Cinta Pertama Tanpa Restu

Cinta Pertama Tanpa Restu
New Normal


__ADS_3

"Feiza, kamu gapapa ?" tanya Mami yang langsung menghampiriku yang baru aja pulang dari gedung pernikahan dengan mata yang terlihat sembab.


"Feiza gapapa Mi" jawabku dengan menyunggingkan senyum kepadanya.


Dibelakangku masih setia Milla, Reyhan dan David, serta Amri yang ikut mengantarkanku pulang. "Loh, Amri nga ..." Ucapan Mami tiba tiba terputus.


"Amri batal nikah tant" jawabnya menyela pertanyaan Mami.


"Tapi ... Ah yasudah kita cerita didalam aja ya" kata Mami sembari menggiringku dan mengajak teman temanku ke ruang tengah agar lebih leluasa bercerita.


"Kalian tunggu disini" kata Mami sebelum akhirnya Mami pergi kedapur dan kembali dengan minuman syrup untuk kami.


Setelah kondisi memungkinkan dan pas akhirnya kami bercerita secara bergantian. Kulihat wajah kaget diwajah Mami seakan gak percaya dengan apa yang kami ceritakan.


"Jadi Amri sekarang terbebas dari dua wanita itu ?" Kata Mami sembari beranjak dari duduknya. Kami mengangguk bersamaan dan Mamipun mengucap syukur.


Begitu selesai cerita dan membahas kejadian hari ini, mereka semua pamit untuk pulang, kecuali Amri. "Kenapa gak pulang?" tanyaku.


"Huss, ko ngusir sih" sahut Mami.


"Eh bukan Mi, maksud Feiza ..."


"Sudah sudah, duduk aja sini kalo memang belum mau pulang" kata Mami.


Amri melirikku dengan senyum manisnya entah apa yang sedang diisyaratkannya dengar raut wajah seperti itu. Ditambah alis yang seringkali di naik turunkannya bersamaan.


Hari semakin sore dan Amri pun pamit pulang meninggalkanku berdua dengan Mami. Setelah kami puas mengobril berdua di taman rumahku.

__ADS_1


"Sekarang istirahat dulu ya Fei. Nanti kalo udah baikan baru cerita" Dengan lembut tutur kata Mami terucap sambil terus sedikit mengacak rambutku setelah menutup pintu depan. Aku hanya mengiyakan dan meninggalkannya setelah menciumi wajahnya.


Sangking lelahnya aku terbangun dikeesokan harinya dengan badan yang lebih segar berkat seduhan jamu buatan Nenek. "Pagi Mi ... Papi udah kerja ya" kataku sembari menuruni tangga.


"Capek banget ya sayang ?" Mami bertanya lengkap dengan senyumannya. Aku sedikit menyengir sambil menggaruk garuk kepalaku yang sebenarnya gak gatal.


"Sudah siang belum mandi, gadis jorok" Dari arah belakang Ka Soni menuruni tangga dengan sedikit berlari lalu mencolek gumpalan lemak dipinggangku hingga aku merasa kaget dan kegelian. "Kakaaaakk !!" kataku dengan manja, kemudian mengejarnya yang berlari memutari Mami dan meja makan.


"Hey hey sudaaahhh" Nenek yang membawa secangkir berisi minuman panas menegur, membuat kami yang masih berlarian seketika berhenti.


"Apa itu Nek ?" tanya Ka Soni seraya mendekati Nenek.


"Jamu, buat Feiza" jawab nenek.


Aku menyukai jamu, terutama racikan Nenek dan Mami yang menurutku rasanya sangat pas. Dengan gesit aku menghampiri Nenek dan mengambil alih gelas itu dari tangan Nenekku.


"Setelah minum jamu baru sarapan ya sayang" kata Mami sembari mengusap rambutku.


"Setelah minum jamu baru sarapan ya sayang" Ka Soni mengulang kembali ucapan Mami sekaligus mengikuti gerakan tangan Mami yang menyentuh kepalaku, namun Ka Soni mengacaknya dengan kasar seperti biasanya. sehingga tangannya terkena pukulan dari Nenek.


"Udah mau jadi istri orang masih aja manja" ka Soni beranjak pergi setelah mengucapkannya.


"Istri ? siapa yang mau jadi istri ?" tanyaku bingung dengan pernyataan kakakku itu. tapi tanpa menjawabku Ka Soni tetap melanjutkan langkahnya hingga keluar dari pintu depan.


"Maksud ka Soni apaan sih Mi, Nek?" tanyaku sembari menyeruput jamu yang sudah terasa hangat.


"Ya kan Amri batal nikah sama wanita itu, perjodohannya dengan Soraya juga batal, jadi ..." Aku langsung memutus pembicaraan Mami yang ku tau arahnya kemana.

__ADS_1


"tunggu tunggu, Feiza belum mau nikah Mi" kataku yang bahkan berfikir Ka Soni juga belum menikah saat ini.


"Kalo kamu mikir mau nikah nanti karena kakakmu belum nikah, semalam dia yang mengusulkan kamu nikah duluan" Mami duduk berhadapan denganku dan berbicara dengan tatapan tajamnya yang terus mengarah kepadaku.


"Tapi Mi ..."


"Sejujurnya Feiza menolak nikah sama Amri karena Soni atau ada alasan lain ?" kata Nenek menyambung pertanyaan Mami tadi.


"Fe ... Feiza ... Feiza belum siap Mi, Nek" kataku yang memang belum berfikir untuk menikah diusia muda.


"Baiklah. Kami gak bakal maksa kamu tapi bicarakanlah sama Amri lagi. Mami rasa Amri sudah siap" kata Mami menyerah untuk melanjutkan pembahasan itu.


"Tapi sayang. yang harus kamu ingat kamu harus jaga baik baik jangan sampai pacaran kelewat batas" dengan berhati hati nenek menasehatiku, dan aku paham apa maksudnya.


Keseharianku mulai kembali normal dan bahkan aku sudah terlepas dari theraphy obat obatan akibat depresi yang pernah aku jalani.


Membuka cafe kecilku disetiap pagi bersama Ka Marwah dan Maura yang menemani dan membantuku. Terkadang Milla mengunjungiku bersama Reyhan dan David. dan untuk mempermudah keluarga kecil dari kakak sulungku itu pindah kerumah kami dan tinggal bersama.


Papi dan Mami masih sering berdebat meski sudah tidak seperti dulu. Sekarang mereka berangsur kembali harmonis, terlebih sekarang sudah punya Maura dan Nenek yang masih suka menegur Mami dan Papi jika kembali berdebat.


Ka Soni ? Benar kata Mami kalo dia pun gak bakal milih nikah muda bahkan ketika banyak wanita tertarik padanya. Ahh semoga kakakku itu masih normal.


Sedangkan Amri, kami masih berpacaran. Meskipun jarang bertemu karena kami sibuk masing masing dengan pekerjaan kami. Aku mengurus cafe dan dia mengurus perkebunan milik Ayahnya. Kami sepakat untuk gak sering bertemu supaya lebih berkualitas setiap bertemu karena akan banyak menumpuk rindu selama kami gak bertemu. Lagipula diumur kami yang masih 25 tahun ini adalah saatnya kami mengejar karir masing masing supaya jika kami menikah nanti kami bisa lebih banyak bersantai dan menghabiskan waktu bersama.


Bukan cuma mereka. Linda, Mira, dan Susan juga masih sering bertemu denganku. Jalan bareng, bahkan mengunjungi cafeku dan berkumpul bersama Milla, Reyhan dan David.


Rupanya Reyhan memiliki kesempatan untuk mencuri perhatian ketiga temanku itu. Tampangnya cukup ganteng dan juga perhatian, siapa yang gak terpesona dan baper sama tingkahnya yang bahkan terlihat konyol tapi tetap berkharisma ketika sedang bicara serius.

__ADS_1


__ADS_2