Cinta Pertama Tanpa Restu

Cinta Pertama Tanpa Restu
Minggat


__ADS_3

Aku melihat Amri yang melajukan motornya dari teras rumahku. Setelah dia sudah gak keliatan lagi, aku melepas senyum sumringahku melihat tentengan plastik minimarket yang akhirnya ku terima ditanganku. Aku mengetuk pintu beberapa kali tapi tidak ada jawaban dari dalam rumah, rupanya aku lupa membawa kunci rumah tadi. Alhasil aku menelusur ke samping rumah dan akan masuk lewat pintu samping dekat dapur.


Baru akan sampai di pintu, sudah terdengar lagi pertengkaran kedua orang tuaku. Rasa senangku hari ini tiba tiba berubah drastis menjadi marah dan kesal. Bahkan mereka tidak menyadari kedatanganku saat aku melintas menuju ke kamarku dilantai atas.


Saat masuk kamar aku melempar tas selempang kecil yang ku pakai tadi bersamaan dengan plastik minimarket yang penuh jajanku. Lalu aku terduduk dilantai bersandar dipinggiran tempat tidurku dan menangis sejadi jadinya. Berusaha masih menahan suara tangisku agar kedua orang tuaku gak dengar.


Rupanya aku terlalu jengkel sehingga akhirnya aku berteriak sangat keras dan melempari semua barang di sekitarku. Mereka yang mungkin kaget dan sadar aku sudah pulang melihat pertengkaran mereka bergegas kekamarku dan menggedor gedornya.


"Fei, Feizaaaa ..." panggil Mami sambil terus mengetuk pintu dan memainkan gagang pintu kamarku yang ku kunci sejak datang tadi. "Feiza ... buka sayang" sahut Papi menimpali. mereka bergantian memanggil manggil namaku dan memohon untuk aku membukakan pintu untuk mereka. Tapi tidak sepatah kata pun ku katakan kepada mereka, aku terus saja menangis sejadi jadinya.


Aku terbangun karena sinar matahari pagi yang masuk lewat pintu balkon kamarku yang sudah terbuka. Baru saja ku fikirkan siapa yang membuka pintu balkonku dan kenapa aku terbangun ditempat tidur, karena seingatku semalam aku terisak di lantai.


"Krekk ..." pintu kamarku terbuka dan Mami masuk dengan baki berisi sarapan untukku. "gausah sekolah dulu ya Fei hari ini" kata Mami sembari duduk di tepi kasur. Bukannya menjawab aku beranjak dari kasur mengambil handuk di hanger dan melangkah ke kamar mandi.


Aku mandi cukup lama dengan harapan Mami segera keluar dari kamarku setelah aku selesai mandi, tapi ternyata dugaanku salah, Mami masih menungguku dengan bersender di pintu balkon. "Fei, maaf ... Sepertinya kita harus bicara" kata Mami dengan nada serius.


"Aku mau pake mobil, Sekarang" kataku gak menghiraukan Mami yang langsung menghela nafas dan mengangguk. "tapi habiskan dulu sarapanmu" kata Mami sebelum keluar kamarku.


Sudah 3 hari ini aku tak bicara apapun dan tidak bertemu siapapun termasuk Amri dan Milla yang juga ku cuekin. Aku yang baru saja selesai mandi terkejut dengan kedatangan Milla yang tanpa kabar dan dia sudah duduk manis di atas tempat tidurku. "Ceritakan apapun, kenapa harus kamu pendam, kapan dapat jalan keluarnya" desak Milla yang sedari tadi menyuruhku duduk disampingnya tapi aku masih memaku di depan pintu kamar mandi.

__ADS_1


"sudah berapa lama kita sahabatan"


"apa aku gak cukup dipercaya untuk jadi tempat berbagi"


"kamu anggap aku apa"


"aku gamau liat kamu gini Fei"


Milla terus mendesakku untuk menceritakan sesuatu. Aama sepertinya yang ingin tau masalahku, akupun ingin berbagi cerita ke dia. Tapi terlalu berat bagiku untuk menceritakan hal hal yang gak ku inginkan.


Kulangkahkan kaki ku perlahan ke arahnya dan langsung ku peluk erat sahabat baikku itu. Aku menangis sejadi jadinya. Dan ku ceritakan sedetail mungkin perkelahian kedua orang tuaku.


"Rasanya aku ingin terus menghindar, aku gak mau menghadapi masalah ini" kata ku sambil terus terisak. Milla kembali memeluk dan mengusap lembut punggungku.


"Fei, apa mereka gak bicara apapun ke kamu ? Toh kamu mendengar gak terlalu jelas dan gak paham apa yang mereka perdebatkan ya kan. Sebaiknya kamu tanya dulu ke mereka" Kata Milla menyarankanku.


"Mami sudah pernah mengajakku bicara, tapi aku takut" jawabku.


"apa yang kamu takutkan ?" tanyanya lagi. Aku langsung tertunduk dan menutup wajah dengan kedua tanganku "Aku takut menerima kenyataan dengan cerita yang akan disampaikan Mami nanti tentang masalah mereka" jawabku dengan air mata yang makin berlinang.

__ADS_1


"Fei, kita sudah besar, kita harusnya mengerti keadaan orang tua dan orang orang didekay kita, please jangan egois" kata Milla yang terus menasehatiku.


Aku tau aku memang egois untuk hal ini, aku masih kekanak kanakan, aku terlalu takut untuk menghadapi kenyataan padahal aku belum tau pasti apa masalah diantara kedua orang tuaku.


Malam ini akhirnya aku mengemas barangku seminim mungkin dan berencana untuk meninggalkan rumah. dengan ransel yang sangat penuh berisi pakaian pakaian dan tas selempang dengan perlengkapan yang lainnya. Setelah kupastikan Mami sudah masuk kekamarnya, aku langsung bergegas keluar rumah dengan mengendap ngendap lewat pintu belakang.


Terfikir untuk ke rumah Milla tapi dia pasti akan memintaku segera pulang meski mengijinkanku menginap dirumahnya, ke tempat nenek pun pasti disusul orang tuaku nanti. Kemana lagi tujuanku.


Aku terhenti di satu taman besar dikotaku, disana aku sering menghabiskan weekend bersama kedua orang tuaku bagai anak tunggal karena kami lebih sering pergi bertiga dibanding dengan kedua kakak ku. Disana aku makin putus asa dan menangis mengingat indahnya kehidupan sebelum pertengkaran Orang tuaku.


Aku terjaga sampai pagi lalu melanjutkan langkahku. Aku fikir mungkin aku harus keluar kota supaya tidak satupun yang bisa menemukanku. Segera ku pesan tiket dengan aplikasi di Hp android ku, aku memilih kota di pulau yang berbeda supaya lebih jauh. masih ada waktu sampai penerbangan siang nanti.


Masih ada waktu sampai penerbangan siang nanti, aku memesan taxi ke bandara dan bergegas ke toiletnya untuk numpang mandi. "Mau gimana lagi, masa iya gak mandi" gumam ku melihat ruang kecil yang hanya cukup untuk buang air itu sambil menghela nafas.


Setelah merasa lebih segar aku ke salah satu cafe didalam bandara itu untuk menunggu waktu penerbanganku dengan hanya ditemani segelas coklat panas. Aku sudah pernah pergi pagi pagi buta tanpa sarapan dan langsung ke sekolah, jadi ku pikir Mami gak akan menyadari kalo kali ini aku minggat, paling tidak sampai sore nanti. Lagipula aku gak banyak membawa barang barangku.


"mata mu sembab nak" kata seorang ibu ibu menghampiriku dengan tiba tiba dan mengagetkanku. Aku sudah memakai kacamata tapi tetap saja dilihatnya. "gapapa bu saya sakit mata" jawabku. lalu ibu itu duduk di kursi depanku menatap tajam ke arahku dan tersenyum. "ibu sudah tua, tau bedanya sakit mata dan habis nangis" katanya lagi, aku hanya tertunduk. "kalo ada masalah diselesaikan baik baik nak, jangan sampai menyesal dikemudian hari" kata ibu itu menasehati.


Aku terus saja diam dan sesekali melirik ke arah ibu tadi. Banyak hal diceritakannya padaku, tentang hidupnya yang penuh penyesalan karena pernah kabur dari rumah bahkan berfikir untuk bunuh diri.

__ADS_1


Memang benar aku tersentuh dan jadi ragu untuk meninggalkan rumah, terutama Mami. Satu satunya orang yang hampir setiap saat selalu bersama, hanya disaat kegiatan sekolah saja aku gak bertemu Mami. Tapi karena masalah yang sama sekali aku gak ngerti, aku malah berfikir untuk meninggalkan orang orang yang kusayangi dan juga menyayangiku, pastinya mereka khawatir kalo aku pergi begitu saja.


__ADS_2