
Aku terbangun setelah sempat tertidur akibat obat tidur yang disuntikan ke selang infusku karena rasa sakit dikepalaku tadi.
"Mami ..." panggilku yang bahkan belum bisa menatap jelas langit langit ruangan itu.
"Mami disini sayang" Sedari tadi Mami terus duduk dikursi samping tempat tidurku sambil memegangi tanganku.
"Mi, kepala Feiza sakit, Pusing" keluhku berulang ulang.
"Sabar ya sayang, mungkin pengaruh obat, sebentar lagi dokter datang" kata Mami menenangkanku.
Papi yang kala itu juga berdiri disebelah Mami, memandangi wajah dan mengelus elus kepalaku. "Papi ..." panggilku.
"Selama kamu gak sadarkan diri, Mereka sudah menceritakan semuanya ke Papi, maafin Papi kalo selama ini terlalu keras ke Feiza"
"Nanti, setelah Feiza sembuh kita bahas lagi ya. Jangan sekarang" lanjut Papi dengan selembut mungkin, dan aku mengiyakannya.
Setelah dirawat inap selama dua minggu lamanya dirumah sakit. Akhirnya aku bisa juga pulang kembali kerumah bersama keluargaku.
Masih dengan bantuan Kak Soni yang membantuku beranjak dari tempat tidur rumah sakit dan membopongku keluar kamar karena kepalaku masih terasa pusing akibat terlalu banyak berbaring.
"Kenapasih gak digendong aja" pintaku dengan Manja, membuat kak Soni melirik tajam ke arahku dan menaikan satu alisnya membuatku dan yang lainnya tertawa.
Disaat aku ingin melanjutkan langkah kakiku, kak Soni diam mematung ditempatnya "Kenapa ka ?" tanyaku.
"Gausah kayak orang **** nah, tadi minta gendong" katanya membuatku mengukir senyum selebar mungkin.
kakak ku si raja usil itu membungkuk supaya aku dengan mudah naik ke punggungnya. "Duh jarang nih liat pemandangan gini, biasa kakak yang gendong Feiza" Kata kak Malik sekilas mengenang masa lalu kami.
__ADS_1
"Cekrek" ka Marwah sedikit berlari mendahului kami dan mengambil gambar candid kami sekeluarga di lorong rumah sakit tersebut.
"Sayaaaaang, bilang dong kalo mau foto kan bisa bergaya dulu"
"iyanih kakak, Feiza bisa jelek nanti"
"Sudah sudah, bagus ko nanti kakak kirimin gambarnya ya" jawab ka Marwah sambil senyum senyum menatap layar Hp nya.
Sesampai kami dirumah, aku kembali mengenang setiap moment selama berada dirumah itu. "Mau digendong lagi ? diam ajalu nutupin pintu tau gak" Ka Soni mengagetkanku yang diam mematung didepan pintu ruang tamu.
Sontak aku memukul keras lengan kakakku itu, tapi naas tanganku yang malah sakit karena otot lengannya. "makanya gausah belagu" ledeknya seperti biasa.
"Neneeeeekkk ..." Tiba tiba pandanganku teralihkan ke Nenek yang ternyata sudah menunggu kedatangan kami.
"Nenek bakal tinggal disini" kata Papi yang langsung ku balas dengan senyum sumringah.
Selain dengan Mami, aku memang sangat dekat dan dimanjakan oleh Nenekku. Mungkin Nenek kemari karena masalah yang kubuat akhir akhir ini.
"Tapi yang pasti Feiza harus sehat dulu ya Nak" sahut Mami.
Aku mengangguk paham dengan semua informasi yang mereka lontarkan. Tidak seperti biasanya, sangat asing bagiku ketika perhatian demi perhatian yang mereka berikan kepadaku.
Papi yang gak begitu banyak waktu kini selalu pulang ontime dan sering mengajakku quality time. Mamipun lebih sering mengajakku kembali berkutat didapur bersama Nenek. Ka Soni yang minggu depan akan kembali berkuliah pun selalu standby dirumah untuk mengusili ku setiap hari, tanpa berhenti sebelum aku benar benar kesal padanya. Ka Malik dan istrinya yang juga gak mau ketinggalan memberiku dukungan dan perhatian, mereka lebih sering menengokku ke rumah.
Ini sudah lebih dari cukup, aku mengikuti setiap alur perhatian yang mereka curahkan kepadaku. Tapi disaat aku kembali sendirian didalam kamar aku masih saja merasa belum puas karena semua perhatian mereka tetasa Asing untukku. Padahal sebelumnya mereka memang memperhatikanku layaknya Cucu, Anak dan Adik mereka. Tapi mungkin ini karena sikap perhatian mereka yang berlebihan dari biasanya.
Sejak konflik yang terus terjadi didalam rumahku, sejak itu pula keharmonisan dirumah ini memudar, hubungan kami satu sama lain makin merenggang. Tapi dengan keadaanku yang kata dokter terkena depresi ringan, mereka bekerja keras mengembalikan suasana rumah seperti dulu supaya bisa membuatku kembali ceria dan sehat kembali.
__ADS_1
Milla dan Reyhan bahkan sering mampir bersama ke rumah untuk menjenguk dan menemaniku. banyak hal dalam satu bulan ini yang gak ku ketahui, mereka menceritakannya kepadaku.
Tapi kali ini mereka sangat penurut, gak seperti biasanya yang lebih suka meledek dan membantah permintaanku. Diantara senang tapi aku juga sedih melihat pemandangan seperti ini.
"Apaan sih Mill, akutuh sehat walafiat gini loh" kataku ketika Milla menarik nampan berisi cemilan yang ku bawakan untuk mereka.
"Aku gak bantuin kamu, aku cuma gak sabar aja makan cake buatan ur mom" bantah Milla.
"Jangan terlalu PeDe gitu lah Fei" ledek Reyhan.
Melihatku mengerucutkan bibir membuat mereka tertawa geli.
"Sudah sudah gausah di monyong monyongin gitu, gada Amri disini siapa yang mau cium itu bibir ? tembok ?" tiba tiba ucapan Reyhan merubah ekspresi wajahku yang tadinya kesal menjadi sedih karena teringat cowok yang suka sekali menghilang dariku.
"Apasih Rey" Milla menegur Reyhan yang keceplosan menyebut Amri didepanku.
"Gak sengaja aku lupa" jawab Reyhan
"Sudah gapapa ko, itu orang memang kayak hantu, suka muncul dan hilang tiba tiba" kataku sembari mencoba mengukir kembali senyum di wajahku.
"Tapi Fei ..." Tiba tiba Reyhan ingin mengatakan sesuatu tapi terhenti karena mata Milla yang melotot seakan mau keluar dari tempatnya.
"Tapi apa Rey, katakan aja gapapa, gausah takut sama tukang bola ini" kataku setengah bercanda membuat Milla memeteng leherku.
"Apa Amri sama sekali belum ketemu kamu?" rupanya rasa penasaran Reyhan membuatnya melanjutkan pertanyaan yang sempat tertunda tadi. Aku hanya menggelengkan kepalaku.
Memang setelah Sadar dan kembali pulang ke rumah. Hanya Amri yang belum memberiku kabar. Seperti kejadian sebelumnya saat aku pingsan dan dirawat dulu dia juga menghilang. Gak mau mati penasaran akhirnya ku introgasi Milla dan Reyhan yang ku yakini mengetahui sesuatu tentang hal ini.
__ADS_1
"Ayolah Mill cerita. Aku gak bisa kayak gini terus" rengekku didalam kamar bersama mereka berdua.
Saling pandang satu sama lain membuat mereka akhirnya mau menceritakan apa yang sudah terjadi selama aku gak sadarkan diri dirumah sakit.