Cinta Pertama Tanpa Restu

Cinta Pertama Tanpa Restu
Ngampus


__ADS_3

Ospek sudah kujalani selama tiga hari di kampus yang kupilih sendiri. Selama tiga hari ini aku mendapatkan beberapa teman baru. Mira, Linda, Susan adalah yang paling dekat denganku selama Ospek. Kami juga satu kelas di perkuliahan.


Dihari pertama Ospek sungguh aku terlihat sangat bingung. Canggung bagiku untuk berkomunikasi dengan orang baru. Terlebih akhir akhir ini banyak sekali masalahku yang bahkan membuatku makin jarang ketemu Amri. kalaupun ketemu, kebanyakan di moment moment badmood ku sehingga bisa saja aku melampiaskan kekesalanku padanya sampai berujung pertengkaran kecil diantara kami. wajar saja, dia sudah cukup sabar selama ini. aku malah memanjakan sikap childish ku. "bahkan ketika aku menyisihkan waktu hanya untuk menemuimu, kamu malah terus marah tanpa sebab" kata Amri penuh kekesalan.


Mira dan Linda teman sejak SMA, mereka satu sekolah dengan Amri. Sedangkan Susan usianya lebih tua dari kami dua tahun karena gak langsung melanjutkan kuliah setelah lulus sekolah melainkan bekerja terlebih dahulu. "Ya kalo gak kerja mana bisa aku kuliah" kata Susan yang ternyata berasal dari keluarga kurang mampu dan memiliki banyak saudara.


Mira dan Linda pun bukan dari keluarga kaya. kedua orang tua Mira adalah PNS, sedangkan Orang tua Linda memiliki rumah makan padang yang cukup terkenal dikota kami. "Aku bukan orang padang, hanya saja Ibu ku sangat suka makan nasi padang, waktu pedekate Bapak suka bawa Ibu makan di warung padang. Eh pas udah nikah malah buka warung padang sendiri" kata Linda yang bercerita dengan sangat semangat disela istirahat kami.


Rupanya aku belum benar benar terbebas dari biang masalah, entah ini kebetulan atau memang disengaja bahwa Soraya dan Ulfa satu kampus denganku meskipun kami berbeda jurusan.


Disaat hari pertama perkuliahan aku bertemu dan hampir menabraknya di lorong kelas. "Duh punya mata gak sih" bentaknya yang membuat semua mata memandangiku. "Maaf maaf" kataku tanpa melihat wajah siapa yang ku tabrak. "Feiza ..." tiba tiba panggilan itu membuatku menengadahkan kepala yang masih tertunduk mengambil beberapa buku yang terjatuh dan membersihkannya. "Soraya ... Ulfa ..."


"Oh ada perebut calon suami orang disini" belum puas mempermalukanku, lagi lagi dengan lantangnya Soraya berucap seperti itu.


Seseorang menarikku dari arah belakang dan membuatku mengikuti langkahnya. Dia adalah Susan, teman baruku. "Ada masalah apasih sama mereka ? kayaknya mereka gak suka banget sama kamu" Ternyata Susan juga penasaran dengan apa yang baru saja dilihatnya. "Gapapa, bukan apa apa" jawabku dengan menarik ujung bibirku membentuk senyuman agar Susan percaya dengan jawabanku.


"Heyyyy ..." Mira dan Linda sudah sampai duluan didalam kelas dan mereka langsung menyapaku begitu melihatku di ambang pintu kelas. "kalian datang barengan ?" tanya Mira. membuatku menggelengkan kepala dengan perlahan. "ketemu didepan tadi" kata Susan memperjelas jawaban atas pertanyaan yamg dilontarkan kepada kami.


Rasanya malas sekali keluar kelas, karena setiap kali aku keluar kelas pasti hampir setiap saat bertemu dengan Soraya dan Ulfa yang bahkan mereka sengaja datang ke kelasku hanya untuk mengusili hingga mengumpat kasar padaku.


"Apasih maunya mereka kenapa selalu kasar padamu ? tanya Susan yang memang sudah merasa ada yang gak beres denganku.


"Ceritakan saja supaya kita bisa bantu masalahmu Fei" kata Linda dan di anggukan oleh Mira. Membuatku menghela nafas yang dalam seakan berat sekali untuk mengingat ulang setiap moment yang menyakitkan.


"kalo udah waktunya aku ceritain ya, maaf aku belum mampu untuk mengucapnya" jawabku dengan sedikit perasaan gak enak ke teman teman baruku yang sungguh mengharapkan cerita sebenarnya.

__ADS_1


Hari demi hari berlalu, Soraya dan Ulfa selalu mencari masalah denganku. Mungkin mereka sengaja terus memancingku hingga aku kehilangan kesabaran. Bahkan aku gak menceritakan kejadian kejadian ini kesiapapun, termasuk Amri dan keluargaku.


Sekarang aku cukup terkenal di kampus, sebagai wanita perusak hubungan orang. Sebagian dari mereka mempercayainya, dan gak jarang dengan terang terangan mencemooh didepanku secara langsung.


"gak nyangka ya Feiza kayak gitu"


"keliatannya sih baik baik"


"jadi wajah polosnya itu kedok"


bukan hanya cemooh yang kudapatkan, beberapa kalo mahasiswa dikampus yang bahkan gak ku kenal, mereka berusaha melecehkanku.


"mau berapa sih ?"


"hey wanita bayaran"


"sini dek sama abang, dompet tebal nih"


semua ucapan ucapan yang mereka lontarkan membuatku merasa semakin kehilangan harga diri ku sendiri.


"Fei ... kamu gapapa ?" tanya Linda, Mira dan Susan dengan bergantian. mereka cukup khawatir dan menyarankanku untuk mengadukan hal ini ke pihak berwenang dikampus kami.


"sudahlah, mereka memang seperti itu. gimana orang lain bisa membantuku jika orang tuaku saja gak bisa" tanpa sadar aku meluapkan perasaan beserta isak tangis di dalam kelas yang saat itu sedang sepi karena perkuliahan sudaj selesai.


ketiga temanku terdiam sejenak mungkin mereka memikirkan kalimatku dan mencari cara lain untuk membantuku keluar dari masalah ini.

__ADS_1


tiba tiba Susan berkata "Pacarmu ?"


membuat kami bertiga memandangnya dengan penuh tanya. "kenapa dengan pacarnya Feiza?" tanya Mira yang juga gak mengerti dengan Susan.


"ceritakan semua ke pacarmu, toh selama ini dia selalu dipihakmu, dia pasti punya jalan keluar" Susan terkesan memaksa dengan penuh keyakinannya.


"bener Fei yang Susan bilang" Linda menimpali.


"Kamu harus bertemu pacarmu secepatnya, dan sahabatmu itu" kata Mira yang menambahkan Milla sebagai orang yang bisa membantuku.


Aku gak yakin karena bahkan kami kuliah di kampus dan kota yang berbeda, meskipun hanya butuh waktu 3 -4 jam untuk dia pulang ke kota ini dengan bus umum.


"Apa weekend ini dia pulang ?" Tanya Mira.


"Hah ... siapa ?" aku melamun sedari tadi.


"security kampus" sontak jawaban Linda membuat kami tertawa sejenak.


"Pacar dan sahabatmu" jawab Mira.


"entahlah aku belum tanya ke mereka" jawabku dengan sangat gak bersemangat.


Memang dengan adanya mereka setidaknya mengobati kerisauanku karena masih ada yang mau berteman denganku. Terlebih sejak Milla memutuskan untuk kuliah diluar negeri, selama ini dia selalu menemani sekolah pilihanku, sangat egois jika aku harus memaksanya masuk di kampus dan fakultas pilihanku. Sedangkan Amri, Reyhan dan David memilih kampus yang sama diluar kota meskipun mereka mengambil jurusan yang berbeda beda.


Dikampusnya mereka menjadi semakin akrab. Meskipun kata Reyhan, Amri masihlah bertahan dengan sikap dinginnya walau banyak fans nya dikampus. Setidaknya informasi dari sahabat sekaligus mata mataku itu membuat aku merasa lebih tenang karena gak takut Amri akan berpaling dariku.

__ADS_1


Yang membuatku merasa bingung dan penasaran sampai saat ini kenapa Soraya memilih kampus yang sama denganku padahal dari segi ekonomi pun dia mampu masuk ke kampus yang sama dengan Amri diluar kota. Ah sudahlah, aku masih sering aja gitu mikirin hal gak penting tentang dia. Bagus toh kalo gak satu kampus dengan Amri berarti mereka sangat berjarak.


__ADS_2