Cinta Pertama Tanpa Restu

Cinta Pertama Tanpa Restu
Jualan


__ADS_3

Begitu lulus sangat sulit bagiku mendapatkan pekerjaan. Padahal sudah melamar ke banyak perusahaan. Mungkin ini karena aku gak punya pengalaman kerja sebelumnya, dan terlebih aku gak punya sertifikat kegiatan apapun diluar akademik. Gak seperti kedua kakak laki lakiku yang dengan cepat mendapatkan kerja karena sejak kuliah pun mereka sudah mulai bekerja part time dan banyak mengikuti kegiatan.


"Sudahlah Fei kalo gak bisa dapat kerja ya buat aja sendiri" kata Mami ketika menghiburku yang terus menerus mengeluhkan pekerjaan selama dua bulan ini.


"Mamiii ..." Aku kegirangan mendengarkan idea Mami yang bahkan gak terpikirkan olehku. Percuma kan Mami ngajarin aku masak selama ini kalo gak berguna. Mami menyarankanku untuk menjual makanan, meski sebenarnya agak gak nyambung dengan jurusan yang ku ambil selama kuliah.


"Jadi, Feiza mau jualan apa ? kue atau makanan berat ?" tanya Mami.


Setelah berfikir lumayan lama akhirnya aku memutuskan untuk membuat berbagai cemilan kering dan basah.


"Jangan banyak banyak dulu Fei, lihat permintaan pasar" rupanya Mami lebih jago dariku.


Aku dan Mami sibuk mencoret coret kertas membuat daftar beberapa jenis cemilan yang akan kujual nantinya. "sibuk apanih duo cantik" sapa Ka Soni yang baru pulang kerja.


Aku menengok kearahnya dan melemparkan senyum "Feiza mau jualan ka" kataku.


"Pinternya ..." Ka Soni Mengacak rambutku sebelum duduk disebelahku.


"Nanti kakak bantuin ya, kakak tawari teman teman kakak" kata ka Soni seraya membuatku melebarkan senyum dihadapannya. "thanks ma bro" kataku.


Setelah selesai menulis daftar cemilan yang akan dijual, aku dan Mami menyiapkan makan malam bersamaan dengan Papi yang baru aja sampai dirumah.


Keesokan harinya Mami menemaniku berbelanja keperluan jualan. Tapi diperjalanan seketika Mami membahas yang lain.


"gimana hubunganmu sama Amri Fei ?" tanya Mami membuatku meliriknya tanpa suara apapun.

__ADS_1


"Maaf ya nak Mami gak bisa bantu apa apa. Mami gak yakin Amri bisa seperti itu, tapi ..." Mami gak melanjutkan ucapannya.


"udahlah Mi kalo jodoh gak kemana" kataku berusaha ikhlas. karena sejak sidang akhir kemarin aku sudah gak komunikasi ataupun ketemu sama Amri lagi. sekalipun dihari wisudaku bulan lalu. Mungkin karena saat wisuda ada keluarga ku jadi dia gak mau ambil resiko, dan hanya menitipkan chocolatte bucket ke Milla. Meskipun aku tau Amri akan setia dan mempertahankan hubungan kami, tapi aku juga gak menepis kemungkinan kalo pada akhirnya hubungan kami gak bisa dilanjutkan karena kelicikan Tina.


Sesekali aku memikirkannya, bahkan beberapa kali membuatku jatuh pingsan karenanya. Mami dan Ka Marwah bilang aku sering mengigau jika sakitku kumat, meski aku sering menepisnya tapi itulah kenyataanya. Aku masih belum siap jika harus kehilangan Amri.


...


...


...


Dirumah, aku dan Mami beristirahat sejenak sebelum kami bertarung didalam dapur. Seketika Mami menarikku dalam dekapannya tanpa berbicara apapun. Aku tau Mami juga kepikiran dengan masalahku. "Gapapa Mi, Feiza kuat ko, Feiza yakin kebenaran akan terungkap" kataku sambil memandang Mami lengkap dengan senyuman yang lebar.


Setelah suasana hati kami kembali normal, kami masuk kedapur untuk membuat beberapa cemilan kering.


"Keripik pisang deh" aku menjawab sambil mengeluarkan pisang dari plastik belanjaan. Mami mengacungkan jempolnya.


Terlalu asik bahkan kami sampai lupa menyiapkan makan malam. "Jadi gak masak dong ?" tanya ka Soni ketika mengetahui kami belum menyiapkannya. "Yaudah gapapa pesan diluar lah udah lama gak delivery makanan" imbuh Papi. "Papi pengertian banget sih" kataku seraya memeluk Papi yang kini terkena sisa sisa tepung yang menempel dariku.


"Keripik pisang, singkong, ubi ..." Ka Soni menyebutkan satu persatu cemilan yang berhasil kubuat dengan rasa yang gak mengecewakan. "Enak Fei ..." Ka Soni terus mengunyah semua keripik itu sambil menunggu makanan delivery kami. "Kakak jangan dihabisin kan mau dijual" kataku.


"Packagingnya sudah ?" tanya Papi. Aku menjawabnya dengan mengangguk.


"Feiza udah perhitungkan Pi, dari modal utama sampe biaya packaging juga beserta untungnya" Kata ku bangga.

__ADS_1


"Pintar anak Papi" puji Papi sambil memegangi kedua pipiku yang ternyata mulai mengempes. "Feiza kurusan ya" kata Papi setelah merasakan Pipiku yang gak lagi berlemak banyak.


"masa sih Pi" seakan gak percaya aku kembali memegangi pipiku dengan tanganku sendiri. "Iya Fei kurusan" Rupanya Ka Soni juga memperhatikanku.


Keesokah harinya Ka Soni membawa beberapa pack keripik buatanku karena semalam dia sudah share via chatt grup kantor dan teman temannya. Sebagian juga aku tawarkan ke teman temanku, begitu juga Papi dan Mami yang gak malu membantu usaha baru anak mereka.


"Fei ... dapet pesanan 100 pack bisa ?" Ka Soni menelponku disiang bolong, membuatku tercengang. "Bisa ka, keripik apa aja maunya ?" tanyaku yang menyanggupi pesanan sebanyak itu. Syukur sebelumnya Ka Marwah dan Milla pernah bilang mau membantu ku, jadi aku gak terlalu kewalahan. "Campur aja Fei, dikasi waktu dua hari sanggup gak ?" Ka Soni menanyakan ulang dan tetap kusanggupi.


"Makin hari maiin banyak ya pesanannya Fei ... gimana ? mau coba yang lain kah" tanya Mami saat membantuku packing keripik. Aku menggelengkan kepalaku "belum sanggup Mi" jawabku singkat.


Hingga akhirnya setelah enam bulan berjalan, aku mampu mempekerjakan satu pegawai yang akan membantuku menyiapkan jualanku. dan menjajakannya lebih luas dari sebelumnya.


Bahkan dihari ulang tahunku bulan lalu, Orang tua dan kedua kakakku menghadiahkanku ruko yang mereka belikan untukku. Jadi aku bisa lebih punya banyak tempat untuk mengerjakan usahaku ini.


Seakan melupakan masalahku, meskipun sejenak tapi aku cukup menikmati kegiatanku kali ini yang berkutat dengan berbagai macam buah dan keripik


sampai suatu hari seseorang datang ke tokoku dan mencariku saat aku sedang gak ada di toko. Dia menungguku hingga aku kembali ke toko. betapa terkejutnya saat kulihat Tina dihadapanku.


"Mau apa lagi kamu ?" tanyaku emosi. Tanpa menjawab dia menyodorkan undangan pernikahannya dengan Amri. Disaat itu rasanya hatiku hancur berkeping keping. Amri berjanji padaku untuk tetap setia tapi Tina malah mengantarkan undangan pernikahan mereka. kuberanikan menatap wajahnya, terlihat senyum kemenangan terukir dihadapanku.


Aku menepis undangan yang disodorkannya. "Pergi dari sini !!" bentakku sembari menunjuk pintu keluar dan melototkan mataku dengan penuh amarah.


"Aku harap kamu gak membenci mantan pacarmu yang akan menjadi suamiku" katanya dengan penuh percaya diri dan semakin memancing amarahku.


"Aku gak pernah dan gak akan pernah membenci Amri, tapi kamulah yang akan selalu ku benci" dengan mata melotot dan air mata yang sudah gak terbendung lagi aku mengucapkannya. Lalu, pergi mendahuluinya ke ruangan pribadi didalam ruko ku.

__ADS_1


Aku menangis sejadi jadinya namun masih berusaha tanpa mengeluarkan suara. Tapi apa daya emosiku terlalu memuncak hingga aku kelepasan untuk membanting beberapa barang dalam ruangan itu. Membuat seseorang di tokoku menghubungi keluargaku sehingga Ka Marwah menghampiri dan menjemputku setelah mampu menenangkanku.


__ADS_2