
Camping ini adalah acara pribadi, bukan kegiatan sekolah atau semacamnya. Oleh sebab itu hanya sedikit yang mengikutinya. Aku, Amri, Ka Soni, Milla, David, Reyhan, ketiga teman Amri namanya Aksan, Mardi, dan Bagas, serta geng julid dengan member bernama Soraya, Nilam, dan Ulfa.
Kami menggunakan Minibus untuk ke tempat tujuan. Tempatnya di ujung kota dengan akses jalan yang sudah sangat mudah namun belum banyak yang melirik tempat itu. "baguslah, biar tangan kotor manusia gak merusak alam" gerutu ku yang duduk mendengarkan cerita Amri didalam bus.
Aku duduk bersebelahan dengan kakakku tapi Amri yang dudukndikursi depanku rela membalikkan badannya hanya untuk menemaniku mengobrol sepanjang perjalanan untuk menjelaskan dan menceritakan tempat tujuan kami. "Sepertinya dia pacar yang baik" bisik kak Soni menggodaku.
"Kak, apa kakak suka main gitar ?" kata Amri membuka percakapan dengan kak Soni dan dengan cepat kakak merespon kembali Amri. Dia mengajak kakakku berduet dan langsung saja kakak beranjak dari kursinya menuju ke tengah tengah minibus itu, Didepan kami semua Mereka berduet lalu di ikuti oleh teman teman Amri yang terus menimpali lirik demi lirik lagu yang mereka nyanyikan. Gak jarang mereka bersorak bersama lalu bertepuk tangan memuji permainan gitar kak Soni dan Suara merdu Amri.
"Cocok memang Ri tinggal masuk studio rekaman aja"
"Gak usah diragukan memang bakat terpendam"
"Jarang jarang nih Amri nyanyi nyanyi"
"Amri caper depan pacar cieee"
"Bang bagus bang petikannya"
"Gitaris jago uyyy"
Mereka yang dipuji, aku yang ikut tersipu malu karena ikut bangga dengan dua lelaki kesayanganku itu. Sepanjang jalan kami nikmati dengan sangat ceria, bahkan geng julid sama sekali gak bergeming dan membuat ulah seperti biasanya. "Tumben gak buat ulah" Milla yang duduk di belakangku membisikannya ke dekat telingaku membuatku tersenyum mendengarnya. Sesekali ku pandangi geng julid yang duduk di seberang kursi ku.
Butuh waktu kurang dari dua jam untuk akhirnya sampai ke tempat tujuan. "Sampaiiii ..." Teman teman Amri bersorak dari arah kursi belakang. Kami turun bergantian dengan membawa masing masing barang kami. Ka Soni membantuku yang terlibat kerepotan mengangkat ransel dan tas jinjing. "Amri bantu ka" kata Amri menawarkan bantuan ke Ka Soni. Tanpa sungkan kakakku itu melemparkan ranselku ke Amri. "Kakak" kataku bernada manja dan langsung menarik ranselku yang berada ditangan Amri. "kenapa masih nyusahin kakakmu kalo udah punya pacar" keluh ka Soni yang makin membuatku kesal. "Lagian camping dua hari bawaannya banyak bener sih" timpal Amri yang menolak tanganku yang mau mengambil ranselku kembali.
"yaudah siniin ranselku kalian ini bisanya ngeluh aja, aku kan gak minta kalian bantuin" keluhku yang semakin kesal. "Duhh enaknya yang bodyguard nya ada dua" goda Milla yang menghampiriku.bersama david dan reyhan. "tuh kamu juga ada dua bodyguard" kataku menunjuk David dan Reyhan. "Ih Apaan. Ogah !!" jawab David dan Reyhan serentak dan membuat kami tertawa geli melihat pemandangan itu.
Segera kami menyusul yang lainnya ke lahan luas ditepi danau untuk mendirikan tenda berbentuk memutar dan menyiapkan kayu bakar untuk api unggun di tengah tengah kelilingan tenda tenda kami.
__ADS_1
Sebelumnya Aksan, teman Amri sudah menyampaikan pesan ke supir minibus tadi untuk meninggalkan kami dan menjemput kembali di hari minggu. "Toiletnya mana ?" tanyaku celingak celinguk sekitar ketika sedang berkumpul setelah mengumpulkan kayu bakar.
Tersenyum usil, Amri menunjuk danau luas tanpa bangunan apapun. "Apa maksudmu?" kataku mencubit lengan pacarku itu sampai meringis kesakitan. Gak sengaja pandanganku menuju Soraya yang ternyata memperhatikanku, cepat cepat aku memalingkan pandanganku darinya.
"Kenapa ? aku cuma bercanda, disana ada toilet umum yang dibangun oleh warga, ini dekat dengan pemukiman warga ko, tenang aja" kata Amri yang melihatku terlihat gak seceria sebelumnya.
"bahkan setelah kamu mencubit pacarmu malah kamu yang pasang wajah cemberut" keluh ka Soni yang membela Amri. Aku gak menghiraukan mereka dan memandang ke segala arah untuk mengalihkan perasaanku setelah melihat Soraya memperhatikan kami, sekilas teringat lagi dia pernah berkunjung ke rumah Amri bersama Ibunya Amri dan mungkin juga orang tua nya.
"Ri, main di danau yok" ajak temannya tapi Amri menolak setelah melirikku. "Kalian aja" katanya. "yaelah udah jadi bucin deh kayaknya" gerutu Mardi, temannya Amri dan langsung di timpal sendal gunung yang sedang dipakainya. Sendal itu tepat mengenai paha belakang temannya, bukan dikembalikan tapi mereka membawa pergi sendal Amri dan melemparnya ke danau, Amri mengejar teman temannya "Sialan lu" kata Amri sembari menonjol kepala Mardi setelah melemparkan sendalnya.
Dia langsung melepas pakaiannya hingga bertelanjang dada lalu menyebur ke danau yang sangat jernih itu, disusul oleh teman temannya, Reyhan dan David pun ikut berenang bersama mereka. "Ayok" ajak ka Soni yang kemudian ku tatapi dengan penolakan. Kak Soni yamg sudah beranjak kemudian kembali duduk dan menanyakanku sesuatu.
"Apasih cerita sini nah" kata kakakku gemas melihat adiknya sedih dan gak bersemangat. Aku mulai menceritakan tentang geng julid yang sedari tadi memperhatikan kami termasuk Soraya yang pernah mampir ke rumah Amri. Juga tentang ibunya Amri yang terluhat tidak merestui hubunganku dengan semata wayangnya itu.
Milla yang duduk di dekatku juga mendengarkan keluhanku dengan seksama dan mencoba menenangkanku supaya suasana hatiku kembali ceria. tiba tiba suara genit terdengar dikupingku
"ganteng banget sih"
"kali basah sexy ya"
"nilam sadar nilam belum cukup umir"
geng julid dengan member centil itu terus jelalatan melihat Amri dan para cowok cowok berenang didanau dengan bertelanjang dada.
Gak begitu lama Amri menyusul ku yang masih saja duduk dengan murung. "kenapa kemari ? balik sana sama teman temanmu" kata ku yang rupanya terdengar mengesalkan dikuping Amri. "Mau di ajakin malah meraju mulu" keluhnya.
"Adek mu kenapa sih ka ngeselin banget" kata Amri mencari pembelaan
__ADS_1
"Entahlah, bawaan dari lahir" jawab Ka Soni yang beranjak lalu merangkul Amri dan menjauh dariku dan Milla. Mereka berjalan menuju kembali ke arah danau. "Yakin gak mau ikut ?" tanya Amri meyakinkanku lagi
"Aya ... Sini gabung" teriak Bagas mengajak sepupunya yang masih saja memandangi mereka bersama kedua temannya. "Kalian aja" teriak Soraya sembari melambaikan tangan ke arah Bagas, sepupunya.
Aku beranjak dan mengikuti langkah kaki Amri dan Ka Soni, diikuti ? Milla yang berjalan disampingku. "Nah gitu dong, dari tadi kek jadi aku bisa juga menikmati air danau yang indah ini" kata Milla terdengar senang. Aku langsung mengarahkankan pandanganku ke arahnya membuat dia tersenyum merayu kepadaku. Amri dan Ka Soni yang menyadari kejadian itu ikut tertawa meledek.
Amri menarik tanganku menuju air danau itu tapu seakan berat melangkah. bagaimana tidak, aku kan gak bisa renang gimana kalo tenggelam. Tapi seakan malu mengatakannya jadi aku hanya diam mematung dipinggir danau itu. "Sudah gapapa sini gak mungkin tenggelam" ajak kak Soni yang juga ikut menarikku.
Byyuuuuurrrr ....
Tiba tiba aku dikagetkan oleh Soraya yang terlebih dahulu menceburkan diri ke danau itu langsung ke bagian tengah danau lewat dermaga kecil di ujung danau. Aku menghela nafas sedalam dalamnya lalu mengikuti langkah kedua lelaki kesayanganku masih dengan tangan yang gemetar.
"tadi rasaku dia nolak" bisik Milla yang mulai menaruh rasa curiga. Tinggal Nilam dan Ulfa yang masih mager untuk nyebur ke danau itu.
Aku terus berpegangam erat ke ka Soni meski telapak kaki ku masih menyentuh dasar danau yang dangkal itu. "Danau ini paling dalam dua meteran aja" kata Amri mengulurkan tangannya padaku didepan kakakku. "nah itu gunanya pacar, kenapa masih menggelayuti kakakmu?" keluh kak Soni. Aku yang masih kesal sedari tadi makin kesal dibuatnya. Lalu aku berpindah memegangi tangan Amri yang di ulurkan didepanku tadi.
Dia menggiringku lebih ke tengah danau, "Ri ..." kataku ketakutan seraya mengeratkan genggaman tanganku ke Amri. "Kaki mu masih nyentuh dasar kan ?" tanyanya dengan senyum usil. "jinjit" bisikku yang kemudian hampir tenggelam karena kaget sesuatu melewati kakiku.
"Feiza" teriak ka Soni, aku hapal betul suara kakakku. "Gapapa Ka" Amri membalas teriakan kakakku. Ka Soni tetap menghampiriku yang tengah berada dengan Amri. "Kamu gapapa Fei ?" tanyanya khawatir membuatku menyungingkan senyumku lalu berpaling memeluknya. "Uuuu tayang kakakku khawatir ya" ledekku yang langsung di balas dengan mencipratkan air ke wajahku.
"Sini gabung " teriak Bagas kepada ku dan Amri serta ka Soni yang terlihat agak berjarak dengan mereka. kami pun menghampiri mereka dengan Amri yang menopang badanku di punggungnya. "yang bener megangnya, kamu mau aku mati tercekik?" keluha Amri yang ditertawakan ka Soni dan yang lainnya. "Maaf" kataku sendu.
Sudah begitu lama kami bermain di Air dan setelah puas akhirnya kami kembali menepi dan mandi di toilet umum yang disediakan dengan membayar uang air didepan toilet.
"Aku masih penasaran dengan apa yang menyentuh kaki ku tadi" kataku ke ka Soni. "Besok kita berenang lagi" ajak ka Soni. "Buat apa ? aku takut ka gausah ya" pintaku.
"gausah apa ?" tanya Amri yang tiba tiba muncul entah dari mana membuatku terkejut. "Feiza penasaran sama apa yang menyentuh kakinya tadi di danau" ka Soni menjelaskan kembali ke Amri. "Paling ikan, didanau ini ada ikannya loh" kata Amri memberitahu.
__ADS_1