
Satu tahun berlalu, aku benar benar putus komunikasi dengan Amri. Bahkan aku gak bisa mendapatkan kabar meski dari Reyhan dan David. Hari ini, aku melakukan sidang akhir di kampus, ditemani dan di awasi ka Marwah.
"Ingat Fei ... fokus sama sidang hari ini. Kakak tau kamu masih kepikiran Amri. Tapi kakak gak mau kamu menghancurkan masa depanmu hanya karena masalah ini" kalimat itu terucap disaat aku menunggu antrian untuk masuk ke ruang sidang.
Hampir satu jam aku melaksanakan hingga akhirnya aku mampu keluar dari ruangan itu dengan wajah sumringah meski lututku rasanya sangat lemas. "Gapapa Fei ?" tanya Ka Marwah yang dengan gesit menopangku yang hampir saja terjatuh di depan ruang sidang. "Gapapa ka, Feiza cuma lega aja udah selesai sidangnya" jawabku.
Ka Marwah memberiku bucket bunga yang besar sebagai bentuk ucapan selamat "Waaahhh besar sekaliii" kataku sembari melunturkan senyum karena itu adalah bucket bunga yang sering Amri kasi ke Aku.
"Congratulotion sayangku akhirnya sudah dapat gelar sarjana. Ingat satu hal ya, aku bakal terus perjuangkan kamu. Aku bakal berusaha cari tau kebenarannya. I ♡ U Fei ... ▪Amri▪"
Seketika senyumku kembali sumringah setelah Ka Marwah memintaku membaca postcard yang terselip di tengah bucket bunga itu. "Kakaaaakk" aku memanggil ka Marwah dengan nada manjaku. membuatnya menyunggingkan senyumnya untukku.
"Ssttt ... nanti ada yang tau. Kakak sudah janji kan mau bantu kamu" katanya dengan sangat pelan. Membuatku langsung mengeratkan pelukanku.
"Di dalam sana" ka Marwah menunjuk satu ruangan, sejenak aku berfikir apa yang ka Marwah maksud. Tapi lirikan dan senyuman Ka Marwah seperti memberikan jawaban yang ku harapkan. "Ingat ya, kakak cuma kasi waktu setengah jam. Habis itu kita pulang" sebelum masuk ke ruangan yang dimaksud Ka Marwah kembali mengingatkanku. Aku mengangguk kegirangan.
"Surpriseeeee" Ada Amri, Reyhan, David, dan Milla disana. Juga Mira, Susan, dan Linda yang sudah menungguku.
Aku kembali memeluk kak Marwah setelah aku memeluk bergantian teman temanku.
"Kangen banget sama si manjaku ini" Kata Milla memeluk erat dan menggoyang goyangkan badanku dipelukannya.
"Duh mbaa ... kita yang satu kampus aja susah banget ketemu dia" sahut Linda yang dibenarkan oleh Mira dan Susan.
__ADS_1
"Feizaaaa ..." Reyhan dan David berebut untuk saling mendahului memelukku dan menciptakan gelak tawa di antara kami. Akhirnya Amri menarikku dan mendekapku dalam pelukannya yang pastinya langsung ku balas dengan mengeratkan pelukanku yang sudah menyimpan rindu dalam setahun belakangan ini.
Setelah puas memeluk pacar bucinku, aku melangkah keantara David dan Reyhan untuk bisa memeluk mereka secara bersamaan. Sebelum akhirnya kembali memeluk kakak iparku yang masih belum selesai tersenyum bahagia.
Kami melakukan sesi foto dan berbincang sebentar sampai akhirnya ka Marwah mengingatkanku kalo kita sudah menghabiskan setengah jam dan harus pulang. "Bentar lagi ya ka" pintaku.
"Pulang lah, nanti malah jadi rumit" bujuk Amri.
"Baiklah ... guys aju balik dulu ya"
"Ok Fei ... bye ... hati hati ya ... see you" mereka bergantian mengucapkan sampai jumpa kepadaku.
...
...
...
Aku bergegas ke kamar untuk mandi dan bersiap karena hari ini Papi dan kedua kakak ku akan pulang cepat dan makan malam dirumah. Setelah selesai bersiap siap aku menunggu diruang tengah seraya mengobrol dengan Mami, Nenek, Ka Marwah, dan si cantik Maura.
"Sudah jam 6, mereka pulang jam berapa ?" tanyaku setelah melihat jam di dinding rumah. "macet kali" kata Nenek. "barengan gini telatnya" keluhku lagi.
"Ya ampun doyan banget ngeluh nih anak" ternyata Ka Soni sudah berdiri di ambang pintu tanpa kami ketahui. Dia langsung menghampiriku dengan membawa paperbag berisikan kado sebagai bentuk ucapan selamat kepadaku. "waaahh makasih banyak kakakku sayang" aku membalas pelukannya yang bahkan tercium bau asem akibat keringat berlebihnya. membuatku mendorongnya supaya menjauh dariku. "Jahat banget sih ... Mamiii" Ka Soni mencari pembelaan ke Mami, sama hal nya denganku, Mami menolak untuk didekati oleh ka Soni. berbeda dengan Nenek yang membuka lebar kedua tangannya dan langsung di samperin oleh ka Soni "Nenek memang yang terbaik" padahal dibaliknya Nenek menutup hidung seraya meledek cucu nya itu. Kami tak henti menertawakannya. "Ah nenek sama aja" Ka Soni beranjak dan masuk ke kamarnya untuk mandi.
__ADS_1
Gak begitu lama, bahkan disaat kami belum selesai menertawakan ka soni, Papi datang berbarengan dengan Ka Malik. "Datengnya barengan Papi sayang ?" tanya Ka Marwah, Maura langsung berlari ke arah papanya dengan sangat lincah. "Ketemu didepan tadi" jawab ka Malik.
"Ya sudah kalian mandi sana, keburu dingin makanannya nanti" kata Mami. Ka Marwah langsung mengambil alih Maura dan mereka bergegas ke kamar.
Setelah melaksanakan Sholat Magrib bersama di lantai atas, kami turun ke ruang makan untuk makan malam bersama. "Papi gak kasi Feiza kado ? Lihat ka Soni aja kasi" kataku sembari menunjuk paperbag yang dibawa ka Soni tadi.
"bangga sekali dikasi barang yang bahkan kamu belum tau isinya" Papi mulai meledekku, mengingat sering sekali ka Soni mengusiliku. Mendengarnya, aku langsung beranjak dan membuka isi kado dari ka soni.
Seketika kupandangi semua orang sedang menahan tawanya di ruang makan. sedangkan Maura sibuk mengunyah makanannya karena tidak mengerti apa yang terjadi saat itu.
"Tuh Pi ... Handphone baruuuu" dengan semangat aku mengangkat angkat kotak Hp yang masih tersegel rapi. Menghampiri kakakku dan memelukinya.
"Ayok buka" kata Ka Soni dan dengan semangat aku membukanya.
"Congratulotion Feiza Nur Azizah .S.E" terdapat namaku diatas kertas karton yang di print didalam kotak Hp yang tersegel itu. Membuat senyumku memudar, "Gak lucu !! sampai kapan kalian mempermainkanku" Aku merasa sangat kesal bahkan ketika melihat mereka menahan ketawanya dari tadi.
Seketika wajah mereka panik dan kaget dengan reaksiku. Lalu aku terbahak melihat ekspresi mereka. "Feizaaa ..." hamoir serentak mereka menyorakiku. "Emangnya cuma kalian aja yang bisa ngerjain aku" aku menjulurkan lidahku di depan mereka dan kemudian kembali ke kursiku kembali.
Setelah makan malam aku membantu Mami membereskan meja makan lalu kami bercengkrama diruang tengah. "Sudah lama aku gak berada diantara mereka seperti ini" gumamku dalam hati. karena selama ini aku lebih banyak menyendiri dikamar dengan alasan sibuk mengerjakan skripsi ku atau males untuk keluar kamar.
Aku merebahkan kepalaku dibahu Ka Soni yang kala itu duduk disampingku. Tiba tiba Ka Soni merogoh saku celananya dan menyodorkan sesuatu kepadaku. "Apa ini ka ?" mataku membulat melihatnya menyodorkan Handphone baru kepadaku. "Isi kotak yang tadi" katanya membuatku sumringah.
"Ini bukan prank kan ?" tanyaku. Ka Soni menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Papi ... Feiza dapet kado" dengan bangga ku katakan kepada Papi.
"Nih Papi kasi kado juga" Papi menyodorkan paperbag bekas kado Ka Soni tadi. "Papi bohong ya" aku tetap mengambil paperbag itu. betapa tergelitiknya aku melihat carger Hp didalamnya. "Jangan bilang ka Malik bakal kasi aku kado earphone" aku melirik kakak sulungku yang kemudian menjuntaikan kabel earphone ditangannya. membuat seisi ruangan ikut tergelitik akibat tingkah konyol mereka.