Cinta Pertama Tanpa Restu

Cinta Pertama Tanpa Restu
Tina datang lagi


__ADS_3

ketiga pria itu bergantian menyalimi Papi lalu memberi selamat ke Ka Soni yang baru saja menyusul kami. Saat itu aku sangat degdegan melihat moment dimana Papi membalas jabatan tangan Amri dan menarik Amri dalam pelukannya. "Saya harap kamu gak pernah nyakitin anak saya" kata Papi sambil menepuk pundak Amri lalu melepaskan pelukannya. Amri mengangguk dengan raut wajah heran dan penuh tanya, sesekali melirikku dengan harapan mendapat jawabannya tapi aku hanya melemparkan senyum padanya.


"Pi ... Soni kesana sebentar ya" Ka Soni sibuk dengan teman temannya yang lulus bersamanya, juga beberapa teman yang hanya mengunjungi wisudanya.


Aku masih memegangi bucket bunga yang dikasi Amri tadi, "Yang wisuda siapa, yang dapat bunga siapa" ledek Mami yang langsung di soraki yang lainnya.


lirikanku beralih ke Papi yang kala itu merangkulku dan menebar senyum seakan benar benar ikhlas memberikanku Restu.


"Nak, maaf jika Om selama ini kasar ke kamu, Om cuma gak mau Feiza salah memilih pasangan. Tapi sepertinya kalian sudah sangat cocok" Papi berbicara ke Amri sedangkan aku hanya memandangi dan mengamati pembicaraan mereka.


"Om ... Apa ini artinya Om kasi restu ke kami ?" Dengan sumringah Amri merespon Papi.


"Iya" jawab Papi singkat.


"Om, Jika boleh, Amri mau menikahi Feiza" kalimat itu membuat semua orang tercengang mendengarnya.


"Selesaikan dulu kuliah kalian" Sahut Mami dan Papi mengangguk.


"Lagian Soni juga baru lulus masa langsung ditinggal nikah adeknya" celetuk ka Malik dengan diiringi tawa gelitiknya.


"Laju bener sih" timpal David membuat Amri tertawa kecil menahan Malunya saat itu.


"Om akan menyetujuinya, tapi benar kata Maminya Feiza, tunggu lulus kuliah ya, Dan pastinya tunggu Soni duluan yang nikah" kata Papi.


"Sekarang kalian saling introspeksi diri aja dulu, pernikahan itu gak gampang nak" Saran Papi kemudian dibantah oleh seseorang.


"Mereka gak bisa nikah, karena Amri akan menikahi saya" dengan lantang Tina yang kala itu hadir di acara wisuda menghampiri kami. Entah bagaimana dan untuk apa kehadirannya disana.


"Kamu siapa ?" tanya Papi

__ADS_1


"Yang sopan kalo bicara" timpal Mami.


"Saya wanita yang sudah ditiduri oleh Amri" pengakuannya membuat semua orang terkejut, termasuk Ka Soni yang baru saja kembali menghampiri kami. Reyhan dan David langsung kompak membungkam mulut wanita itu, sedangkan Amri hanya diam mematung.


"Reyhan ... David ... lepaskan dia" Kata Papi.


"Tapi Om ..."


"Lepas !!" bentak Papi


"katakan semuanya" kata Papi.


"Pi ... dia itu pembohong" aku berusaha memberitahu Papi


"Diam Feiza !! masih kamu bela laki laki seperti ini. Papi nyesal memberikan restu Papi kepadanya. Papi akan mencabutnya kembali" bahkan Papi gak jadi mendengarkan Tina kembali dan langsung menarikku untuk pergi dari tempat itu. Diikuti oleh yang lainnya.


"Bugh !!" Suara pukulan yang mendarat di pipi Amri terdengar di kupingku, membuat kami semua memandang ke arah suara itu berasal, tak terkecuali tamu yang lainnya. "Kakaaakk"


"Sudah ku bilang jangan pernah sakitin adekku" dia menunjuk wajah Amri dengan sangat emosi. sedangkan aku hanya bisa menangisi keaadaan saat itu, bahkan sampai gak sadarkan diri.


Seperti biasa, ketika aku sadarkan diri aku sudah berada di kamar rawat inap rumah sakit dengan selang infus ditanganku. "Amri ... Amri ... Dia gak salah Pi ... Dia dijebak" aku terus mengucapkannya diambang kesadaranku.


"Fei ... sadar fei" Mami menepuk pelan pipiku yang sudah bersih dari makeup.


"Mi .. Amri Mi"


"sudah Fei !! jangan sebut lagi nama itu, jangan seperti wanita murahan" kalimat kasar itu membuat seisi ruangan terbelalak. "Jaga mulutmu" Mami seakan gak terima dengan ucapan Papi.


Aku semakin menangis "Aku gak bisa begini" Ka Soni bergumam lalu mau pergi meninggalkan ruang inap itu tapi ditahan oleh Ka Malik. "Mau apa kamu ? mau buat anak orang meninggal ? sudah disini aja gausah pake tanganmu itu buat hal kotor" kata Ka Malik.

__ADS_1


Semuanya kacau, semua karena wanita itu. Papi yang bahkan sudah merestuiku sekarang semakin membenci Amri. Dia gak mengizinkanku berhubungan lagi dengan Amri, bahkan dengan David dan Reyhan sekalipun.


Sepulang dari rumah sakit, Papi meminta kedua kakakku bergantian mengawasiku, menemaniku kemana saja termasuk kuliah. Aku makin sering pingsan dan makin banyak obat yang diresepkan dokter untukku. Bahkan aku mengikuti kelas theraphy.


Aku cuma mau balikan sama Amri dan membantunya mencari tau kebohongan Tina, tapi gak satupun yang bisa membantuku, bahkan mereka gak mengizinkanku untuk membahas Amri dengan mereka.


"Ka Marwah" terlintas didalam benakku nama kakak ipar yang selama ini cukup mengerti aku.


Aku mendatangi rumahnya dan menginap disana dengan harapan bisa menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dan dia bisa membantuku untuk menemukan jalan keluar.


Kami bercerita setelah suami dan anaknya tertidur pulas. "Ka ... Feiza yakin Amri gak salah, wanita itu bahkan pernah bilang sendiri ke Feiza kalo dia melakukan itu untuk mendapatkan Amri, bahkan dia bilang dia bakal ngelakuin apa aja" kata ku menjelaskan.


Ka Marwah diam mencerna apa yang baru daja kukatakan kepadanya sambil memikirkan bagaimana cara membantuku "Kakak mau bantu kamu tapi kakak juga gak tau caranya, kakak takut sama kakakmu" kata ka Marwah.


Setidaknya aku sudah lega karena masih ada yang mempercayaiku. "Tidurlah, kakak bakal cari cara untuk menyatukan kalian kembali jika memang Amri gak seperti yang wanita itu bicarakan" kata Ka Marwah sembari menarik selimut untuk menutupi badanku.


Setelah beberapa minggu akhirnya Ayah Amri datang kerumahku. Tepat dengan Mami dan Papi yang sedang berada dirumah. "Om ..." aku yang membukakan pintu kaget dengan siapa yang datang.


"orang tuamu ada ?" tanyanya dan aku mengangguk lalu mempersilahkannya masuk menemui kedua orang tuaku diruang tengah.


"Siapa Fei ?" tanya Papi yang melihatku masuk bersama Ayah Amri.


"Maaf pak, saya Ayahnya Amri" Papi yang mendengarnya langsung saja beranjak dari duduknya. "Buat apalagi anda kemari ? membela anak anda ? maaf saya gak akan mendengarkan apapun tentang baji%$#& itu" kata Papi kesal.


"Maaf Pak sebelumnya, saya kesini hanya untuk meminta maaf atas kesalahan yang anak saya perbuat. Itu diluar kendali saya tapi saya juga yakin anak saya bukanlah seburuk yang anda fikirkan" dengan sangat lembut dan sopan Ayahnya bertutur didepan Papi.


"Saya gak peduli, saya cuma mau anak anda menjauhi anak saya" dengan lantang Papi berucap.


"Sekarang saya minta anda keluar" bentak Papi dengan menunjuk ke arah pintu depan.

__ADS_1


"Papi" aku menyaut.


"Masuk kamar sana ... Mi bawa anakmu"


__ADS_2