Cinta Pertama Tanpa Restu

Cinta Pertama Tanpa Restu
Kakak Ipar


__ADS_3

Setiap hari Amri mengantarku kesekolah, dan juga menjemputku. Terkadang, sepulang sekolah dia membawaku kesuatu tempat baru, mengelilingi tempat tempat di kota ini secara bertahap. Meskipun aku lahir dan besar di kota ini tapi liburan pun aku gak menghabiskan waktu ke banyak tempat, karena lebih banyak family time di rumah nenek atau sekedar ke kebun binatang dan pantai di kota ini, sesekali keluar kota.


Ternyata banyak tempat indah di kota kelahiranku sendiri, Amri menunjukkan beberapa tempat yang bisa terlihat sunset dengan indah dan sempurna. Atau di waktu weekend dia mengajakku melihat sunrise. Sejak bersamanya kesukaanku perlahan berubah, mendapat pengalaman dan pemandangan baru membuatku lebih menyukai alam. Sampai suatu hari Amri mengajakku camping bersama dengan teman temannya.


"Ajak aja Milla dan teman teman mu yang lain" katanya membujukku.


"Besok kakak ku datang karena sudah libur kuliah, aku bakal ngajak dia juga" kataku bersemangat. Dan Amri membalasku dengan senyum manisnya menandakan persetujuan darinya.


Sudah 2 bulan ini kami berpacaran, dan satu persatu orang lain mengetahuinya. Tentu saja aku sudah lebih dulu cerita ke Mami dam Milla, kalo gak nanti mereka bisa bisa murka denganku.


Mami setuju karena merasa Amri adalah orang baik, tapi lain halnya dengan Papi yang tetap menolak dan marah setiap kali tau aku sedang bersama Amri. Beberapa kali Papi memergoki ku di antar jemput Amri, tapi setiap kali dipergoki setiap itu juga Papi mengusir dan kasar ke Amri. Syukurnya Amri sangat sabar memghadapi Papi.


"Aku paham, anak perempuan itu sangat dijaga, mana ada orang tua yang mau melihat anak perempuannya sakit hati" jelas Amri yang membingungkanku.


"Apasih, kamu mau buat aku sakit hati ?" tanyaku penasaran. Tapi Amri malah tersenyum gemas padaku. Kenapa sih suka banget senyumin aku, kan jadi melting. Gak tau apa kalo senyumnya yang dulu mahal itu sekarang terlihat manis dan semakin manis saja setiap harinya.


"Papi mu hanya berhati hati karena belum mengenalku" kata Amri memperjelas kalimatnya. Aku mengangguk sambil terus memandanginya yang sedari tadi duduk di hadapanku. Kami sedang menikmati Hazelnut coffee di kafe biasa kami nongkrong.

__ADS_1


Malam sebelum tidur aku memberanikan diri ke kamar orang tuaku, Papi terus memperhatikanku yang sangat jelas terlihat gelisah seperti ingin mengatakan sesuatu. "katakan saja apa maumu sayang" kata Papi mendahului perkataanku. Mami yang lebih merapat denganku membisik dengan sangat hati hati "Kenapa sayang ?" tanyanya sambil membelai rambut panjangku.


"Pi ... Mi ... Feiza ... anu" kata ku terbata bata membuat Papi menutup buku yang dia pegangi daritadi lalu beranjak mendekatiku dan menggiring ku duduk di tepi tempat tidur mereka. Duduk di antara kedua orang tuaku adalah hal biasa, tapi kali ini kenapa begitu aneh rasanya.


"Feiza mau camping" kataku dengan cepat sembari menutup mata karena ketakutan menunggu respon yang gak diinginkan.


"Sama siapa ? kakak mu mau pulang loh besok" kata Papi dan segera di iyakan oleh Mami.


"Feiza udah ajak ka Soni, dan dia mau ikut sama Feiza" kataku dengan nada rendah dan memelas. "Kamu sudah ajak kakakmu duluan ?" tanya Mami dan ku jawab dengan anggukan. "Campingnya weekend ko Mi, Pi" kataku masih membujuk mereka. "Baiklah, kalo ada kakak mu Papi lebih tenang" kata Papi mengizinkan dan langsung membuatku kegirangan.


Paginya aku terbangun dengan semangat bahkan sebelum alarm berbunyi. "Pagi" kataku memberi salah ke Mami dan Papi yang sudah standby di ruang makan. "Pagi sayang" jawab mereka hampir bersamaan membuatku tersenyum lebih bahagia melihat pemandangan hangat pagi ini.


"Fei, nanti langsung pulang ya selesai sekolah, siang kan kak Soni pulang" kata Mami dan ku taro telapak tanganku di pelipis membentuk hormat dan melepar senyum ke Mami "siap komandan" kataku.


Sepulang sekolah Amri gak menjemput karena permintaanku, aku bilang akan pulang bareng Milla yang juga mau mampir ke rumahku. Dia tau benar kalo ka Soni pulang dia bakal dapat jatah oleh oleh dari kakakku. "kadang aku heran, kenapa kamu sesemangat ini padahal kamu bisa mendapatkannya kapan saja" tanyaku diperjalanan pulang.


"Beda lah, ini kan dari ka Soni" jawab Milla yang ternyata keceplosan membuat mataku terbelalak seakan gak percaya dan gak ngerti dengan kalimat yang baru aja ku dengar. "hah ? apa ? gimana gimana ?" tanyaku yang ingin memastikan lagi tapi Milla membungkam tak bersuara mengalihkan pembicaraan kami.

__ADS_1


Sesampai dirumah kudapati kakak ku duduk santai berdua Mami di ruang tengah, aku yang sudah memupuk rindu langsung berlari ke arahnya dan menindih sedikit tubuhnya sampai dia kesakitan tapi bukannya beranjak dari posisinya dia malah membalas pelukan dari adiknya ini.


"kenapa ? mau dipeluk juga ?" tanyanya yang ternyata tertuju ke Milla yang sedari tadi berdiri mematung melihatku dipelukan kakak keduaku. aku menjulurkan tanganku agar Milla mau bergabung dalam pelukan kami tapi dia menolaknya. "pelukan sama tante aja" katanya dan langsung memeluk Mamiku. "Milla cobadeh ambil pudding coklat di kulkas, tante buatin untuk Milla pake vla juga" kata Mami sembari membelai rambut sahabat baikku itu.


"coba liat ka, kita punya saingan dalam memperebutkan perhatian Mami" kataku bernada kesal dan membuat Milla yang datang dengan seloyang pudding coklat tertawa meledek melihatku. "ini sayangku" katanya sembari memberikanku potongan pudding coklat yang sudah di taro nya dipiring kecil lengkap dengan vla dan sendok kecil juga. "Ka, lamar saja Milla biar dia tetap bisa dekat sama kita" kataku yang dengan spontan keluar bergitu saja hingga membuat seisi ruangan keheranan.


"Apaan sih Fei, pacarku mau dikemanain ?" kata Milla menyelaku. Ka Soni dan Mami hanya diam tanpa menjawab kami.


Begitu lahap bahkan tanpa sadar seloyang pudding coklat habis tanpa sisa di dalam loyang menemani obrolan kami kala itu.


"Fei, kamu gak boleh bicara yang kayak tadi" tegur Milla ketika sudah sampai dikamarku. "bicara apa ? yang mana ?" tanyaku kurang paham maksud perkataan Milla. "tentang ka Soni melamarku" katanya dengan nada kesal. "Maafffff ..." kataku sembari menahan tawa karena aku tau benar meskipun dua menerima David sebagai pacarnya, dari sejak kami berteman dan dia melihat kakakku pasti dia sudah menyukainya sejak lama.


Milla itu gadis baik, dia selalu ada disetiap moment baik dan burukku, sahabat terbaik yang pernah aku punya. Sungguh bahagia jika benar dia berjodoh dengan kakakku. "Mill ... kenapa sih kamu mau pacaran sama David ?" tanyaku mulai mengintrogasinya. "kenapa memangnya ? kamu juga kenapa mau sama Amri?" dia malah bertanya balik padaku.


"Mill, aku rasa David bukanlah cowo yang baik" kataku dengan sangat hati hati.


"Fei, sama sepertimu yang jatuh cinta ke Amri yang terlihat keras dan dingin dengan orang lain, aku juga mencintai david yang lebih terlihat seperti fakboy itu, tapi di balik sikapnya dia cowo yang baik" jelas Milla yang tiba tiba mengurungkan niatku untuk menjodohkannya dengan kak Soni.

__ADS_1


__ADS_2