
Ketika aku sudah sadarkan diri, aku mencoba melihat sekelilingku. Rupanya aku sudah ada di ruangan inap rumah sakit lengkap dengan infus ditanganku. "Mami" panggilku ketika melihat Mami duduk disampingku dengan mata sembabnya. "Feiza" ku dengar mereka memanggilku bergantian. Ada ka Malik dan ka Marwah juga di ruangan itu. Aku melirik ke Papi yang berada disamping Mami lalu membuang tatapanku ke arah lain.
"Liat Papi Fei" kata Papi membuatku degdegan. Aku tau apa yang akan Papi bahas, pasti karena Amri yang ternyata camping bersamaku. "sudah Pi nanti saja" kata Mami menepis omongan Papi. Gak banyak bicara karena masih merasa pusing membuatku ingin tidur lagi. Seketika dokter yang datang mencoba membangunkanku dan menanyai ku beberapa pertanyaan lalu mengajak kedua orang tuaku keluar ruangan.
"Ka Soni, Ka ..." bisikku perlahan sambil sesekali melirik ke arah pintu keluar. Ka Soni menghampiriku, seakan tau pertanyaan apa yang mau ku todongkan ke dia, "Amri tadi ikut ngantar kamu, tapi Papi mengusirnya" katanya saat mendekat denganku. Aku yang kesal langsung ingin mendudukan diriku tapi kemudian kedua kakakku dengan gesit membantuku duduk.
"Feiza heran kenapasih Papi gak suka sama Amri, padahal kan dia baik, kakak liat sendiri kan gimana Amri" kataku menoleh ke arah ka Soni dan dia mengangguk.
Ka Malik menghela nafasnya lalu bertanya "kamu kenapa sih Fei bisa kayak gini" tanyanya seakan mengalihkan fikiranku tentang Papi dan Amri. "gak tau kak, tiba tiba" jawabku pelan. Karena aku memang tidak punya riwayat penyakit apapun selama ini.
Setelah lima hari dirawat di rumah sakit akhirnya aku bisa juga pulang ke rumah. Selama hidup, baru ini aku pingsan dan masuk rumah sakit sampai di rawat inap segala. Ka Malik yang hanya menjengukku dihari pertama sadar kini kembali menjengukku di rumah. "gimana Fei udah baikan ?" tanya ka Marwah mengejutkanku yang duduk melamun bersandar di atas tempat tidurku. Aku membalasnya dengan anggukan dan senyuman.
Dia menemaniku, gak lupa dia menanyai perkembangan hubunganku dengan Amri. Rupanya aku lupa menceritakan bahwa aku dan Amri sudah resmi berpacaran. "tapi Papi gak suka sama Amri" keluhku pilu. Lalu ka Marwah mengusap lembut rambut depanku ke belakang. "nanti juga luluh, sabar ya" pintanya.
"Feiza sih sabar, tapi Feiza takut Amri yang gak tahan dengan perlakuan Papi yang terlalu frontal membenci Amri" kataku sambil membendung air mata yang hampir jatuh, dan akhirnya aku merengek bersamaan dengan ka Malik yang datang masuk kekamarku.
Ka Malik panik dan kaget melihatku terisak dipelukan istrinya, "kenapa Fei ? sakit ? apanya yang sakit?" tanyanya penuh kekhawatiran.
"Ssttt ..." ka Marwah mengisyaratkan suaminya untuk diam dan gak banyak tanya dulu. Sambil yerus mengusap punggungku selama ku memuaskan tangisku.
__ADS_1
"Sudah Fei jangan nangis terus" kata ka Malik. "kenapa dia ?" Ka Malik bertanya ke Istrinya, dengan sangat detail ka Marwah menceritakan ke suaminya tentang perasaan adik perempuannya ini. "Papi" hanya itu suara yang terucap oleh ka Malik. Lalu dia ikut mengusap kepalaku beberapa kali sampai akhirnya Ka Malik pergi keluar dari kamarku.
Keesokan paginya dengan lengkap kulihat keluargaku ngumpul di ruang makan. "duduk sini Fei" kata ka Marwah menepuk kursi disebelahnya yang kemudian kududuki. Sungguh suasana pagi itu sangatlah hening, gak ada suara apapun kecuali gesekan sendok garfu dengan piring makan kami.
Seusai sarapan kami bubar mengerjakan kesibukan masing masing.
Ayah duduk di ruang tengah membaca koran paginya dan terlihat sesekali mengobrol dengan putra sulungnya uang sibuk dengan Hp nya. Ka Marwah membantu Mami membersihkan dan merapikan isi meja makan tadi sedangkan Ka Soni kembali ke kamarnya.
Aku yang ingin membantu Mami dan Ka Marwah tiba tiba dipanggil Papi dan diminta untuk duduk disampingnya. segera Papi melipat korannya. Sesekali ku pandangi kak Malik yang ternyata mencuri pandang kearahku dan sesekali ke Papi. Melihat kakak aku jadi tau apa yang akan Papi katakan.
Benar saja apa yang ada difikiranku, rupanya sejak aku sadar dari pingsan, Papi sudah mau memberitahuku tapi selalu tertahan oleh Mami. "Ada apa
Sangat jelas Papi berulang kali menghela nafas panjangnya lalu kembali terdiam sejenak sampai akhirnya dia membuka suara. "Papi sudah bilang berapa kali tapi kamu tetap gak mau dengar apa kata Papi" katanya masih dengan nada rendah. "Papi bicara apa ?" tanyaku memastikan.
Lagi lagi Papiku menghela nafas dalam dalam dan kembali menasehatiku.
"Nak, Papi mohon. Kamu itu masih sekolah gausah lah pacar pacaran. Papi gak mau pelajaranmu terganggu" kata Papi dengan sangat lembut. "Memamgnya dari dulu kamu terganggu denganku ? bentak Mami ke arah Papi membuat Papi gak bergeming memandamg Mami yang terlihat sangat kesal.
Yang benar saja alasan Papi menjauhkanku sungguh gak masuk akal karena menurut cerita yang pernah mereka ceritakan bahwa mereka sudah berpacaran sejak SMP.
__ADS_1
"'ceritakan saja alasanmu gak suka sama Amri sekalian biar lebih mudah mereka mengertimu" Desak mami yang terlihat sangat kesal dengan sikap suaminya.
Sepertinya mereka merahasiakan sesuatu dariku tapi aku terlalu takut untuk menanyakannya. Sejak aku pingsan bahkan gak sama sekali aku melihat Amri atau sekedar mengetahui kabarnya. Milla juga belum menjengukku yang jelas jelas dia tau aku sedang sakit.
Segera aku beranjak dari dudukku dan berdiri tegap memandang tajam ke arah mereka bergantian. "Feiza gak ngerti dan gak paham kenapa Papi sangat menentang Amri, Feiza juga sadar kalian menyembunyikan sesuatu" kataku sedikit tertatih. "Feiza tau Papi sama Mami masih suka bertengkar meskipun bukan di depan Feiza" lanjutku yang mulai mengalirkan air mata hingga membanjiri pipiku yang masih saja tembem. Mami berjalan menghampiriku tapi aku menolaknya, begitu pulan dengan ka Malik dan Istrinya "Gausah dekatin Feiza" kataku seraya sedikit berlari masuk ke kamarku.
Gak begitu lama aku menangis dikamar, Hp ku berdering tapi aku gak tau meletakan Hp ku dimana, ku cari dan ku pasang baik baik pendengaranku mencari darimana dering itu berasal.
Belum menemukan Hp ku tiba tiba Papi mengagetkanku dengan membuka pintu kamarku. Papi duduk di tepi kasur dan memintaku duduk disampingnya. Begitu lama terdiam seakan menyiapkan tenaga untuk membicarakan sesuatu sampai akhirnya Papi memberanikam diri untuk mengeluarkan suaranya.
"Papi gak pernah melarangmu dekat dengan siapapun, selama ini juga Papi hanya tau kamu dekat dengan Milla. Papi hanya takut kamu dipermainkan Nak, karena kamu baru mengenal cowo iti dan belum lama" kata Papi dengan sangat lembut.
"Feiza memang baru mengenal Amri Pi, tapi sampai sekarang gak ada satu keburukan pun darinya yang membuat Feiza menyesal untuk memacarinya" jawabku agak takut ke Papi.
"Lihatlah Nak, bahkan dia gak jenguk kamu" hasut Papi.
"Bukankan Papi mengusirnya di rumah sakit ? gimana dia bisa datang ke rumah ini ?" kataku ketus.
"sopanlah nak" kata Papi yang langsung ku iyakan.
__ADS_1
"Papi hanya ingin yang terbaik untukmu" jelasnya yang kemudian berpaling pergi meninggalkanku didalam kamar.