__ADS_1


Reflek aku tertawa geli yang kemudian terus menggodanya "ciee cemburu cieee" kataku yang masih belum puas tertawa. "Feii ... aku serius" katanya menghentikan tawaku. "Maaf, tapi aku gak ada apa apa sama Reyhan" kataku meyakinkannya. "Dia tau hubungan kita ?" tanya Amri membuatku menggeleng pelan.


"Emang hubungan kita apa ?" bisikku yang masih saja mencoba menggodanya. Dia terdiam dan kemudian bersiap untuk kembali mengemudikan mobilnya, tapi aku menahan tangannya sebelum dia menarik persneling mobilnya. "Aku ..." suaraku seakan hilang saat dia menatapku dengan penuh harap.


Amri menarik kembali tangan yang baru ku lepas dan menaruh tanganku di dadanya. "Aku tutup mata nih, mau bilang apa ?" tanya nya sambil bersandar dan menutup matanya. Cukup lama sampai aku katakan "Aku ... aku cin ..." tiba tiba Amri membuka matanya karena Hp nya berdering. "Maaf ya Fei" katanya sembari mengecek Hp dan kemudian mematikannya. "Aku tutup mata lagi ya" katanya tapi aku menarik paksa kembali tanganku yang masih digenggamnya.


"Kamu marah ya Fei ?" tanyanya melirikku yang tertunduk. "Aku cinta kamu Ri" kataku membuatnya senang dan mengekspresikannya dengan menarik kedua pipiku dengan tangannya agar menghadap ke arahnya. "Fei" katanya saat aku masih belum bisa memandangnya.


"Kamu terpaksa ?" tanyanya, tapi langsung ku geleng kan kepalaku.


"Aku takut Ri ... aku takut sakit hati" kataku lirih.


"Kamu bicara apa Fei?" tanya Amri kebingungan.


"Kamu itu populer, banyak yang suka, sedangkan aku ..." aku menghentikan ucapanku.


"Kita kemana ?" tanyaku, tapi dia hanya diam dan terus menyetir, ku pandangi jalan yang sepertinya akan ke arah rumahnya. Lalu akupun duduk diam dan terus menatap wajahnya yang sama sekali gak menoleh ke arahku.


Sesampai dirumahnya dia mengajakku turun, tidak menungguku dia langsung turun duluan dan masuk ke rumahnya. Perlahan aku mengikutinya dari belakang, langkahku terhenti diruang tamu ketika hampir menabrak Amri yang juga menghentikan langkahnya.


Amri memandangi orang orang diruangan itu, ada Ayahnya duduk disana dan beberapa orang sebaya Ayahnya. Yang membuatku lebih terkejut adalah, Soraya yang juga duduk di sofa ruang tamu Amri. Soraya adalah salah satu member geng julid.


Setelah puas, Amri menarik tanganku menyusuri anak tangga menuju balkon rumahnya. ku dengar teriakan pelan Ayah Amri memanggil tapi Amri gak menghiraukan sama sekali dan terus berjalan.


"Siapa mereka ?"


"Apa hubunganmu sama Soraya"

__ADS_1


"Kamu gak lagi ... "


aku terus mengajukan pertanyaan namun akhirnya terputus karena Anri menutup mulutku.


"Sstttt ... Bawel banget sih pacarku" katanya membuatku melotot.


"Hah ? sejak kapan ? tanyaku


"Sejak pertama kali kita ketemu" bisiknya dengan senyum menggoda, membuat pipi ku merah merona.


"Amriiii ... bilang dong kenapa Soraya disini" tanyaku manja dan membuatnya tertawa puas melihatku cemburu.


"Cie ciee cieee ... Cemburu ya" goda Amri sembari menggelitiki pinggangku.


"Berenti Ri ... Amriii ... " pintaku memelas.


"Aku gada hubungan apa apa, baru ini aku liat mereka" jawab Amri memandang tulus dan aku merasa dia berkata jujur padaku. Aku tersenyum puas mendengar jawabannya.


Kami saling menatap tapi "Amri ... " Tiba tiba seorang ibu ibu memanggil dan berjalan ke arah kami yang duduk lesehan di balkon rumah Amri. Kami menoleh serempak ke arah ibu ibu di belakang kami. "Ibu" kata Amri.


"Bu, kenalin ini Feiza, pacar Amri" kata Amri beranjak dari duduknya dan akupun menyusul berdiri disampingnya menjulurkan tanganku ke hadapan Ibunya Amri, tapi tidak disambut baik. Ibunya terus memandangiku dari ujung kepala sampai kaki, pandangan ini sama seperti Papi memandang Amri saat pertama kali mereka bertemu.


"Ibu apa apaan sih" kata Amri yang menyadari Ibunya tidak meresponku dengan baik. Bukannya menjawab tapi Ibunya malah menarik tangan Amri supaya lebih berjarak denganku. "Sepertinya di ujung jalan sana ada ojek, kamu bisa pulang sekarang" kata Ibunya mengarahkan pandangannya kepadaku.


Aku terdiam sesaat mendengarnya, lalu mengambil tasku di lantai balkon itu. Tapi kemudian Amri menahan tanganku, "kalo ada yang harus pergi dari sini, itu adalah Ibu" kata Amri. Aku menarik tanganku dari genggamannya dan berlalu meninggalkannya "Aku pergi" kataku sebelum melangkahkan kaki dan kemudian disusul Amri yang mengejarku menuruni tangga rumah Amri. "Amriiii ... " teriak Ibunya dengan penuh amarah. Amri terus mencoba meraih tanganku tapi selalu ku tepis, kejadian itu dilihat oleh seluruh orang di ruang tamunya.


Aku berdebat dengan Amri di depan pagar rumahnya sampai akhirnya Reyhan datang menjemputku, selama menuruni tangga ku sempatkan untung chatt dan shareloc ke Reyhan. Amri menatap ku penuh tanya, tanpa mengatakan apapun aku naik ke motor Reyhan dan meninggalkan Amri tanpa menghiraukannya.

__ADS_1


__ADS_2