Cinta Pertama Tanpa Restu

Cinta Pertama Tanpa Restu
Berbaikan


__ADS_3

Selama perjalanan pulang aku menahan tangisku yang hampir gak mampu terbendung. "Kamu gapapa Fei ?" tanya Reyhan ketika sampai didepan rumahku. "Gapapa, makasih ya udah anter aku pulang" kataku yang kemudian membalikan badan dan masuk ke rumah. Gak kutemui Mami atau siapapun didalam rumah, tanpa peduli aku masuk ke kamar dan mengunci diri.


Apa yang salah sama aku ataupun Amri, kenapa Papi ku dan Ibunya Amri gak suka sama kedekatan kami. Tangisku pecah memikirkannya. Hp ku yang terus berdering gak ku hiraukan sampai akhirnya Mami yang ternyata baru pulang arisan menyusulku ke kamar dan kaget melihatku meringkuk di tempat tidur. "kenapa kamu sayang" tanya nya.


"Mi, kenapa sih Papi gak suka sama Amri ?" tanyaku


"Papi cuma belum kenal Amri aja" jawab Mami dan tiba tiba bunyi bell.


"Ada yang datang, Mami buka pintu dulu ya" kata Mami beranjak dari sampingku.


"Mi ... Kalo itu Amri, bilang aku belum pulang" kataku memohon dan Mami mengangguk.


Aku dikamar menunggu Mami yang gak kunjung kembali. Berfikir untuk menyusulnya ke lantai bawah, tapi belum sempat keluar kamar Mami sudah kembali "Kalian kenapa ?" tanya Mami.


Aku kembali melangkah ke arah tempat tidurku. "Ibunya Amri sepertinya gak suka sama Feiza Mi" kataku perlahan menceritakan kejadian di rumah Amri tadi. Mami terdiam seakan kehilangan kata kata untuk merespon ceritaku.


"Fei, yang datang tadi Amri. Dia gak percaya waktu Mami bilang kamu belum pulang" kata Mami menginfokan.


"Lalu?" tanyaku penasaran.


"Dia juga minta maaf atas kesalahan hari ini" lanjut Mami


"Feiza, mungkin Amri sudah di jodohkan dengan temanmu itu oleh Ibunya, dan menurut ibunya temanmu itulah yang pantas bersama Amri karena dia belum mengenal kamu" Mami mengutarakan pendapatnya. Aku hanya diam mendengarkan Mami yang terus berbicara.


"Kamu harus kuat dan bisa berfikir jernih, jangan terpancing dan kebawa emosi, Feiza harus belajar jadi lebih dewasa ya" mami memandangku dengan menaruh tangannya di kedua pipiku. Mami tau betul sifat buruk yang sampai sekarang sulit ku hilangkan.


"Feiza harus gimana Mi, bantu Feiza Mi" rengekku.


"Fei, kamu itu bulan depan 17 tahun loh, udah kelas tiga SMA juga mau lulus bentar lagi" Mami menyadarkan ku agar bisa merubah sikap childish ku.


Aku hanya takut kehilangan Amri karena ternyata aku juga cinta sama dia, tapi disisi lain kami belum sepenuhnya mendapat restu dari orang tua kami.


"Mami benar, Amri gak salah, seharusnya aku gak marah sama dia dan malah pergi sama Reyhan" kataku.

__ADS_1


"Nah gitu dong, ini jawaban yang Mami tunggu" kata Mami tersenyum bangga.


Hp ku kembali berdering, ada nama Amri di layar Hp ku, segera ku jawab teleponnya.


"Fei, aku beneran cinta sama kamu, aku gak mau sama yang lain. Please berjuang bersamaku" katanya dengan suara bergetar seperti orang putus asa.


"Maaf Ri, aku salah, gak seharusnya aku ninggalin kamu tadi" jawabku yang dibalas Amri dengan lega.


Mami masih standby dan menatap tajam ke arahku seakan menunggu sebuah jawaban. "Aku bakal nutup telponnya" kataku. "Loh kenapa ? aku masih mau ngomong, kita belum banyak ngobrol di rumahku tadi" pinta Amri. "Mami lagi mandangin aku " kataku pelan karena tersipu malu. Amri menertawakanku sebelum akhirnya dia mau mengakhiri telponnya.


Keesokan harinya, hari hari selanjutnya, Amri mengantar jemputku setiap hari. Dia juga mampir setiap kali mengantarku pulang. Kami akhirnya berpacaran setelah Amri tak gentar untuk terus meyakinkanku, kami meresmikan hubungan kami sehari sebelum ulang tahunku diadakan.


"Akhirnya aku punya pacar di ulang tahun ke tujuh belasku" kataku sedikit menggoda setelah aku menerima cintanya.


"Oh jadi butuh pacar karena mau sweet seventeen?" kata Amri membalas candaanku


"Hhmmm, gimana ya, bisa dibilang begitu" Aku melanjutkan ledekanku.


Sabtu setelah pulang sekolah dia mengajakku kepantai, karena dia sudah memintaku untuk membawa baju ganti, jadilah kami bermain air. "makin gosong bentar nih aku" keluhku tapi masih saja menikmati air laut disana. Amri menyewa banana boat dan kami menaikinya berulang kali, naik jetski, dan berlarian hingga terjatuh mengotori seluruh badan kami dengan pasir pantai. tertawa bersama kemudian dia menyatakan kembali perasaannya ketika matahari mulai terbenam.


"Fei, aku cinta sama kamu, sejak pandangan pertama, kamu adalah cinta pertama dan kuharap jadi cinta terakhirku" katanya yang kemudian mencium punggung tanganku. Aku memandangnya dengan penuh haru.


"Bisakah kita menunggu malam untuk melihat taburan bintang di langit gelap ?" tanyaku yang membuatnya bingung.


"Bisa" jawabnya masih dengan keraguan


"Bisakah kita begadang dan menunggu sunrise ?" tanyaku yang makin membingungkannya.


"Bi ... Bisa" jawab Amri mulai terbata.


"Bisakah ..." lanjutku yang kemudian di potong oleh Amri.


"Aku bisa melakukan apa saja yang kamu mau sayang" katanya yang mulai geregetan denganku.

__ADS_1


"kalo gitu, bisakah kamu ..."


"Apa ?"


"Bisakah kamu ..."


"Apaan sih, ngeselin yaaa" kata Amri makin geregetan dan menggekitik pinggangku.


"Hahaha ... Ampun ... Ampun" kataku.


"Bisakah kamu selalu bersamaku ?" tanyaku menatap tajam ke arah Amri dan dibalas senyum lebar darinya.


"Gak bisa" jawabnya mengagetkanku.


"kita gak bisa bareng terus Feiza" Jawaban Amri sontak membuatku patah hati.


" Nanti ya kalo udah lulus kita nikah baru bisa bareng bareng terus" lanjutnya yang berhasil membuatku malu dan salah tingkah.


"Kalo begitu bisakah kamu menjadi calon suamiku, aku gak mau kalo cuma pacar" kataku manja dengan terus menaik turunkan alisku dihadapannya.


"Really ?" Amri memastikan apa yang terdengar olehnya. Kemudian dia beranjak dari duduknya dan menarikku supaya berdiri dengannya, kemudian dia memeluk dan mengangkat sedikit tubuhku agar bisa berputar bersamanya.


"i love you Fei, i love you" teriaknya berulang kali.


Aku memintanya menurunkanku meski gak dipungkiri aku juga senang diperlakukan demikian dengannya.


Lagi lagi Amri mengarahkan pandangannya ke arahku, dengan jarak yang begitu dekat di pantai yang sudah sangat sepi itu kami masih saja saling tatap tatapan dan kemudian Amri makin merapatkan wajahnya.


Semakin Amri mendekat, semakin degup jantungku gak karuan. Dia yang lebih tinggi dariku menundukan wajahnya sedikit supaya bibirnya bisa menyentuh bibirku. Seakan pasrah aku membiarkan Amri melakukan, Aku hanya diam terpaku membiarkannya menikmati bibirku di hari pertama pacaran resmi kami.


Baru saja di mengakhiri ciumannya, "bisakah sekali lagi ?" pintaku bergantian memandang mata dan bibirnya yang kini terlihat sexy. Tanpa berkata apapun dia kembali mendekat dan menciumku, bahkan kali ini aku membalas ciumannya. tangannya yang tadi memegangi pipiku berganti menjadi memeluk pinggangku, begitu pula tanganku yang tadinya terjuntai diam ke bawah sekarang ku lilitkan ke belakang lehernya.


"Apa mau lagi ?" godanya setelah ciuman kedua kami, membuat pipiku merona dan melepaskan pelukan kami. "Ayok pulang" kataku sambil berjalan meninggalkannya duluan. Dalam setiap langkahku, masih saja jantung ini berdetak gak karuan.

__ADS_1


Sesampainya dirumah aku menyusuri masuk kedalam rumah dengan ekspresi senyum senyum sendiri. Mami dan Papi bahkan bertanya apa yang sudah membuat ekspresiku begitu bahagia.


__ADS_2